Wajah Baru Indonesia Setelah Wabah Berakhir

Sekalipun menimbulkan masalah, mulai dari kesehatan, ekonomi, dan sosial, bahkan politik dan hukum, wabah Covid-19 ternyata juga membawa serangkaian hikmah positif yang patut disyukuri dan dikembangkan menjadi identitas utama bangsa Indonesia dalam kehidupan ke depan. Mulai dari kebiasaan hidup sehat dan bersih, hingga kemampuan mengontrol diri untuk tidak panik, belanja berlebihan, senantiasa memupuk kepedulian, dan tentu saja, tidak meninggalkan rumah, kecuali urusan yang benar-benar penting.

Kesadaran dan langkah ke arah tersebut sangat penting, mengingat catatan terakhir, jumlah penularan Covid-19 sudah mulai melandai di DKI Jakarta (Tajuk Republika 29/4). Artinya, ada sejenis kegembiraan dan jalan pikiran banyak orang untuk segera menyudahi masa PSBB. Pada sisi lain, Selandia Baru juga telah mengakhiri lockdown. Perlu langkah komprehensif dan kebijaksanaan yang memadai agar Indonesia, terutama DKI Jakarta benar-benar sukses mengakhiri wabah Covid-19 secara tuntas.

Saat Selandia Baru mengangkat status lockdown, sang Perdana Menteri Jacinda Ardern menegaskan bahwa tidak ada lagi bagian dari masyarakat yang tidak terdeteksi perihal penularan virus Corona, sehingga langkah pemerintah mengakhiri lockdown dinilai tepat. Dalam kata yang lain, jika DKI Jakarta dan Indonesia secara umum bersiap memasuki masa akhir lockdown, harus dari sekarang memastikan standar pengukurannya, sehingga begitu dinyatakan dibuka, benar-benar negeri ini telah bersih dari wabah.

Pada saat yang sama, negara harus memastikan bahwa selama masa lockdown hal positif yang telah dijalankan oleh masyarakat benar-benar harus dipertahankan. Dengan demikian, begitu lockdown dibuka ada disiplin baru yang mewarnai kehidupan masyarakat sehari-hari. Mulai dari senantiasa menerapkan pola hidup sehat dan bersih hingga kedisiplinan dalam segala sisi. Ibarat kata, jangan sampai negeri ini tidak bisa belajar dari musibah yang pernah dialami. Begitu lepas dari keadaan sulit, ternyata tidak ada karakter positif yang terbentuk, sehingga tabiat dan kebiasaan menjadi tidak terkontrol lebih baik.

Hal ini sangat mungkin dilakukan, karena pada dasarnya manusia memiliki kerelaan yang tinggi jika sebuah regulasi diterapkan berdasarkan pada kebutuhan masyarakat itu sendiri. Ibn Khaldun mengatakan dalam Muqaddimah bahwa pada dasarnya manusia butuh terhadap kerjasama antara sesamanya untuk dapat hidup baik guna mendapatkan kebutuhan dasarnya, seperti memperoleh makanan dan dan mempertahankan diri.

Bahkan, sejatinya secara faktual kita dapati kenyataan menarik kala berita Korona menguasai ruang media massa dan media sosial, masyarakat satu sama lain, bahu membahu, gotong royong, saling bantu satu sama lain, sehingga kala pemerintah datang dengan regulasi yang walaupun katakan terlambat, masyarakat cenderung mematuhi, karena memang demi kepentingan dan kebutuhan bersama. Bahkan, para ulama, dai, dan ustadz juga menguatkan imbauan pemerintah agar masyarakat lebih memilih di rumah saja.

Dalam kata yang lain, Indonesia punya potensi menjadi negara yang lebih baik pascawabah ini. Tinggal bagaimana segenap elemen bangsa, mulai dari pemerintah, partai politik, ormas, organisasi kepemudaan, hingga lembaga sosial dan kemanusiaan, berpadu dalam sebuah kolaborasi menuju wajah baru Indonesia. Wajah yang menjadikan bangsa dan negara Indonesia benar-benar progressif dalam segala sisi kehidupan, mulai dari literasi hingga teknologi, dari tutur kata hingga tata negara.

Mental Manusia

Hadirnya virus Korona ini lagi-lagi memberikan sebuah penegasan bahwa yang pertama dan utama harus menjadi perhatian pemerintah dan negara di dalam mengelola bangsa dan rakyat ini adalah pembangunan manusia.

Membangun apapun tidak akan banyak berdampak signifikan dan komprehensif, jika manusianya dibiarkan terbelakang secara mental dan intelektual, bahkan spiritual. Seperti Italia, Amerika, dan negara-negara maju yang jumlah meninggal dunianya tinggi karena Korona bukan karena kurang fasiltas dan orang cerdas, tapi mental manusianya yang cenderung abai terhadap “bahaya” yang mengancam. Oleh karena itu perlu langkah penguatan mental bangsa Indonesia. Dan, Presiden Jokowi punya tanggungjawab mengenai hal ini, karena sempat dikenal dengan program hebatnya, “Revolusi Mental.”

Secara historis langkah ini yang dilakukan Jepang kala menghadapi situasi krisis karena bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Penguasa kala itu tidak bertanya berapa gedung yang utuh, tapi berapa guru yang tersisa. Lebih jauh kalau melihat sosok Nabi Muhammad SAW, prestasi utama yang tak mungkin disusul oleh pemimpin manapun di dunia ini adalah kemampuannya melahirkan manusia-manusia bermental tangguh dalam segala sisi kehidupan.

Jika Indonesia, katakanlah ingin menerapkan paradigma ekonomi dalam melihat wabah ini, dimana harus ada keuntungan besar yang diperoleh pascawabah, maka hal yang sangat utama dan pertama harus dilakukan adalah membuat kebijakan yang mendorong kemajuan mental manusia Indonesia, yang secara faktual, potensi perubahan menjadi lebih baik, mulai dari pola hidup bersih dan sehat, hingga kedisiplinan dan kepedulian, tidak sekedar ada, melainkan sangat nyata, besar, dan sangat mungkin jadi kekuatan dahsyat yang benar-benar mengubah wajah Indonesia pascawabah.

Apabila ini benar-benar dapat disadari dan menjadi sebuah kebijakan, maka seperti kata Ibn Khaldun dalam Muqaddimah, syarat kebangkitan telah benar-benar ada pada bangsa ini, yakni suburnya ilmu dan tegaknya peradaban yang mulia, manusiawi, dan tentu saja progressif. Ketika ini terwujud, maka bangsa Indonesia akan memiliki wajah baru pascawabah dan bahkan sangat mungkin menjadi rujukan dan kekuatan baru yang mencerahkan dunia, yang belakangan dilanda keguncangan lahir dan batin.

Semua ini butuh kebesaran jiwa pemangku kebijakan, sehingga semua unsur, elemen, dan komponen masyarakat benar-benar dilibatkan dalam setiap proses dan mekanisme pengambilan kebijakan, sehingga tidak melulu berdimensi ekonomi semata. Sebab, bagaimanapun manusia secara hakikat adalah makhluk sosial dan sekaligus makhluk yang berperadaban, makhluk yang butuh pencerahan ilmu pengetahuan bukan pertengkaran demi pertengkaradab*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.