Jenguklah Orang yang Sakit dan Doakan, Ada Limpahan Pahala

Hidayatullah.or.id – Inilah bagian dari adab Islam bagi seluruh Muslim, kecuali dokter karena kontak langsungnya dengan pasien. Namun, walaupun memiliki pengecualian berdasarkan pekerjaannya, dokter juga harus mematuhi adab ini karena termasuk dalam hak seorang Muslim atas Muslim lainnya. Untuk itu dokter dapat melakukan pekerjaannya dalam cara yang paling sempurna.

Membesuk orang sakit adalah kebiasaan Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam. Ini merupakan adab Islam karena Nabi memerintahkan untuk itu. Beliau juga membicarakan tentang kebaikan dan pahalanya.

Al-bara’ bin ‘Azib r.a. berkata, “Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kami melakukan tujuh hal dan melarang kami melakukan tujuh hal. Beliau memerintahkan kami menjenguk orang sakit.” (HR. Muttafaquh ‘alaih)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan berfirman pada Hari Kebangkitan, ‘Wahai anak Adam, Aku sakit dan engkau tidak menjenguk-Ku.’ Manusia akan bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menjenguk-Mu padahal Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?’ Allah akan berfirman: ‘Tidakkah kamu tahu hamba-Ku si fulan sakit tetapi kamu tidak menjenguknya, niscaya kamu akan menjumpai-Ku bersamanya? Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu dan kamu tidak memberi-Ku makan.’ Manusia akan berkata, ‘Wahai Tuhan, bagaimana aku bisa memberi-Mu makanan sedangkan Engkau Tuhan Seluruh Alam?’ Allah berfirman, ‘Tidak tahukah kamu kalau kamu memberikannya makanan, kamu akan mendapati itu bersama-Ku? Wahai anak Adam, Aku minta air kepadamu dan kamu tidak memberi-Ku air minum?’ Manusia berkata, ‘Wahai Tuhan, bagaimana aku bisa memberi-Mu minum sedangkan Engkau Tuhan Seru Sekalian Alam?’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku si fulan meminta air kepadamu dan engkau tidak memberinya air minum. Andai kamu memberinya minum kamu akan mendapati itu bersama-Ku.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Tsauban r.a. bahwa Nabi bersabda, “Barangsiapa menjenguk orang sakit, akan kekal di sebuah taman firdaus.’ Seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah taman Firdaus itu?’ Rasulullah menjawab, ”Buah-buahan surga.”

Disunnahkan bagi orang yang membesuk untuk berdoa bagi kesembuhan bagi si sakit. Mendoakan kesembuhan si sakit merupakan kata-kata yang baik dan sarana penghibur baginya, sekaligus mengingatkannya agar berharap kepada Allah.

Sebab, hanya Dia-lah yang mampu menyingkirkan penyakit dan memberikan kesembuhan. Dengan cara demikian orang yang sakit akan merasa lebih tenang.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa ketika Rasulullah menjenguk orang sakit, beliau berdoa,

“Hilangkanlah penderitaan, wahai Tuhan seluruh umat manusia. Sembuhkanlah ia, sebab Engkaulah Sang Maha Penyembuh. Tidak ada yang dapat menyembuhkan selain penyembuhan darimu, penyembuhan yang tidak menyisakan satu pun penyakit.”

Rasulullah memberikan teladan dalam menjenguk orang sakit. Entah orang yang menjenguk itu dokter, kerabat, atau teman, pengunjung tidak boleh mengatakan di depan pasien sesuatu yang bisa membuatnya ketakutan atau putus asa. Sebaliknya, mereka harus mengatakan hal-hal yang dapat menenteramkan atau membuatnya merasa bahagia.

Diriwayatkan bahwa Ummu Salamah r.a. berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Jika kamu menjenguk orang sakit atau orang yang sedang sekarat, katakanlah hal-hal yang baik. Karena para malaikat mengaminkan apa pun yang kamu katakan.” (HR. Muslim)

Islam menaruh kepedulian pada upaya menenteramkan orang sakit dan meningkatkan harapan bagi kesembuhannya. Ibnul Qayyim mengomentari sabda Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, “Untuk setiap penyakit ada penyembuhannya.”

Hadist tersebut memperkuat moral pasien dan dokter, serta mendorong mereka untuk mengupayakan penyembuhan agara orang sakit keputusasaannya berkurang.

Karena itulah kita memahami bagaimana Islam mengubah menjenguk orang sakit dari kunjungan sosial singkat menjadi penyembuhan spiritual yang membangkitkan semangat pasien dan menguatkan harapan kesembuhannya. Selain itu sebagai wujud kepedulian dan dukungan bagi pasien dan keluarganya. Wallahu a’lam.

_______
*) Sudirman, mahasiswa STAIL Hidayatullah Surabaya. Sumber referensi: Panduan Pengobatan Islami oleh Yusuf Al-Hajj Ahmad

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.