Hidayatullah Lebarkan Jangkauan Dakwah ke Indragiri Hulu

Ketua Yayasan Hidayatullah Medan, H. Choirul Anam bersama bersama keluarga di Rengat Indragiri Hulu

Ketua Yayasan Hidayatullah Medan, H. Choirul Anam bersama bersama keluarga di Rengat Indragiri Hulu

Drs Choirul Anam mampir di Pekanbaru

Drs Choirul Anam mampir di Pekanbaru

Jembatan-di-Rengat

Jembatan-di-Rengat

Jembatan Pekanbaru

Lahan kebun karet tersebut / CHA

Lahan kebun karet tersebut / CHA

Tampak Masjid Agung Kisaran / CHA

Tampak Masjid Agung Kisaran / CHA

Jalan protokol menuju Rengat Indragiri Hulu

Jalan protokol menuju Rengat Indragiri Hulu

View samping sebuah  perputakaan umum nasional di pusat Kota Pekanbaru / CHA

View samping sebuah
perputakaan umum nasional di pusat Kota Pekanbaru / CHA

Hidayatullah.or.id — Setelah menyelenggarakan pernikahan 6 pasang santri Juli lalu, Pondok Pesantren Hidayatullah Medan akan mengembangkan sayap dakwahnya ke Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau.

Ada beberapa alasan mengapa Indragiri Hulu menjadi pilihan untuk pengembangan dakwah. Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Kyai Choirul Anam, menjelaskan bahwa salah satu yang mendorong pihaknya melebarkan sayap layanan dakwah Islam ke Indragiri Hulu karena salah satu mempelai putri dari 6 pasang pengantin yang diselenggarakan pada 1 Juli 2014 itu berasal dari daerah tersebut.

“Yang kedua, Kabupaten Indragiri Hulu adalah daerah yang strategis bagi pengembangan dakwah karena mayoritas masyarakatnya adalah etnis Melayu yang notabene Muslim tapi masih terbelakang sehingga membutuhkan pembinaan dan belum banyaknya lembaga pendidikan Islamnya,” kata Choirul Anam.

Ketiga, lanjut Choirul, Indragiri merupakan kabupaten yang relatif muda, dikelilingi daerah transmigrasi yang penuh dengan perkebunan karet maupun sawit sehingga masih banyak lahan kosong yang bisa dibeli untuk didirikan Pondok Pesantren atau lembaga pendidikan Islam lainnya.

Laporan Perjalanan
Kepada media ini, Choirul Anam membagi oleh-oleh perjalannya bersama rombongan kepada pembaca, dalam menelusuri dataran menuju Indragiri. Berikut ini laporannya:

========

Berangkat dari Medan Jam 21.00 WIB beberapa waktu lalu dengan dengan Kijang Krista yang kurang sehat karena radiatornya bocor sehingga harus istirahat setiap satu jam untuk mengisi air tambahan.

Tiga jam kemudian singgah di Kabupaten Kisaran, 3 jam berikutnya singgah di Kabupaten Labuhan Batu Utara, 3 jam lagi singgah di Kabupaten Labuhan Batu Selatan, tepatnya di Bagan Batu, setelahnya lagi singgah di Kabupaten Duri dan akhirnya sampai juga di Pekanbaru pada tanggal 29 Agustus 2014 jam 14.00 WIB.

Perjalanan yang begitu menyenangkan karena sepanjang jalan sangat ramai kendaraan, hampir tidak ada sepinya. Alternatif pilihan tempat istirahat (rest area) cukup banyak, sepanjang jalan banyak pompa bensin yang besar-besar dengan halaman parkir yang luas dilengkapi mushalla yang relatif besardengan MCK yang memadai airnya. Sepanjang jalan selalu ketemu masjid-masjid yang juga besar-besar dan cantik-cantik.

Kita bisa istirahat di daerah mana saja di masjid- masjid itu atau di pom bensin. Bahkan ada juga pom bensin yang dilengkapi dengan minimarket seperti indomart dan Alfamart, sehingga tidak susah mencari makanan ringan atau snack.

Di Sepanjang jalan kota-kota yang tidak terlalu jauh jaraknya satu sama lain juga senantiasa kita jumpai para penjual nasi atau warung makan dengan berbagai menu sajiannya yang beranekan ragam. Hanya sesekali memang kita akan menjumpai daerah perkebunan karet dan sawit yang sangat panjang membentang. Namun jalanannya tetap ramai dengan kendaraan yang beriring-iringan.

Sampai di Pekanbaru istirahat satu malam meluruskan tulang. Kami semua berjumlah 9 orang. Sebanyak 3 orang wanita dan 6 orang laki-laki, semuanya adalah satu keluarga bapak ibu, mertua, anak-anak dan menantu. Sopir bergantian di antara anak-anak muda ini.

Semalaman istirahat, lelah sudah hilang, kendaraan di service terlebih dahulu. Radiator harus dipatri terlebih dahulu untuk menambal yang bocor.
Sambil menunggu perbaikan mobil, kami meminjam mobil dari Pesantren Hidayatullah Pekanbaru untuk keliling kota melihat-lihat suasana kota Pekanbaru yang menurut saya cukup besar dan cukup rapi jalan-jalannya.

Jalan-jalan utama di Pekanbaru cukup lebar dan bersih, tata kota yang cukup rapi dibandingkan dengan Medan. Bangunan-bangunan cukup megah di sana sini. Termasuk yang menarik adalah masjid agungnya yang cukup megah dan design gedung perpustakaannya yang cukup eksentrik.

Pukul 11.00 selesai reparasi mobil, kamipun berangkat menuju kota Rengat, tepatnya di Kecamatan Pematang Rebah di Desa Bunga Tanjung. Desa transmigran yang penuh dengan kebun karet. Perjalanan ditempuh kurang lebih 4 jam dari Pekanbaru ke Rengat.

Jalanan cukup lebar dan banyak yang masih baru di hotmix, sungguh lancar dan menyenangkan. Sepanjang jalan melihat hutan karet yang rimbun menyenangkan. Kamipun berandai-andai kalau bisa punya kebun karet yang agak luas untuk bisa dijadikan operasional pesantren.

Sesampai di Rengat, kamipun istirahat selama 2 hari 2 malam sambil silaturrahmi ke masyarakat. Alhamdulillah sempat mengisi khutbah Jum’at di sana. Dan ini yang terpenting dan ini yang ingin saya sampaikan kepada para pembaca di website ini, bahwa kami ditawari oleh salah seorang tokoh masyarakat di sana sebuah lahan karet seluas 2 hektar agar dibeli untuk area pembangunan pondok pesantren di Rengat yang sangat membutuhkan lembaga pendidikan Islam layaknya Pesantren.

Kebun ini telah tertanami karet yang sudah menghasilkan. Tempatnya strategis hanya 2 km dari kota Rengat, letaknya di pinggir jalan lintas. Ini potensial bakal menjadi kota yang ramai nantinya dan tidak lama lagi itu terjadi menurut estimasi saya.

Hanya saja dari mana dananya? Nah, siapa tau ada diantara pembaca yang berminat untuk investasi akherat yang pahalanya mengalir sepanjang masa?. (cha/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.