Ramadhan sebagai Madrasah Kejujuran dan Tantangan Kita Dewasa ini

ALHAMDULILLAH, segala puji bagi Allah yang telah memberi kesempatan kesekian kalinya kepada kita untuk menikmati hidangan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri. Jamuan Ramadhan tak sebatas sahur dan berbuka dengan aneka makanan dan minuman yang lezat.

Jamuan Ramadhan yang paling utama adalah gemblengan dari Allah swt berupa shiyam dan qiyam. Di siang hari kita menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami isteri, sedang di malam harinya disunnahkan memperbanyak berdiri, ruku’ dan sujud, serta tilawah al-Qur’an dan bermunajat.

Inilah Training Center yang terbesar dan spektakuler. Bayangkan, dalam training ini Allah sendiri bertindak sebagai instrukturnya, sedang semua kaum muslimin di seluruh penjuru dunia menjadi pesertanya. Tak ada diskriminasi kecuali yang berhalangan. Semua yang berpuasa wajib mengikuti ketentuan yang sama, yaitu tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Training atau lebih tepatnya Madrasah Ramadhan ini terbuka untuk umum. Siapa saja yang mengaku beriman, akan terpanggil memenuhi kewajiban sebagai peserta. Yang kafir, yang munafiq, yang setengah beriman, yang pura pura beriman, silahkan minggir dulu.

Itulah arti seruan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah: 183)

Ayat di atas diawali dengan seruan wahai orang yang beriman. Artinya orang yang tidak beriman, sekalipun memenuhi semua ketentuan berpuasa, tidak makan dan minum sepanjang hari, mereka terkena diskualifikasi. Puasanya sia-sia. Mereka tidak mendapat hasil training ini kecuali lapar dan dahaga saja.

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i).

Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang beriman, orang yang diseru menjalankan ibadah shiyam Ramadhan. Mudah-mudahan kita dapat meraih gelar muttaqin, lulus sebagai orang-orang yang bertaqwa. Mudah-mudahan kita menjadi juara di sisi Allah SWT.

Allah adalah Rabb, pendidik seluruh alam. Dia Maha hidup, tidak tidur, tidak ngantuk, dan tidak mudah lupa. Dia mendidik dan mentarbiyah kita setiap saat dan waktu. Dia telah mengajarkan kepada kita tentang berbagai hikmah di semua peristiwa. Sayang hanya kelompok ulul albab, orang-orang cerdas saja yang mau mengambil pelajaran. Adapun sebagian besar manusia yang lain, baru mengambil pelajaran ketika diberi peringatan berupa bencana, musibah dan malapetaka.

Allah berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (QS. Ali Imran: 190)

Ramadhan adalah salah satu ayat Allah. Orang yang cerdas dapat mengambil pelajaran dari ibadah puasa tersebut. Puasa merupakan bukti bahwa Allah itu aktif, tidak pasif dalam mentarbiyah manusia. Bayangkan, selama sebulan penuh Allah mendidik kita dengan puasa. Puasa atau Ash-Shiyam, oleh para ulama diartikan sebagai Al-Imsak yang artinya menahan diri dari makan dan minum selama terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari. Sepintas tarbiyah ini sangat sederhana, tapi dampaknya luas dan luar biasa.

Puasa melatih kaum muslimin untuk berbuat dan berperilaku jujur, peduli, disiplin, sabar, qana’ah, zuhud, ridha, dan ramah. Sifat sifat di atas merupakan elemen dasar pembentuk karakter taqwa. Karakter taqwa itulah yang menjadi target utama puasa Ramadhan. La’allakum tat-taqun.

Khusus mengenai tarbiyah kejujuran, puasa Ramadhan merupakan lahan subur untuk menumbuhkan dan mengembangkannya. Bibit bibit kejujuran sejak dini dirawat, ditumbuhkan dan dikembangkan melalui kebiasaan sehari-hari. Kebiasaan membentuk habit, sedang habit membentuk karakter, sedang karakter membentuk kepribadian.

Mari kita perhatikan, musuh pertama orang yang mulai belajar berpuasa adalah bohong. Ketika perut sudah mulai melilit lapar atau tenggorokan kering kehausan, tidak ada orang yang mengintip, sementara makanan sudah terhidang lezat di meja, apa yang akan dilakukan jika sekiranya boleh berbohong?

Inilah tarbiyah kejujuran itu mulai masuk. Sekalipun waktu Maghrib tinggal 2 menit, kita tak tergoda untuk mencolek sedikitpun makanan yang terhidang. Meski di ruang sendirian, di tempat gelap gulita dan tidak ada yang melihat, orang yang berpuasa tidak akan berani meminum air meski hanya setetes air, karena yakin Allah melihatnya dan itu membatalkan puasanya. Kita yakin bahwa puasa itu pada hakekatnya adalah menahan diri dan jujur.

Internalisasi nilai nilai kejujuran tidak bisa dilakukan melalui transformasi akademik dan kajian ilmiah semata. Internalisasi kejujuran itu harus melalui praktik nyata sehari-hari. Harus dirasa dan dialami. Kejujuran tidak bisa diajarkan melalui seminar dan diskusi.

Mengapa kejujuran menjadi sasaran utama madrasah Ramadhan? Bukan karena nilai-nilai yang lain tidak perlu, tapi kejujuran disepakati merupakan pangkal semua kebaikan.

Rasulullah bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga. Seseorang senantiasa berlaku jujur dan bermaksud jujur, maka ia akan ditetapkan di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan bermaksud dusta maka ia akan ditetapkan di sisi Allah sebagai pendusta. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kejujuran senantiasa menghasilkan dampak yang positif dan keberuntungan yang berlimpah ruah. Karena kejujuran adalah kebaikan yang akan menuntun kita untuk melakukan berbagai kebaikan dan kemuliaan. Kejujuran akan menjadi bukti kebaikan perilakunya, kemurnian tabiatnya, ketinggian mentalitasnya, dan kecerdasan akalnya.

Sebaliknya orang yang suka berdusta, mudah berbohong, dan gampang menipu hidupnya pasti sengsara. Di dunia tidak bahagia, sedang di akheratnya pasti menderita. Di dunianya hina, sedang di akherat masuk neraka. Na’udzu billah.

Sekalipun berat, tetaplah memilih jujur sebagai jalan hidup sebab kejujuran akan membawa kepada ketenangan. Apalah artinya citra positif, harga diri, status sosial jika dibangun di atas kedustaan. Apalah artinya ketenaran jika dibangun di atas kepalsuan. Apalah artinya kemuliaan dan kewibawaan jika dibuat-buat. Semua yang tidak jujur akan mudah hilang dan sirna. Meski ditutupi dengan narasi-narasi yang menarik dan argumentasi ilmiah.

Orang yang jujur hatinya akan tenang, muthmainnah. Sebaliknya orang yang bohong hatinya selalu gelisah.

Rasulullah saw bersabda:

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Sesungguhnya kejujuran itu mendatangkan ketenangan, sedangkan dusta itu mendatangkan kebimbangan. (HR. Tirmidzi)

Orang yang berbohong selalu dihantui oleh kebohongannya. Hidupnya tidak tenang dan merasa dikejar-kejar oleh bayangan kebohongannya sendiri. Mereka takut suatu saat kebohongannya terbongkar. Sehingga satu kebohongan harus ditutupi dengan 10 kebohongan dan 10 kebohongan harus disiasati dengan 100 kebohongan dan seterusnya. Mereka takut terungkap kebohongannya sehingga dipermalukan oleh ulah perbuatannya sendiri.

Untuk itu, jadilah orang yang jujur. Jujur pada diri sendiri dan jujur kepada orang lain. Jujur kepada anak, kepada orangtua, kepada suami dan isteri. Jujur kepada atasan, jujur kepada bawahan, juga jujur kepada rakyat kebanyakan. Hindari berdusta, sekalipun dusta itu mudah dilakukan. Allah wanti-wanti agar kita senantiasa jujur.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur (benar). (QS. At-Taubah: 119)

Kejujuran dalam Islam tak hanya persoalan akhlaq. Tak hanya soal budi pekerti. Kejujuran itu persoalan ajaran yang paling asas, yaitu aqidah atau keimanan. Orang yang tidak jujur berarti mencederai aqidahnya sendiri.

Dalam kitab Al-Muwath-tha’, kumpulan hadits yang dihimpun Imam Malik disebutkan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. Wahai Rasulullah, apakah seorang mukmin bisa menjadi pengecut? Beliau menjawab, Ya. Lalu beliau ditanya lagi, Apakah seorang Mukmin bisa menjadi kikir? Beliau menjawab, Ya. Lalu beliau ditanya lagi, Apakah seorang Mukmin bisa menjadi pendusta? Beliau menjawab, Tidak.

Menurut Rasulullah, bisa jadi seorang mukmin memiliki sedikit sifat yang kurang terpuji, seperti penakut, kikir, bahkan menjadi pengecut. Tapi satu hal yang tidak boleh ada dalam diri seorang mukmin adalah sifat pendusta. Mukmin itu tidak boleh bohong. Ini harus dicamkan baik-baik.

Kejujuran adalah kesesuaian antara ucapan, perbuatan, dan kenyataan. Adalah sebuah kebohongan yang terang-terangan jika seseorang berkata A, padahal kenyataannya adalah B. Dia berkata sedang ke selatan, padahal realitasnya sedang menuju ke utara.

Orang yang jujur disebut Ash-Shadiq, sedang lawannya adalah Al-Kadzib. Orang yang jujur mempunyai kesesuaian antara batin dengan yang dzahir. Antara yang disembunyikan dan dinampakkan. Antara yang dipikirkan dengan kenyataan. Orang yang jujur mustahil menyembunyikan niat jahatnya dengan berpura-pura baik secara penampilan. Musang berbulu domba, istilahnya.

Kita semua harus mewaspadai kebohongan karena kebohongan dapat mengantarkan pelakunya pada kekufuran, kemunafikan, dan keluar dari Islam secara perlahan. Lagi-lagi, kebohongan bukan persoalan sederhana. Kebohongan itu masuk dalam persoalan keimanan dan aqidah.

Allah mengingatkan:

اِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang yang tidak beriman pada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong. (QS. An-Nahl: 105)

Melalui khutbah kali ini, kembali diingatkan bahwa kebohongan adalah jembatan menuju neraka, jalan kerusakan dan keburukan yang bakal meruntuhkan muru’ah dan kewibawaan kita. Jauhi sejauh-jauhnya kebohongan, karena kebohongan sedikitpun tidak membawa keuntungan.

Kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa kebohongan bukan anak tangga menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Bohong bukan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah yang rumit. Justru sebaliknya kebohongan akan menimbulkan masalah baru yang lebih pelik dan rumit.

Jalan terbaik Ketika menghadapi masalah pelik dan jalan buntu adalah tawakkal kepada Allah dan memperbaiki niat. Jangan-jangan niat kita yang salah. Luruskan niat dan bertawakkal kepada-Nya. Sekali-lagi, jangan menambah masalah dengan berbohong.

Yang ingin kami ingatkan, kita harus mempunyai komitmen yang kuat agar tidak berbohong. Jangan sekali-kali meremehkan kebohongan-kebohongan kecil. Bisa jadi kebohongan kecil itu justru merupakan batu kerikil yang menjatuhkan marwah dan martabat kita. Jangan menjadikan kebohongan dalam canda dan gurauan kita. Khawatir, perilaku negative itu lama-kelamaan menjadi habit dan kebiasaan sehari-hari. Belum puas kalau belum berbohong.

Rasulullah saw bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا

Aku yang menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan al-Mira’ (berdebat) sekalipun benar, dan (aku yang menjamin) sebuah rumah di tengah surga untuk siapa saja yang meninggalkan kedustaan meskipun dia bercanda. (HR. Abu Dawud)

Tugas utama kita, baik sebagai ibu atau bapak, demikian seorang guru adalah memberikan Pendidikan terbaik, teladan yang mulia serta mendorong anak-anak untuk selalu berbuat jujur. Kita harus memberi peringatan yang keras tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi di dunia dan di akherat bagi pelaku kedustaan. Berikan motivasi yang kuat agar anak-anak kita senantiasa berbuat jujur. Sampaikan bahwa dalam setiap kejujuran Allah telah menyiapkan pahala yang besar.

Al-Qur’an menjelaskan:

قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung. (QS. Al-Maidah: 119)

Mari kita didik anak-anak kita sejak kecil agar memiliki karakter jujur dan menjauhi kebiasaan berbohong. Insya Allah mereka akan menjadi generasi yang sholeh, mandiri dan tangguh.

Mari kita bina generasi muda berkepribadian jujur agar kelak saat menjadi pemimpin yang jujur dan tidak suka berbohong dan mengingkari janji. Masyarakat saat ini sudah muak dengan pemimpin yang suka berbohong. Janjinya mensejahterakan, kenyataannya menyengsarakan. Janjinya memajukan, nyatanya malah kebalikannya. Janjinya kemandirian, ujung-ujungnya malah nambah utang lagi.

(Artikel ini disadur dari naskah Khutbah Idul Fitri 1443 H yang diterbitkan oleh DPP Hidayatullah dengan penyesuaian seadanya pada judul)