Hidup yang Tidak (Pernah) Mati

Satu bukti kehebatan ajaran Islam adalah kemampuannya menjelaskan hakikat mendalam dari sebuah fakta kehidupan.

Bagi rasio umum, manusia disebut hidup hanya kala bisa bernafas di atas bumi. Karena itu, Barat memandang kehidupan itu ya hanya di dunia saja. Tidak ada alam kubur, apalagi Kiamat, hingga Surga atau Neraka.

Islam mengajak manusia menembus realitas empiris itu dengan melihat hakikat bahwa hidup tak sebatas di dunia, tetapi juga di alam kubur, bahkan akhirat. Oleh karena itu, apa hidup dan mengapa ada mati, Islam memiliki penjelasan yang sangat memadai.

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [68]: 2).

Bimbingan Islam pada ayat di atas mendorong manusia berpikir bahwa hakikat hidup adalah berbuat baik bahkan terbaik. Jadi, bukan sebaliknya, apalagi berorientasi hanya pada pemuasan hawa nafsu.

Bahkan, Islam memandang secara paradoks dimana ada orang hidup namun hakikatnya mati. Bernafas, berjalan, dan berpikir di atas bumi, namun substansinya telah mati.

Terkait hal ini kita bisa merujuk pada ungkapan Imam Hasan al-Bashri, bahwa orang yang mati (hatinya) walau hidup jasadnya akan mengikuti jalan-jalan keburukan. Sedangkan manusia dengan hati yang sehat dan hidup akan berupaya meninggalkan perbuatan dosa dan memohon ampun kepada Allah.

Dari dasar pandangan ini kita bisa melihat dengan tegas bahwa dampak dari ketidaktahuan manusia tentang hakikat hidup akan mendorong manusia mati hati dan mati hakikat dirinya. Sebaliknya, kala seseorang mengenal konsep hidup yang sejati dalam Islam, maka selamanya ia akan hidup.

Mari kita telusuri perlahan-lahan. Ketika kita mempelajari beragam ilmu, maka kita akan temukan nama banyak ulama, seperti Imam Syafi’i, Al-Ghazali, Ibn Sina, bahkan sampai Buya Hamka. Mengapa mereka masih hadir dalam diskusi manusia yang secara masa teramat jauh? Tidak lain karena semasa hidupnya berkarya untuk terus hidup.

Secara psikologis, ketika ada di antara orang yang kita kenal bahkan cintai dan sayangi meninggal dunia, maka seketika kita akan teringat akan perilaku dan akhlaknya yang mulia, untaian katanya yang indah dan memberi makna.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia hakikatnya harus hidup untuk selamanya. Caranya pun telah dijabarkan dalam Islam bahkan diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW, sahabat dan para ulama. Namun, siapakah yang benar-benar mau memikirkannya?

Imam Ibn Qudāmah memberi nasihat penting mengenai dunia ini.

“Ketahuilah! Semoga Allah merahmatimu. Dunia ini adalah “ladang” akhirat, tempat keuntungan berniaga, tempat mengumpulkan bekal, dan menumpuk barang-barang yang menguntungkan. Orang yang lebih dahulu mendapatkannya dialah yang menang. Di dalamnya orang-orang yang bertakwa sukses, orang-orang jujur menuai kejayaan, orang-orang yang beramal memanen hasil, sementara orang yang berleha-leha mereguk gelas kerugian yang tiada tara.”

Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa bernafasnya diri saat ini, di dunia ini, adalah sebuah kesempatan sekaligus pilihan. Apakah kita akan mengisinya dengan amal terbaik yang menjadikan diri hidup yang tak (pernah) mati. Atau kita jadikan hidup ini sebatas hanya kepastian untuk mati yang selamanya dan hidup kembali dalam nestapa?

Satu hal yang pasti, Rasulullah SAW telah berikan bimbingan, bahwa jika ingin hdiup selamanya maka milikilah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat serta anak-anak yang sholeh dan sholehah yang mendoakan kedua orangtuanya. Jika ini tergapai, insya Allah, bahagia akan terus hadir dalam hidup yang tak (pernah) mati. Insha Allah.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.