Cedera Mental Akibat Budaya Instan

Seorang teman pernah bertanya kepada guru kami, tentang cara cepat belajar bahasa Arab dan membaca kitab kuning, atau disebut juga kitab gundul. Beliau tampaknya kurang berkenan dengan pertanyaan itu, namun alih-alih marah beliau justru menjawabnya dengan bergurau dan aksen yang lucu, “Iya kalau mulutmu itu karung, semua ilmu bisa langsung dimasukkan. Blus, blus, blus…!!” Setiap kali berkumpul dengan sesama alumni dan mengenang kembali peristiwa itu, kami semua tertawa.

Beliau benar, bahwa manusia membutuhkan proses untuk segala sesuatu. Mereka harus bersabar dan rela menempuh kesulitan-kesulitan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Sebenarnyalah, tidak ada yang instan di dunia ini. Bila pun ada, maka kita harus membayar dengan mengorbankan kualitas atau menghadapi masalah-masalah lain di kemudian hari. Sebab, sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia diciptakan untuk menjalani hidup dalam rangkaian kerja keras dan kelalahan-kelelahan.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. al-Balad: 4).

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Hasan al-Bashri berkata, “Dia (manusia) harus berusaha keras untuk mensyukuri kesenangan-kesenangan dan bersabar atas kesulitan-kesulitan, sebab ia tidak akan bisa lepas dari salah satunya; berjuang menghadapi musibah-musibah dunia dan kesukaran-kesukaran akhirat”.

Menurut Ibnu Qutaibah, maknanya adalah: “Dia sangat didominasi oleh dan harus berjuang keras menghadapi urusan-urusan dunia dan akhirat.” (Tafsir Zaadul Masir, VI/160). Penafsiran ini juga yang dipilih oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari.

Sejak masih berwujud sperma, satu sel yang kelak tumbuh menjadi janin harus berjuang mencapai sel telur, bersaing dengan ratusan juta sel sejenisnya. Kelahirannya pun tidak melalui proses dan jalan yang mudah.

Di saat bersamaan, ia pun tidak dilahirkan dalam keadaan mahir, namun harus belajar mengontrol anggota-anggota badannya satu demi satu, dan berupaya keras mensinkronkannya satu sama lain.

Ketika gigi pertamanya hendak tumbuh, gusinya terasa sangat gatal dan bahkan seluruh tubuhnya pun terserang demam. Demikianlah, kehidupannya terus berlanjut, dan satu demi satu tantangan harus ia retas sebelum berhasil meraih keinginan-keinginannya.

Namun, seringkali manusia tidak sesabar itu. Sudah menjadi sifatnya pula untuk terburu-buru, suka memaksakan sesuatu sebelum waktunya.

Allah berfiman,

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.” (QS. al-Anbiya’: 37).

Juga firman-Nya yang lain,

“Dan manusia memohon untuk keburukan sebagaimana ia memohon untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. al-Isra’: 11).

Terkait ayat dalam surah al-Isra’ tersebut, Imam ath-Thabari berkata, “Manusia suka memohonkan keburukan atas dirinya, anaknya dan hartanya dengan berkata: ‘Ya Allah, hancurkan dan laknatlah dia!’ pada saat jengkel dan marah; sama dengan (ketika) ia meminta kebaikan, seperti ia memohon kepada Tuhannya agar dikaruniai kesehatan dan keselamatan pada dirinya, hartanya, dan anaknya. Allah berfirman: ‘seandainya permohonan keburukan atas dirinya, hartanya dan anaknya itu segera dikabulkan sebagaimana permohonannya atas kebaikan, pasti ia akan binasa. Akan tetapi, dengan karunia-Nya, Allah tidak mengabulkan permintaannya itu.”

Begitulah manusia. Dalam ketergesaan, akal sehatnya sering macet dan malah mengharapkan sesuatu yang sebenarnya sangat buruk. Tidak cukup sampai di situ, ia juga bersikeras agar harapannya itu terwujud segera. Lalu, tiba-tiba ia terkepung sejuta penyesalan ketika menyadari akibat-akibat buruk dari apa yang semula ia harapkan sendiri.

Sayangnya, sifat inilah yang mengemuka dewasa ini. Kita menyebutnya sebagai “budaya instan”. Semula, istilah ini identik dengan makanan atau minuman yang langsung bisa dinikmati tanpa perlu dimasak lama, terutama mie. Namun, kemudian dimutlakkan untuk segala hal yang bersifat kilat dan seolah tanpa proses wajar, karena tiba-tiba sudah berwujud sempurna tanpa diketahui tahap-tahap pertumbuhannya.

Contoh-contoh budaya instan sangat banyak dan beragam. Ibaratnya, ia meluap dan merendam banyak kawasan seperti Bengawan Solo di musim hujan. Ada orang yang menjadi kaya secara instan, menjadi sarjana secara instan, menjadi langsing secara instan, menjadi terkenal secara instan, dan seterusnya.

Akan tetapi, seperti halnya mie instan atau makanan cepat saji (fast food) yang jika terlalu banyak dikonsumsi akan membawa efek-efek serius terhadap kesehatan, maka budaya-budaya instan pun demikian.

Bagaimana pun, setiap ketergesaan pasti ditunggangi oleh setan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketenangan itu dari Allah dan ketergesa-gesaan itu dari setan.” (Riwayat at-Tirmidzi dari Sahl bin Sa’ad, dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Anas. Hadits hasan).

Misalnya, ketika seseorang tidak mau bersabar membangun jalan-jalan rezekinya secara bertahap dan ingin segera kaya-raya, ia pasti mengambil jalan pintas. Memang segenap perubahan penampilannya bisa membuat kita terperangah. Hanya saja, seluruhnya semu dan tidak bertahan lama. Beberapa waktu kemudian, ternyata ia dibelit efek-efek samping dari kekayaan instannya sendiri. Kita pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Bagaimana pun, kekayaan bukan masalah perbendaharaan material belaka, tetapi juga menyangkut sikap mental dan cara hidup. Ketika realitas fisik manusia berubah terlalu cepat sementara kondisi mentalnya tidak disiapkan dengan baik, hampir pasti ia akan mengalami keterkejutan dan terjerumus dalam aneka bencana.

Sekedar analogi, seorang atlet angkat berat mampu mengangkat barbel tanpa mengalami cedera karena telah melatih otot-ototnya tahap demi tahap. Namun, jika orang biasa yang tidak terlatih disuruh melakukan hal serupa, akibatnya sudah bisa ditebak.

Begitu pula, jika kondisi lahiriah hidup kita berubah secara instan tanpa landasan ruhiyah yang telah disiapkan baik-baik, maka bersiap-siaplah untuk mengalami aneka cedera mental yang tidak disangka-sangka. Na’udzu billah! Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar