Sekilas Dzurriyah Rasulullah (Almarhumah) Syarifah Aida “Khirid”, Istri Pendiri Hidayatullah

Almarhum Ustadzah Hj. Aida Chered (Foto: Abdus Syakur/ Hidayatullah.com)

Oleh Habib Abu Umar*

DI sela-sela ceramah takziyah atas wafatnya istri Pendiri Hidayatullah, Ustadzah Aida Chered, Ustadz Amin Mahmud –hafidzahullah– mengingatkan jamaah agar tidak salah baca ketika menyebut kata Chered.

“Bacanya khered, bukan cered,” tegas sang ustadz yang disampaikan bakda shubuh di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Hidayatullah UmmulQura, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu, 11 Shafar 1443 H(18/09/2021).

Agaknya beliau mengingatkan hal itu lantaran masih ada sebagian santri bahkan ustadz yang membaca “cered“, bukan “khered“.

Kesalahan baca terhadap kata “Chered“, boleh jadi karena penutur telah mendengar dari orang lain yang dianggap kredibel, atau sekadar menebak-nebak dengan mentransliterasi sendiri. Persoalan ini perlu diseriusi, karena kesalahan transliterasi ini bisa mengakibatkan perubahan arti kata, atau menghilangkan artinya. Dan ini merupakan salah satu problematika transliterasi di Indonesia.

Memang terdapat kecenderungan di sebagian masyarakat untuk mentransliterasi huruf huruf Arab semampunya saja, padahal sebenarnya pemerintah sudah menerbitkan Pedoman Transliterasi melalui Kementerian Agama tahun 1987, agar menjadi acuan dalam transliterasi huruf huruf Arab tersebut.

Pertanyaannya, jika kata “Chered” berasal dari bahasa Arab, maka bagaimana penulisan aslinya, dan apa arti “Chered” itu sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya teringat dengan sebuah buku berjudul “Al-Mu’jamul Latif”. Sebuah buku unik karangan Muhammad Asy-Syatiry, dicetak tahun 1986 di Arab Saudi. Buku itu mencatat sekitar 180 fam keluarga Arab di Hadramaut yang jalur nasabnya terhubung ke Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Salah satu dari fam keluarga itu adalah keluarga Chered atau khered (baca: Khirid). Menurut Asy-Syatiry bahwa bacaan atau penyebutan yang benar terhadap kata Khirid adalah Kharid, bukan Khirid. Hanya saja kebanyakan orang-orang di Hadramaut lebih terbiasa menyebut Khirid.

Keluarga Khirid adalah keturunan Alawi Khirid bin Muhammad Humaidan bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah Ba Alawi. Gelar Khirid (baca: Kharid) berasal dari nama sebuah gua di sebuah gunung di lembah Aqrun, Yaman Utara.

Alawi Khirid menjadikan gua itu sebagai tempat bertahannuts selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Kegiatan tahannuts itu bertujuan agar dirinya lebih konsentrasi mengerjakan dua jenis ibadah, yaitu tafakkur hati dan pikiran serta ibadah ibadah amaliyah jasmaniyyah.

Lebih jauh mengenai nasab keluarga Khirid, sesungguhnya kelanjutan nasab itu tersambung kepada Alawi Al Gayur bin Al Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali al-Uraidhy bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib; Suami Fatimah bin Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ibunda Aida Khirid sesungguhnya satu di antara anak cucu keturunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Almarhumah Aida adalah syarifah ahlul bait Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam dirinya ada unsur Khadijah, Fatimah, Ali bin Abi Talib radhiallahuanhum ajma’in, sosok-sosok sabar, zuhud, tawadhu, serta kokoh dan tegar dalam mengemban amanah perjuangan Islam.

Mencintai ahlul bait adalah bagian dari prinsip ajaran ahlus sunnah wal jama’ah. Sehingga Abu Bakr As Siddiq mengatakan:

“Demi Allah, aku lebih menyukai menyambung tali silaturahim dengan kerabat Muhammad daripada dengan keluarga sendiri”. (H.R Muslim, No 1759)

Selamat jalan Ibunda Aida menuju surga-Nya. Selamat berjumpa dengan moyangmu yang termulia, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, berjumpa dengan orang -orang shaleh yang engkau cintai di keabadian sana. Terima kasih telah menjadi teladan yang baik buat kami semua. Terima kasih!*

Penulis adalah dai di Balikpapan