Wejangan ‘Tombo Ati’ Ustadz Abdul Latief untuk Peserta Scouting Skill Pramuka

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ustadz mengisi ceramah depan jamaah itu biasa. Ustadz mengajak bernyanyi itu tidak biasa. Itulah yang terjadi pada acara Pembukaan Scouting Skill Satuan Komunitas Pramuka Hidayatullah di Aula Prasmanan, Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Kamis, 27 Muharram 1444 (25/08/2022).

Momennya terjadi Ketika Sekretaris Badan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Ustadz Abdul Latief Usman, didaulat memberi sambutan pamungkas di hadapan ratusan peserta yang datang dari penjuru Indonesia.

Ia lalu meminta ada peserta yang tampil untuk maju ke depan. “Ayo, Pramuka harus siap selalu, tidak boleh menolak,” ucapnya memberi semangat.

“Suara saya sebenarnya lebih merdu, cuma kali ini minta anak buahnya saja yang maju duluan,” ucap ustadz Latief tersenyum sambil menyebut nama seorang instruktur yang hadir di ruangan.

Singkat cerita, Habib peserta asal Papua, didapuk menyanyikan lagu nasional berjudul “Dari Sabang sampai Merauke”.

Menurut ustadz yang juga perintis majalah nasional Suara Hidayatullah ini, sebagian masyarakat hanya bisa melagukan lirik-lirik di atas, dari Sabang sampai Merauke, namun masih sulit untuk melakukan apa yang dilagukan atau dinyanyikan tersebut.

“Alhamdulillah Hidayatullah sudah melakukan itu, berjajar pulau-pulau dan berjajar pula pondok-pondok pesantren Hidayatullah dari Sabang sampai Merauke,” lanjutnya.

Tak cukup, kali ini Ustadz Latief meminta Milza Taga, peserta dari Padang Sidempuan, Sumatera Utara menyanyi lagu “Tombo Ati”.

Pantauan Media Center @Ummulqurahidayatullah (MCU), seketika seisi ruang pecah dengan suara peserta yang tertawa. Rupanya Milza memberi isyarat mengaku tidak hafal lirik lagu tersebut.

“Pakai versi Indonesia saja, ustadz ya?” tawar Milza yang langsung diiyakan oleh peserta dan selanjutnya mereka lalu menyanyi ramai-ramai.

“Barusan kita dengar lagu Tombo Ati, apa yang berat? Lagu itu gampang, semua orang bisa hafal. Tapi laku itu yang tidak mudah,” terang Ustadz Abdul Latief menjelaskan perbedaan antara kata lagu dan laku.

“Harusnya semua kader dakwah di Hidayatullah sudah laku, dilakukan,” ucap ustadz sambil mengeja kata terakhir dengan pelan tapi tegas.

Selanjutnya, ustadz yang telah malang melintang berdakwah itu memberi penjelasan singkat dari beberapa lirik lagu tersebut. Membaca al-Qur’an, shalat malam, zikir, puasa, hingga berkumpul dengan orang-orang shaleh adalah sumber kekuatan spiritual seorang kader dakwah. Ia tidak boleh diabaikan apalagi sampai ditinggalkan.

“Saya harap tadi malam peserta tidak ada yang tidak shalat lail dan mulai nanti malam semua peserta shalat lail berjamaah di masjid,” nasihat ustadz mengingatkan.

Terakhir, Ustadz Abdul Latief Usman mengaku terharu sebagai orang tua melihat generasi penerus dakwah Islam yang terus bersemangat.

“Kalian semua datang dari Sabang sampai Merauke, inilah pemimpin masa depan Indonesia, yang antara luar dan dalamnya satu. Inilah senyum saya dan inilah senyum hati saya, tidak ada orangtua yang tidak terharu melihat ini,” ujarnya.

“Pemimpin masa depan bangsa yang ditunggu adalah yang luar-dalamnya sama. Bukan hanya pintar lagu tapi juga pintar laku, banyak yang pintar dan hafal lagu tapi tidak laku (mengerjakannya),” pungkasnya.* (Abu Jaulah/MCU)