Allah Sang Pemberi Rezeki

BILA Anda pergi ke Taman Safari atau Kebun Binatang, di sana terdapat beraneka ragam hewan. Masing-masing hidup dalam kerangkeng atau area tertentu yang membatasi gerak dan aktivitasnya.

Oleh karena itu, wajar jika mereka sangat bergantung kepada manusia untuk kelangsungan hidupnya. Jutaan rupiah dibelanjakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pangan, kesehatan, dan perkembangbiakan mereka.

Di sisi lain, film-film dokumenter buatan –misalnya – BBC Channel atau National Geographic menyuguhkan pemandangan berbeda.

Di padang-padang stepa dan sabana Afrika terdapat kawanan jerapah, antelop, badak, gajah, aneka jenis burung, dan beragam satwa lain yang masing-masing beranggotakan ratusan sampai jutaan individu.

Mereka hidup dan berkembang di alam bebas tanpa seorang manusia pun yang bertanggung jawab mengurusnya.

Pernahkah terpikir, bahwa untuk menghidupi beberapa ekor gajah di Kebun Binatang diperlukan sekian juta rupiah per bulan, lalu senilai berapa trilyun yang Allah belanjakan untuk merawat ribuan ekor gajah di Afrika? Ini baru satu spesies, bagaimana dengan ribuan spesies lain yang juga hidup di sana?

Bila Anda memiliki kolam atau akuarium, berapa biaya yang Anda anggarkan untuk merawatnya? Semakin besar ukuran akuarium atau kolam jelas semakin besar pula duit yang mesti disiapkan.

Belum lagi jika ia berisi ikan-ikan langka dan perlu perawatan khusus. Di saat bersamaan Allah memiliki laut-laut yang menggenangi duapertiga permukaan bumi, lalu masih ditambah jutaan sungai, rawa, dan danau yang tersebar di seantero dunia.

Jika seluruh perairan itu kosong tak berpenghuni, pasti simpel. Namun, faktanya tidak demikian. Entah berapa juta spesies flora-fauna yang Allah letakkan di sana, sebab dari tahun ke tahun selalu ada penemuan spesies baru, sementara masih banyak bagian samudera dan rimba yang belum terjelajahi sekaligus menyisakan misteri-misteri tak terungkap.

Jelas bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki. Karunia-Nya melimpahi segenap makhluk, bahkan sebelum mereka meminta dan tanpa mereka sadari. Maka, celakalah manusia yang meminta kepada Tuhan-tuhan selain Allah, sebab permohonan mereka pasti sia-sia belaka.

Tersesatlah mereka yang mempersembahkan sesajian kepada “penguasa” Laut Selatan atau penunggu tempat keramat ini dan itu. Dalam hal ini, sangat wajar bila Allah berulang-ulang mempertanyakan logika kaum musyrikin itu, bagaimana mereka bisa meminta rezeki kepada yang lain padahal hanya Allah-lah sumber rezeki yang sesungguhnya!?

Allah berfirman:

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun, sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang?! Berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun mereka itu tidak dapat memberi pertolongan. Jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (yakni, berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah mereka dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka atau pun kamu berdiam diri. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar! Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu bagi Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku. Maka, (jika kamu bisa melakukannya) jangan memberi tangguh kepadaku!” (QS. Al-A’raf: 191-195)

Maka wajar bila Rasulullah pun pernah mendorong kita untuk mencintai Allah karena Dia telah menganugerahi makanan dan minuman.

Beliau bersabda,

“Cintailah Allah karena Dia telah memberi makan kalian dari nikmat-nikmat-Nya! Cintailah aku karena kecintaan (kalian) kepada Allah! Dan, cintailah Ahli Baitku karena kecintaan (kalian) kepadaku!” (Riwayat at-Tirmidzi, al-Hakim, dan al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab. Dinyatakan shahih oleh al-Hakim dan disepakati adz-Dzahabi).

Coba pikirkan, andai Allah menjadikan seluruh ibadah kita sebagai harga untuk sebagian dari nikmat-Nya, pasti tidak cukup.

Lalu, bagaimana orang-orang kafir dan musyrik akan membayarnya? Mustahil! Mestinya, jika ibadah dan iman adalah faktor di balik rezeki, tentunya hanya kaum beriman yang dilimpahi anugerah-Nya. Tetapi, tidak demikian faktanya.

Semua makhluk di alam raya ini Allah tanggung rezekinya, tanpa memandang keimanan maupun kekafirannya, bahkan tidak peduli apakah dia manusia, jin, hewan, maupun tetumbuhan!

Keliru pula anggapan sebagian orang bahwa keimanan seorang muslim sia-sia hanya karena mereka melihat sebagian besar kaum muslimin hidup miskin dan serba kekurangan. Hewan yang tidak mengenal syariat pun diberi rezeki, sehingga rezeki adalah manifestasi sifat kasih-Nya teramat luas, tidak berhubungan langsung dengan iman maupun kekufuran.

Semua manusia – siapa pun dia – telah dituliskan bagian rezekinya masing-masing, sejak ia masih dalam perut ibunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa ketika malaikat diutus untuk meniupkan ruh ke dalam janin, ia sekaligus ditugasi menuliskan empat hal bagi sang calon manusia itu, yakni: amalnya, rezekinya, ajalnya, dan celaka atau bahagia. (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud).

Jadi, Allah-lah Sang Pemberi Rezeki. Mintalah kepada-Nya! Dia telah menanggung penghidupan seluruh makhluk tanpa sedikit pun menelantarkan mereka. Maka, samasekali tidak sulit bagi-Nya untuk memenuhi permintaan Anda seorang! Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar