Kembali dan Terus Membaca untuk Dakwah Penuh Kasih

SAAT itu masih awal pagi ketika saya sedang bersiap untuk menarikan jemari untuk jejak pikiran dalam tablet yang setia menemani hari-hariku, Kamis (4/2) . Namun, tiba-tiba, Ustadz Asih Subagyo menelponku.

“Mas Imam, datang ya, ke Cipinang, sebelum dhuhur,” kata beliau dengan semangat. Saya pun tidak menjawab selain dua kata, “Siap, Ustadz.”

Pendek kata, tepat jam 10.00 WIB saya sudah tiba di ruangan yang baru saja direnovasi di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta Timur itu.

Begitu melihatku berjalan, Ustadz Asih melambaikan tangan sebagai tanda, di sini tempat kita silaturrahim, berbincang dan berbagi cerita. Saya pun mendekat dan duduk di depan beliau yang memang tak pernah mengalami penurunan semangat serta optimisme.

Baca Aturan

Singkat cerita, seringkali masalah yang tampak runyam di permukaan itu disebabkan kita sendiri tidak pernah atau tidak mau membaca aturan yang sudah ada. Akibatnya, perasaan yang dominan dan rasa enak tidak enak. Padahal, sebuah aturan sudah semestinya ditegakkan.

“Bagaimana mau ditegakkan kalau dibaca saja tidak. Mungkin dibaca, tapi belum paham. Di sini baru bertanya, berkonsultasi,” tegas Ustadz Asih.

“Masih ada orang yang bertanya perihal A, B, dan C, tapi tidak membaca regulasi yang ada. Maka jawaban saya sederhana, saya tanya balik, sudah baca belum. Katanya, belum! Saya langsung sampaikan, baca dulu, kalau tidak paham baru konsultasi,” imbuh beliau dengan gaya khasnya.

Hidayatullah Institute

Dalam hati saya berpikir, benar sekali, kerapkali kita terseret keadaan lantas lupa untuk mendalami dengan benar regulasi yang telah ditetapkan. Di sini tradisi membaca dan terus membaca harus benar-benar dihidupkan.

Dan, Ustadz Asih tidak sedang berbicara regulasi sekedar dibaca, tetapi juga gagasan harus dilandasi oleh sebuah naskah ilmiah. Hidayatullah Institute misalnya, adalah satu bentuk bukti terkini dari beliau, bahwa idealnya sebuah gagasan dilandasi naskah ilmiah.

“Saya dididik oleh Ketum kita, Ustadz Nashirul. Bahwa gagasan ini (Hidayatullah Institute) harus dilandasi naskah ilmiah. Maka saya borong beberapa buku yang perlu jadi referensi, dibaca, didalami, hingga akhirnya jadilah uraian ilmiah dalam masalah ini,” urainya.

“Saya baca ini semua, saya amati perlahan-lahan. Alhamdulillah akhirnya jadilah konsep ini (Hidayatullah Institut),” tegasnya.

Spirit Pemuda

Esok harinya, tepatnya hari ini (Jumat, 5/2) saya menyambar satu buku di rak buku yang ada di rumah, “Mencetak Kader” judulnya.

Saya pun membuka halaman demi halaman. Dari bagaimana tradisi Ustadz Abdullah Said, kesan Ustadz Fauzil Adhim terhadap Ustadz Abdullah Said, hingga Latar Belakang Pesantren Hidayatullah didirikan.

Dalam hal tradisi, Ustadz Abdullah Said telah memberikan keteladanan luar biasa dalam hal membaca. Beliau adalah kutu buku yang dalam setiap hari, dalam setiap perjalanan tidak mencari kecuali buku-buku yang bisa dilahap. Ini berarti, kader muda Hidayatullah idealnya seperti ini, minimal.

Kemudian, beliau juga selalu ceramah alias dakwah. Dan, ceramahnya, kata Ustadz Fauzil Adhim memang hadir dari pancaran jiwa, bukan sebuah retorika yang dilatih sedemikian rupa. Semangat yang menyala-nyala itu memang lahir dari pancaran jiwanya.

Lebih dari sekedar ceramah, semangat Ustadz Abdullalh Said dalam dakwah adalah kaffatan linnas dan rahmatan lil ‘alamin. Ini berarti, kader muda Hidayatullah mesti memahami bahwa lembaga ini adalah sarana untuk kita berlatih dan melatih diri berkasih sayang kepada segenap umat manusia.

Dan, ada satu ungkapan penting dari Ustadz Fauzil Adhim perlu kita renungkan, yang tertuang dalam buku Mencetak Kader halaman 342.

“Hari ini setiap pertemuan masih disertai dengan doa yang tulus, sambutan yang bersahaja dan penuh kegembiraan, serta rumah-rumah yang senantiasa terbuka seperti menyambut anak kandungnya yang lama tidak pulang. Tetapi saya tidak tahu seperti apa Gunung Tembak dua puluh tahun yang akan datang.”

Saya pun terkejut dengan ungkapan di atas. Bahwa tidak ada jaminan apa yang telah diperjuangkan oleh Ustadz Abdullah Said akan terus terjaga dengan baik.

Wajah Penuh Kasih dan Sayang

Di sinilah lagi-lagi, generasi muda lembaga ini akan sadar dan antusias dengan masalah ini hanya jika mereka mengetahui, membaca, dan menyampaikannya kepada yang lainnya. Jika tidak, kepala yang banyak diisi informasi sampah di era digital akan menjadikan kita salah menempatkan maslaah utama dengan masalah yang sebenarnya sama sekali bukan masalah.

Terakhir dan ini sangat penting bagi segenap kaum muda Hidayatullah untuk dipahami yakni latar belakang didirikannya Pesantren Hidayatullah yang relevansinya sangat dekat dengan tugas utama Pemuda Hidayatullah dalam dakwah keummatan.

Pertama bahwa posisi dan kualitas umat Islam di seluruh dunia sangat tidak menguntungkan. Insha Allah ini akan kita jawab dengan langkah nyata dengan gelaran ToT instruktur LTC pada medio hingga akhir Februari tahun ini. Semoga Allah mudahkan.

Kedua, harga dan nilai benda terlalu tinggi melebihi segalanya, jadi ancaman serius. Ini adalah seperti ungkapan Nabi, banyak dari umat ini yang terkena virus wahn (cinta dunia dan takut mati).

Ketiga, Dekadensi moral yang begitu bengis menjadi ancaman generasi muda.

Tiga tantangan itu masih berlangsung hingga hari ini. Dan, Pemuda Hidayatullah akan sukses tampil sebagai problem solver manakala berhasil membangun tradisi membaca, berdakwah dan menjadikan segenap rantai kegiatan di lembaga ini sebagai sarana menajamkan semangat untuk berkasih sayang kepada segenap umat manusia.

Kata Ustadz Abdullah Said, “Sama sekali kita tidak boleh menganggap lawan hanya karena gara-gara dia dan mereka tidak dalam satu kelompok tertentu. Dimanapun dia berada, dia manusia dan kita harus menganggap dan melihat mereka sebagai objek dakwah kita, objek untuk turut mendapat dan kebagian apa yang ada di dalam Islam. Dan berbicara tentang apa yang ada di dalam Islam, sesuatu yang sifat dan bentuknya adalah rahmatan. Sekali lagi rahmatan. Kasih dan sayang.”

Jadi, mari pupuk tali persaudaraan di antara kita. Perkuat budaya membaca yang memang satu sisi perintah Islam dan sisi lain telah diteladankan oleh pendiri lembaga ini. Kemudian, terus berlatih bagaimana berkasih sayang kepada sesama kader dan anggota, lalu kita pancarkan ke luar, berkasih sayang dengan segenap ummat manusia. Allahu a’lam.

IMAM NAWAWI, penulis adalah Ketua Umum Pemuda Hidayatullah