Menjadi Santri Kampung

MOMENTUM peringatan hari santri tahun ini bertepatan dengan kami silaturahim ke kampung halaman. Tidak ada kesengajaan tapi tiba-tiba teringat masa saat menjadi santri di kampung.

Silaturahim kepada guru ngaji yang dulu mengajari ngaji di kampung kelahiran. Bernostalgia mengingat masa belajar, berkegiatan dan tidur di mushola

Kemudian mengumpulkan beberapa santri di kampung. Untuk transformasi pengalaman 25 tahun lalu. Liku-liku keasyikan santri dulu dan memberikan motivasi untuk bangga menjadi santri.

Tidak mudah menjadi santri di kampung karena hanya santri kalong. Waktunya terbatas sore dan malam. Karena pagi sekolah di tempat masing-masing.

Banyaknya tugas sekolah, padatnya kegiatan dan pergaulan teman sekolah. Itu diantara tantangannya untuk bisa istiqomah mengaji menjadi santri kampung.

Kemudian tidak ada ikatan administrasi yang mengikat. Tidak ada aturan masuk keluarnya santri, semua berjalan alamiah.

Kurikulum pembelajaran juga tidak terstruktur dengan baik. Bahkan terkadang berulang-ulang. Gurunya terbatas jumlah dan kesempatannya untuk mengajar.

Guru ngaji di kampung tidak digaji oleh siapapun. Sehingga harus berjuang menghidupi ekonomi keluarganya sendiri.

Meski demikian, beruntung menjadi santri kampung. Diantaranya pertama, terhindar dari berbagai pengaruh pergaulan yang cenderung negatif. Namanya remaja biasanya mau bebas dan bersenang -senang.

Setiap zaman selalu ada tantangan tren kenakalan remaja yang berbeda. Dengan kecanggihan tekhnologi media sosial.
Tapi intinya sama yaitu pelalaian terhadap identitas diri karena hawa nafsu.

Saat itulah nasehat dan pengawasan guru ngaji sangat penting. Menjadi orang tua kedua yang memperhatikan sisi ibadah dan adab santri kampung.

Kedua, menjadi santri kampung memiliki modal dasar dalam berislam. Beberapa pelajaran penting seperti fikih wudhu dan sholat, tauhid, membaca al Qur’an sudah diajarkan.

Dasar-dasar ilmu itu memberikan kesadaran untuk bisa berislam lebih baik. Ini juga modal dasar yang sangat berharta untuk belajar lebih luas dan mendalam.

Ketiga, menjadi santri kampung juga memiliki kedudukan sedikit berbeda dengan yang lain. Sehingga dalam berbagai kegiatan keagamaan di kampung pasti melibatkan santri kampung. Seperti peringatan hari besar Islam, pernikahan, kematian, tasyakuran dll.

Keempat, keberkahan santri kampung yang senantiasa kegiatannya terpusat di masjid. Sebagai tempat mulia dan dimuliakan Allah sehingga santri mendapatkan keberkahan dari masjid.

Hari santri juga menjadi milik santri-santri kampung. Mereka yang berjuang mempertahankan jati diri dan eksistensi kampung terjaga dari pengaruh zaman yang luar biasa.

Abdul Ghofar Hadi