Sapuan Semeru Duka Semua

MANUSIA terkadang lupa bahwa ia hidup di alam yang seutuhnya ada di dalam genggaman Allah Ta’ala. Hidup sombong, suka menghina dan memandang remeh kemaksiatan, yang pada akhirnya kala ada bencana seperti sapuan Semeru kita baru sadar bahwa kita lemah dan karena itu kini duka melanda semua.

Bagaimana tidak berduka, musibah itu telah mengubah segalanya. Kehidupan yang tadinya baik, normal dan menjanjikan masa depan, tiba-tiba berubah seakan-akan tak pernah ada.

Dikabarkan bahwa sapuan Semeru di Lumajang itu telah merusak 2.970 rumah dan puluhan fasilitas umum yang terdiri dari jembatan, sekolah, sarana pnedidikan dan tempat ibadah.

Laporan dari lokasi menyebutkan bahwa 5.205 orang juga terdampak sapuan Semeru. Sebanyak 1.300 orang kini mengungsi dengan jumlah pengungsi terbesar berada di Kecamatan Pasirian.

Sapuan Semeru yang datangkan awan panas dan guguran itu telah jadi sebab meninggalnya 14 orang. Sementara itu 56 orang dikabarkan mengalami luka.

Gunung di dalam Alquran

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (QS. Al-Anbiya [21]: 31).

Ibn Katsir menerangkan bahwa Allah jadikan gunung agar bumi ini tenang dan manusia dapat hidup dengan aman dan tenang. Dengan begitu manusia dapat memerhatikan tanda-tanda kebesearan Allah, dimana gunung yang tampak di atas permukaan tanah menjulang seakan-akan sampai ke langit.

“Agar penghuninya (manusia) dapat menyaksikan langint serta tanda-tanda yang melimpah, hikmah-hikmah dan petunjuk yang terkandung di dalamnya,” tegas Ibn Katsir.

Berhenti Merusak

Musibah berupa letusan Gunung Semeru harus menjadi peringatan bahwa manusia sebagai makhluk yang dianugerahi kehidupan dan diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala harus berhenti melakukan kerusakan demi kerusakan.

Sebuah musibah terjadi tidaklah bisa dilepaskan dari perilaku manusia itu sendiri yang cenderung menyimpang dan menjauh dari nilai-nilai kebaikan yang digariskan oleh Tuhan. Seperti jangan berbuat kerusakan, jangan serakah, dan jangan mementingkan diri sendiri adalah bagian dari syariat yang Tuhan tetapkan untuk manusia.

Ketika manusia zalim, maka sudah pasti ada akibat akan datang, cepat atau lambat. Dan, kini sudah tiba waktunya kita berdoa kepada Allah, memohon setulus hati, kiranya kita semua ditolong dan diselamatkan.

Doa ini bukan perkara ringan. Tidak akan berdoa kepada Allah orang-orang yang di dalam hatinya ada kesombongan.

“Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min [40]: 60).

Jadi, mari berdoa. Karena doa itu tanda diri kita hamba-Nya. Dan, doa itu pun bagian dari ibadah. “Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi).

Akan semakin lengkap jika kita bersegera saling menguatkan, membantu dan meringankan saudara kita yang tertimpa musibah ini. Semoga Allah pelihara kita semua, dunia dan akhirat.*

Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah