Mencari Negeri Utopia

Oleh Mujahid M. Salbu

UTOPIA merupakan khayalan tentang sebuah sistem sosial dengan kualitas-kualitas yang sangat didambakan ataupun nyaris sempurna. Kata ini diciptakan dari bahasa Yunani oleh filsuf Thomas More yang menjadi judul bukunya, Utopia.

Para filsuf berasumsi ada negeri yang sama dengan surga yaitu negeri Utopia yang selalu diidam-idamkan. Negeri Utopia sudah bergaung, bahkan sejak abad ketujuh sebelum Masehi bergulir.

Saat itu Hesiodos, seorang penyair Yunani yang hidup di separuh bagian dari abad kedelapan Sebelum Masehi, sangat mendambakan dirinya untuk bisa pergi ke Utopia.

Banyak yang mendambakan, atau setidaknya berandai-andai untuk bisa pergi ke sana. Mulai Hesiodos, Plato, Socrates, Aristoteles, Thomas Moore, sampai Karl Marx.

“Di Utopia tidak ada perang!” Kata Plato, “Perang muncul karena ketamakan, ketamakan muncul karena ada rasa kepemilikan, dan Utopia tidak memiliki itu!”, teriak Plato berapi-api sambil disaksikan muridnya.

Begitulah, kisah tentang negeri antah-berantah yang katanya digdaya, Utopia dielu-elukan tetapi mulai sirna seiring berkembangnya zaman. Ada yang mengklaim Amerika Serikat sebagai negeri Utopia yang ternyata penuh masalah dan sangat rapuh.

Kapitalisme dan materialisme di Amerika justru melahirkan sosok seperti Al Capone yang dermawan dan kerap membantu rakyat yang tidak mampu tetapi dari harta yang bersumber dari kejahatan.

Sementara konsep Islam melahirkan sosok seperti sahabat Usman bin Affan yang sangat dermawan tetapi hartanya didapatkan dari aktivitas bisnis yang legal, dalam Islam, materi bukan orientasi utama, sehingga tidak segan dikeluarkan untuk perjuangan dan jalan kebaikan lain, misalnya saat perang Tabuk.

Dalam perang tersebut, para sahabat berlomba menyumbangkan hartanya untuk keperluan perang. Utsman bin Affan saat itu menyumbangkan 950 ekor unta dan 50 ekor kuda serta uang tunai sebesar 1.000 dinar.

Jika disesuaikan dengan harga zaman sekarang di mana harga unta adalah sebesar Rp 12-32 juta per ekor, harga kuda perang Arab sebesar Rp1,2 miliar, dan nilai dinar (emas 4,25 gram) adalah Rp 4 juta, itu artinya, dalam perang Tabuk, Utsman menyumbang tak kurang dari Rp 80 miliar.

Di akhir-akhir hidupnya, Al Capone menderita kerusakan mental dan fisik akibat neurosifilis (infeksi pada sistem saraf pusat) stadium akhir, ia meninggalkan harta berupa tumpukan emas yang misterius, sementara sahabat Usman bin Affan wafat sebagai syahid dan meninggalkan warisan harta yang hingga hari ini masih dirasakan manfaatnya oleh kaum muslimin.

Surga dan Imajinasi Para Filsuf

Utopia adalah penggabungan dunia nyata dan imajiner, ia berada dalam rentang antara dua posisi ini. Di dalam buku Utopia disebutkan masyarakat bekerja dan beraktivitas tanpa ada kejahatan, tetapi buku ini tidak dapat menawarkan cara di mana masyarakat yang ada dapat ditransformasikan menjadi model utopis.

Karl Marx mengatakan tatanan masyarakat komunis sebagai titik sempurna sejarah yang tak terhindarkan dan merupakan surga di muka bumi. Frans Magnis Suseno menulis dalam sebuah artikel, “Komunisme memang gagal. Gagal secara fenomenal. Terutama komunisme Soviet. Komunisme Soviet gagal membangun suatu sistem ekonomis yang bisa memenuhi harapan rakyatnya dan karena itu kehilangan daya tarik. Tahun 1989 secara mengejutkan kekuasaan Soviet di Eropa Timur runtuh dan dua tahun kemudian Uni Soviet sendiri runtuh.” (kompas.id, 10 Juli 2020)

Sampai wafat, Hesiodos, Plato, Socrates, Aristoteles, Thomas Moore, sampai Karl Marx tidak berhasil menemukan negeri Utopia yang didambakannya, mereka berbaris di jalan buntu tentang sebuah harapan tatanan sosial yang ideal.

Mereka menutup usia dengan warisan pemikiran tentang tatanan ideal yang menguap ke langit dan bergerak liar memasuki sisi gelap modernitas.

Surga Bukan Imajinasi

Islam tidak masuk di antara pragmatisme dunia versus idealisme filosofis yang rumit dan penuh imajinasi. Sebab, negeri Utopia yang dimaknai surga yang terletak di dunia bukanlah sesuatu yang imajiner dalam Islam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis:

‎أن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة

“Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga di akhirat”.

Allah Ta’ala juga menyebutkan dalam firman-Nya,

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).

Surga tersebut adalah manisnya iman; ketenangan hati dalam ibadah dan muamalah, beriman kepada Allah, beramal shalih dan ridha dengan takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan.

Surga atau negeri Utopia akan hadir di hati seseorang ketika dia dekat dengan Rabb-Nya dan ikhlas serta mengikuti petunjuk-Nya.

Utopia hadir di dalam gerakan-gerakan sholat wajib maupun sunnah, mewujud dalam tahajjud, bacaan al Quran, dzikir, sholawat dan munajat doa juga dalam derap langkah kebaikan lainnya sebagai hamba dan khalifah.

Di harakah Hidayatullah pintu gerbang negeri Utopia atau surga dunia terdapat pada Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) yang mencakup enam hal, yakni memakmurkan masjid dengan cara shalat fardhu berjamaah dan shalat sunnah rawatib, membaca kitab suci Alquran setiap hari minimal satu juz, rutin mendirikan shalat malam, membaca wirid pagi dan petang dan dakwah fardiyah setiap hari Sabtu atau hari lain sepekan sekali.

Memang tidak selalu bisa menghadirkan surga dalam ibadah dan muamalah, karena karakter iman yang fluktuatif, tetapi seorang muslim atau kader setidaknya sudah mengetahui pintu gerbang untuk memasuki surga dunia maupun surga akhirat.

Potensi konflik sosial bisa diredam dengan mengeliminir penyakit-penyakit hati seperti pamer (riya’), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).

Penyakit hati dapat tereliminir ketika seseorang telah berikhtiar mendekatkan diri kepada Rabb dan merasakan manisnya iman. Ketika jiwa dan hati sehat dan muthmainnah (tenang atau ikhlas) maka setiap titik dalam peta dunia, setiap tempat yang dipijak di muka bumi adalah surga.

Jika surga versi filsuf dan pengikutnya bersumber dari akal maka surga bagi orang beriman bersumber dari hati. Wallahu a’lam.

*)Mujahid M. Salbu, penulis adalah pengurus DPW Hidayatullah Kepri