Dari Kagum Menjadi Cinta

SAYA mengenal Gus Hamid alias Prof. DR. Hamid Fahmy Zarkasyi kala masih kuliah di STAIL Surabaya semester 3 di tahun 2005.

Pertama kali jumpa beliau di Aula Rahmat Rahman dan berhasil diskusi dengan beliau bakda sholat Dhuhur, saya memang kagum kepadanya.

Beberapa alasan bisa saya sampaikan di sini. Pertama beliau orangnya santun. Padahal cerdasnya luar biasa, apalagi kalau bicara filsafat. Tokoh-tokoh JIL ciut nyali kalau harus berhadapan dengan beliau.

Suatu waktu saya pernah di kantor Majalah Suara Hidayatullah menerima kunjungan seorang tokoh yang pernah liberal. Ketika diberi tahu bahwa di ruang rapat ada Gus Hamid, ia langsung menolak bertemu, “Beliau guru saya di Gontor,” katanya beralasan.

Saya sebut santun karena orang seperti saya pun beliau ladeni untuk diskusi dan bertanya-tanya tentang filsafat. Sudah jelas sebagai mahasiswa saya hanyalah anak kecil yang bisa dikatakan baru bisa megang “pistol-pistolan”.

Alasan berikutnya adalah beliau sangat menarik di dalam bertutur. Kalimat-kalimatnya tidak terlalu panjang dan langsung mengusik akal untuk bernalar.

Ketika itu saya ingat beliau mengatakan bahwa “Mahasiswa itu tidak seharusnya terus menekuni dunia aktivisme. Harus ada yang masuk ke ruang-ruang intelektual.” Ungkapan itu mulai mengubah pandangan saya tentang mahasiswa yang doyan demonstrasi (bukan berarti saya anti demonstrasi) dan aksi-aksi keorganisasian yang dilakukan sebatas mau dicap sebagai mahasiswa dan aktivis sejati. Terlebih memang kala itu, semakin lama kuliah, sepertinya semakin sah dianggap mahasiswa yang aktivis.

Selanjutnya Gus Hamid bawaannya tenang. Walau sejatinya beliau keturunan bangsawan, tapi beliau tidak menolak saya jemput dengan motor matic di tahun 2007. Bahkan kala pulang dari Kantor Majalah Suara Hidayatullah ke stasiun, beliau sempat mengajak saya lihat-lihat buku di Gramedia Surabaya di Jalan Kertajaya.

Buku HFZ Sore ini (12/11) orderan buku saya tentang Gus Hamid, judulnya, “Hamid Fahmy Zarkasyi Biografi Intelektual, Pemikiran Pendidikan, dan Pengajaran Worldview Islam di Perguruan Tinggi” tiba di rumah.

Sembari leyehan, karena memang sepekan ini banyak mondar-mandir Jakarta-Bogor, saya perlahan membuka halaman demi halaman buku tersebut. Sampai di halaman 80 saya putuskan jeda, nanti dilanjutkan lagi. Namun, yang sebenarnya terjadi dalam hati saya adalah hadirnya rasa cinta kepada Gus Hamid.

Bagaimana tidak, ternyata perjuangan beliau di dalam menuntut ilmu sampai saat ini lika-likunya bukan sekedar panjang namun penuh spirit dan pelajaran. Usia 5 tahun beliau sudah kehilangan sang ibu, Siti Partiyah.

“Setelah meninggalnya Siti Partiyah, Hamid memulai proses pendidikan sekolah dasar tanpa kehadiran seorang ibu,” demikian dituliskan dalam buku itu (halaman 38).

Sebagai manusia saya paling mudah tersentuh oleh kisah seperti itu. Seketika saya membayangkan, bagaimana anak-anak yang kecil dan tidak lagi memiliki seorang ibu.

Gus Hamid tentu mengalami guncangan batin tidak ringan kala itu. Namun, Alhamdulillah, beliau dianugerahi seorang ayah yang luar biasa, Kiai Imam Zarkasyi.

Perjalanan bersama sang ayah yang juga gurunya, Kiai Imam Zarkasyi, Gus Hamid juga mengalami satu kondisi yang luar biasa. Pada April 1985 melalui sang kakak yang berada di Mesir, Amal Fathullah Zarkasyi mendapatkan kabar bahwa Pak Zar (sapaan akrab Kiai Imam Zarkasyi) sakit.

Kala itu, Ahmad Hidayatullah Zarkasyi yang juga sama Gus Hamid di Pakistan yang berangkat pulang ke Indonesia. Tetapi takdir seakan begitu cepat. Kabar pun sampai kepada Gus Hamid, “…Pak Zar telah meninggal dan mereka (anak-anaknya yang sedang kuliah di Pakistan dan Mesir) tidak perlu pulang.”

Subhanallah, di sini saya dapati sosok Gus Hamid yang ramah dan tenang ternyata sangat tangguh di dalam menghadapi kenyataan hidup yang tak mudah. Namun, semua sangat indah karena di dalam medan jihad, menuntut ilmu.

Mengenal Gus Hamid

Saya menuliskan kisah ini bukan semata karena kagum dan cinta kepada beliau, tetapi lebih jauh adalah karena memang sangat penting generasi muda Islam mengenal sosok alim dan sholeh ini.

Beliau adalah sosok Kiai, Rektor dan juga Guru Besar yang selalu hadir di dalam problematika mendasar umat. Terbaru dan viral beliau mengatakan bahwa kalau generasi milenial ini berada dalam sebuah tragedi, karena kecintaannya terhadap kesadaran membaca buku amatlah rendah.

Sekelas beliau, bisa saja itu tidak menjadi pilihannya untuk disampaikan. Tetapi, demi bangkitnya anak-anak muda Islam yang bisa dikatakan mulai abai terhadap ilmu dan buku, beliau sendiri langsung mengingatkan kita semua.

Gus Hamid juga sosok akademisi yang aktivis di bidang intelektual. Beliau menghimpun teman dan murid-muridnya untuk menerbitkan sebuah Jurnal Pemikiran yang luar biasa, Islamia sejak 2005.

Artinya, kaum muda Islam jangan pernah merasa puas di dalam hidup ini dengan profesi-profesi masing-masing. Ayo turun bersama, lihat problematika umat dan mari sadarkan dengan gerakan keilmuan.

Jadi, anak muda Islam, penting sekali mengenal sosok beliau, yang begitu gigih di dalam menuntut ilmu kemudian kembali ke Indonesia dan tak kenal lelah mengedukasi umat Islam tentang pentingnya ber-Islam secara kaffah. Bukan hanya syariatnya tetapi juga ber-Islam secara intelektual.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah