Memaknai Hidup dalam Bernegara

Oleh Dr H Abdul Mannan

Oleh Dr H Abdul Mannan

KETIKA kita bisa membaca dan belajar dari setiap peristiwa hidup yang menimpa diri sendiri, maka itu adalah suatu anugerah terindah. Dan ketika kita bisa menyikapi serta memaknai peristiwa yang menimpa kehidupan orang lain, maka itu adalah suatu keuntungan besar. Semoga kita menjadi orang yang beruntung dan berguna bagi sesama.

Bagi orang yang memahami tentang hidup dan kehidupan pasti selalu membiasakan introspeksi diri, dan merefleksikan keyakinan untuk kemaslahatan bersama. Tetapi, bagi orang yang belum memahami tentang hidup dan kehidupan secara benar niscaya alam pikirannya diliputi oleh butir–butir pemikiran teror dan horor. Apakah mereka itu orang terpelajar atau tidak. Sebab, belum tentu orang terpelajar dapat memaknai hidupnya. Karena memaknai hidup berkaitan dengan nilai dan kualitas kemanusiaan.

Wilayah kemanusiaan dalam kehidupan sangat luas. Mulai dari sisi politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Semua aktivitas hidup dan kehidupan yang terekspresikan dalam ranah kemasyarakatan tidaklah terlepas dari ikatan norma-norma. Norma kehidupan yang lahir dari adat istiadat atau agama adalah nilai luhur suatu masyarakat atau bangsa.

Pancasila dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah satu wujud dalamnya pemikiran para pendiri negara Indonesia yang kita cintai ini. Sila pertama ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia diikat oleh ikatan religi sebagai dasar moral.

Sila pertama Pancasila inilah dasar pemerintah bersama rakyat Indonesia yang tidak menghendaki tumbuhnya ideologi komunis, yang menafikan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Peristiwa Madiun tahun 1948, peristiwa Gestapu 1965, adalah bukti bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia komitmen terhadap sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahkan, zaman regim orde baru, Pancasila dijadikan doktrin dengan nama “Hari Kesaktian Pancasila”, yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober.

Bagi kita yang berpikir wawas diri, penuh kekhawatiran, jika ikatan nasional yang kita beri nama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jadi berkeping atau disintegrasi. Tidak ada seorang pun yang mampu memprediksi sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kita boleh menyusun strategi antisipatif sebagai upaya manusia untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Musibah yang selalu ditakuti oleh orang yang wawas diri terhadap kebangsaan adalah jika terjadi disintegrasi bangsa dan negara. Wawas kebangsaan ini tentu memiliki berbagai alasan. Sebagai contoh terpisahnya Timor Timur menjadi negara Timor Leste. Pemerintah Indonesia telah menumpahkan anggaran tahunan untuk membangun sarana dan prasarana di Timor Timur, namun akhirnya investasi pembangunan itu lepas dan merdeka.

Boleh jadi kesatuan NKRI masih utuh, namun nasionalisme generasi muda anak bangsa sudah tergerus oleh liberalisasi ideologi. Bagaimana tidak. Anak para pejabat dan orang kaya di negeri ini banyak mengenyam pendidikan di luar negeri. Mereka tidak banyak mengenal ajaran Pancasila sebagai asas berbangsa. Mungkin saja mereka mendapatkan materi ajar tentang Pancasila secara teori.

Tapi, penghayatan Pancasila sebagai asas hidup dan kehidupan berbangsa tidaklah mendalam. Sebagai pengalaman, pendidikan P4 pada zaman regim Orde Baru yang telah menelan biaya besar dan bersifat intstruktif, hasilnya adalah masih banyak pejabat yang korupsi.

Pertanyaannya adalah apa jaminannya NKRI akan tetap utuh jika generasi pelanjut kepemimpinan bangsa ini tidak paham dan menghayati ajaran Pancasila? Strategi apa yang digunakan oleh Pemerintah dalam mengantisipasi terjadinya degradasi ideologi Pancasila? Pertanyaan–pertanyaan tersebut sengaja kita sampaikan pada hari Kesaktian Pancasia ini agar kita dapat berintrospeksi yang lebih dalam lagi tentang nasib NKRI kedepan.*

 

DR. ABDUL MANNAN, MM, Penulis adalah Ketua Umum PP Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.