Orang Muslim tak Ngangggur karena Sibuk Mengurus Islam

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust Abdul Ghofar Hadi mengatakan idealnya seorang muslim tidak pernah menganggur karena sangat sibuk dengan waktu produktif yang dihabiskan dalam rangka mengurus agama Alllah SWT semata-mata agar agar agama ini jalan dan agar agama ini tegak.

“Orang beriman pasti sibuk, tidak ada yang menganggur. Karena banyak pekerjaan orang beriman. Mengajak dan mengenalkan Islam, mengajarkan shalat, baca al Quran,” kata Ust Ghofar saat mengisi materi dalam acara Kajian Kelembagaan Bulanan Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Jum’at, 2 Dzulhijjah 1443 (1/7/2022).

Namun, sayangnya, masih banyak saudara-saudara muslim kita yang belum tahu apa itu syahadat, shalat dan membaca al Quran. Akibatnya, waktu dan kesempatan yang dimiliki habis begitu saja tanpa makna. Gersang rohaninya, tak tenang hidupnya, sempit hati, dan tak tahu apa orientasi hidup.

Beriman tentu ada risiko. Konsekwensi beriman pada Islam diantaranya akan memunculkan picingan mata dari orang tak suka bahkan dibenci setengah mati, sebab setiap zaman, kebenaran pasti selalu berhadapan dengab kebatilan.

Rasulullah sendiri merasakan ngerinya kebencian orang kafir itu, sebab beliau membawa sesuatu yang menakutkan orang orang yang melembagakan kemunafikan dan mempertontonkan kedzaliman.

“Konsekwensi orang beriman seringkali dianggap gila, pembohong, penyihir dan semisalnya dari orang-orang kafir. Itu adalah cara untuk pembunuhan karakter agar orang tidak percaya kepada apa yang didakwahkan oleh orang beriman,” katanya.

Muhammad yang sebelum mendapatkan wahyu digelari al Amin atau orang terpercaya karena kebaikan dan kejujurannya. Namun setelah mendapatkan wahyu, diangkat menjadi nabi, beliau langsung spontan dianggap gila, pembohong, dan penyihir.

“Padahal Allah menurunkan surat al Qolam, salah satu ayatnya menjelaskan bahwa dengan nikmat Allah, Muhammad tidak gila,” terangnya.

Ghofar menjelaskan, “nikmat” yang dimaksud dalam surah Al Qolam tersebut bukan materi dunia berupa harta bendawi, tahta dan wanita. Tapi nikmat Islam, iman, hidayah, dan al Quran yang merupakan nikmat terbesar untuk bahagia dunia akhirat.

Ia mengatakan, hari ini masih banyak orang yang menganggap “gila” kepada orang yang rajin dan taat beribadah. Dianggap gila karena aneh dan tidak sesuai dengan standar dan orientasi mereka. Padahal gila yang sesungguhnya adalah mereka yang tidak mengenal Allah. Padahal Allah yang memberikan hidup, imbuhnya.

“Salah satu nikmatnya di Hidayatullah adalah keberkahan dalam hidup,” katanya kemudian di hadapan seluruh mitra jihad pengurus yayasan, dosen, guru, karyawan, security, pengasuh, bapak-bapak dan ibu-ibu Kampus Hidayatullah Depok.

Dalam kesempatan menyampaikan materi taushiahnya tersebut, Ust Abdul Ghofar banyak mentransformasikan pengalamannya ber-Hidayatullah saat menjadi guru dan sejak menjadi mahasiswa hingga sekarang tugas ke Jakarta.

“Kenikmatan di Hidayatullah selain keberkahan hidup. Juga terantar menjadi taat. Arahan, program, peraturan dan lingkungan yang menumbuhkan kesadaran untuk taat. Baik dalam ibadah maupun dalam menjalankan tugas,” katanya.

Menurutnya, berbagai macam pengalaman tugas dari para dai Hidayatullah sangat menarik dan menggugah. Itu semua menjadi inspirasi dan motivasi untuk bisa menjalankan tugas.

Di akhir materinya, Ust Ghofar menegaskan bahwa konsekwensi nyata dari orang yang telah bersyahadat atau beriman, yaitu terus terpanggil untuk berbuat dan berkarya.

Kegiatan digelar di Masjid Ummul Qura setelah shalat Jumat hingga menjelang shalat Ashar ini dipandu oleh Ketua Departemen Dakwah Hidayatullah Depok Ust Muhammad Hafidz Bahar, MM.

Kegiatan kajian kelembagaan ini dilaksanakan rutin setiap bulan sekali. Pemateri bergantian didatangkan dari pengurus tingkat pusat Hidayatullah atau para senior dengan tujuan memberikan, pencerahan, motivasi, dan transformasi nilai-nilai kelembagaan kepada seluruh karyawan dan staf. (ybh/hio)