Selamatkan Negeri Ini!

TATKALA kemerosotan moral menggejala di tengah-tengah masyarakat, Allah menyediakan seperangkat piranti sosial yang dapat difungsikan untuk membalik keadaan dan memperbaikinya. Memang pilihan-pilihan yang diminta sangat tidak biasa, terkesan melawan arus. Al-Qur’an menamainya sebagai al-‘aqabah, jalan yang sukar lagi mendaki. Akan tetapi, di situlah sebenarnya kunci-kunci menuju kebangkitan dan kejayaan.

Ada satu surah Al-Qur’an yang secara khusus dinamai “negeri” (al-balad). Di dalamnya Allah menggambarkan kebangkrutan moral yang menimpa sebuah negeri, dalam hal ini Makkah di zaman jahiliyah. Negeri itu adalah tanah tumpah darah sang pembaharunya sendiri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah berfirman,

“Aku benar-benar bersumpah dengan negeri ini. Dan kamu (Muhammad) bertempat di negeri ini. Dan demi bapak dan anaknya.” (QS. Al Balad: 1-3).

Kebangkrutan moral itu sedemikian akut, karena telah diwarisi dari bapak ke anak, hingga beberapa lapis generasi. Angkatan baru yang terlahir pun tidak menyadari kesalahan yang ada sedikit pun, sebab mereka tumbuh di tengah-tengah zaman yang telah rusak.

Mereka tidak mengerti kekeliruan paganisme, perbudakan, perzinaan, minum khamer, perjudian, riba, dan lain-lain.

Mereka menyaksikan semua itu sebagai hal yang lumrah, dan bahkan tidak tersedia memori pembanding di benak mereka. Sungguh mereka belum pernah menyaksikan kebalikannya!

Dalam surah itu, Allah juga menggambarkan bahwa suasana yang kemudian dominan adalah kehidupan yang melelahkan di bawah kuasa materialisme, hedonisme, individualisme, pragmatisme.

Masyarakat pun telah kehilangan kepekaannya terhadap benar-salah atau baik-buruk; yang ada hanyalah kepentingan dan dorongan nafsu.

Tidak ada lagi hukum yang berwibawa. Jika pun ada kepatuhan kepada norma-norma sosial, sebenarnya hanya sebatas pencitraan, hiasan di bibir, atau didorong kepentingan tertentu.

Masyarakat juga semakin abai terhadap kehidupan akhirat. Alhasil, mata hati mereka pun tidak dapat lagi mengenali cahaya kebenaran ketika ia mulai berpendar di hadapannya.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata? Lidah dan dua buah bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan?” (QS. Al Balad: 4-10)

Surah al-Balad memang merupakan potret buram Makkah di masa silam, akan tetapi suasana yang menyelimutinya tetap relevan sampai kapan pun, di mana pun. Sebab, ketika Al-Qur’an membicarakan kerusakan sebuah negeri, maka yang pertama-tama disoroti bukanlah bumi dan sumberdaya alamnya, akan tetapi manusia-manusia yang hidup di dalamnya.

Demikian pula ketika Al-Qur’an membicarakan keshalihan serta keberkahannya. Tentu saja, selama sebuah negeri masih ditinggali manusia, pada kenyataannya watak dasar mereka tidaklah berubah; meski manifestasinya bisa saja berbeda-beda.

Lalu, apa resep yang ditawarkan Al-Qur’an untuk mengentaskan sebuah negeri yang telah dilanda kebangkrutan moral semacam itu? Allah menyebutnya dengan al-‘aqabah.

Secara harfiah, ‘aqabah berarti jalan di atas perbukitan yang jarang dilalui orang, mendaki, dan sangat sulit. Kata ini merupakan metafora dari tindakan-tindakan “ganjil” yang disarankan Al-Qur’an, sesuatu yang sangat tidak populer di tengah-tengah masyarakat dan pasti mengundang sejuta tanda tanya, bahkan cemoohan dan ejekan.

Allah berfirman,

“Tetapi dia tidak mau menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) membebaskan budak. Atau memberi makan pada masa-masa kelaparan. (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. Atau kepada orang miskin yang sangat melarat.” (QS. Al Balad: 11-16)

Para budak adalah harta yang sangat tidak berharga di masa itu, sehingga membebaskan mereka sama saja dengan memiskinkan diri sendiri. Tidak masuk akal.

Makkah juga merupakan negeri yang sangat tandus, tidak ada satu pun tanaman pangan yang bisa tumbuh dan membuahkan hasil. Makanan langka, dan diperlukan upaya keras untuk mendapatkannya. Jelas saja anjuran memberi makan kepada orang lain di masa-masa kelaparan merupakan saran yang melawan arus.

Di titik ini, empati dan simpati pun melemah, sampai akhirnya lenyap samasekali. Manusia hanya memikirkan dirinya sendiri, dan pura-pura buta-tuli terhadap penderitaan sesamanya, meskipun memiliki hubungan kerabat atau dicekam kemelaratan yang sangat hebat.

Puncaknya adalah ketika mereka tidak lagi peduli pada nilai-nilai moral dan kebenaran. Iman, kesabaran, dan kasih sayang secara pasti telah menguap entah kemana.

Allah berfirman,

“Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS. Al Balad: 17)

Tentu saja, Allah tidak mengabadikan suasana Makkah dari masa itu sekedar untuk dokumentasi sejarah. Secara tersirat Allah hendak menunjukkan bahwa negeri-negeri mana pun bisa bernasib sama dengan Makkah, jika manusia-manusia di dalamnya tidak mau memperbaiki diri, yakni dengan menempuh jalan-jalan yang sukar lagi mendaki itu. Mereka harus berupaya keras memulihkan jiwa-jiwa warganya yang telah terendam apatisme dan tercekam keputusasaan, sebelum mereka disulut oleh anarkhi.

Di masa kini, kita mungkin mendapati anak-anak yang terlahir di bawah bayang-bayang dekadensi moral di segala bidang. Mereka tidak memiliki kenangan ketika norma-norma hidup beragama dan bermasyarakat begitu diindahkan serta dijunjung tinggi.

Anak-anak seperti ini sangat rawan untuk menganggap segala bentuk kesalahan dan penyimpangan sebagai kewajaran, sebab mereka tidak memiliki referensi sebaliknya.

Metropolitan semacam Jakarta dan Surabaya tampak melangkah menuju nasib serupa dengan Makkah pra-Kenabian. Beberapa kota lain, semisal Bandung dan Malang, juga menunjukkan tanda-tanda yang mengarah ke sana. Hanya saja, Allah menunjukkan bahwa jalan keselamatan itu masih tersedia, yakni dengan melawan arus deras kemerosotan tersebut; dengan memilih al-‘aqabah.

Harus ada upaya nyata untuk mengeliminir sistem perbudakan modern di dalamnya, yang bisa termanifestasikan dalam beragam bentuk. Sistem ketenagakerjaan yang tidak manusiawi dan human trafficking hanyalah contoh kecil.

Mesti ada usaha pula untuk membantu kaum miskin, anak yatim, kaum marjinal agar mendapatkan akses ekonomi dan pendidikan yang memadai serta terjamin. Selain itu, masyarakat harus terus-menerus diingatkan dengan bimbingan yang dilandasi keimanan, kesabaran, dan kasih sayang.

Sejarah menunjukkan bahwa revolusi sosial semacam itu tidak berlangsung mulus dan mudah. Terlebih-lebih lagi ketika kultur yang menyimpang bahkan telah terwariskan dalam beberapa generasi. Akan tetapi, tampaknya “negeri-negeri” kita belum separah Makkah.

Pertanyaannya: bersediakah kita menempuh al-‘aqabah di zaman ini dan menyelamatkan negeri-negeri kita dari kebinasaan, sebagaimana Rasulullah dulu berupaya menyelamatkan Makkah? Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar