Pemimpin dan Problem Eksekusi

DALAM sebuah organisasi, apapun bentuknya dan seberapapun besarnya, biasanya memiliki tujuan yang kemudian dirumuskan dalam visi dan misi. Selanjutnya di-breakdown dalam pada program kerja yang di dalamnya juga target, sasaran serta, strategi implementasi beserta timeline-nya. Sehingga kita kerapkali menjumpai organisasi dengan strategi yang luar biasa, akan tetapi tidak mampu terimplementasi dengan baik. Inilah yang kemudian disebut dengan problem eksekusi. Dimana, salah satu aktor terpenting di sini adalah pemimpin organisasi.

Mengapa demikian? Sebab pemimpin itu hadir bukan hanya untuk dihormati, ditaati dan disayangi semata. Itu sudah pasti. Akan tetapi kehadirannya dituntut untuk mempersembahkan kinerja dan karya, dalam rangka mencapai visi dan misi organisasi. Sehingga pada hakekatnya kinerja seorang pemimpin itu, akan dicapai melalui kerja orang lain.

Dengan demikian maka salah satu tugas utama pemimpin adalah menggerakkan orang lain. Sebab, sejatinya seorang pemimpin itu hanyalah ibarat sebatang lidi yang tidak memiliki banyak fungsi bila ia sendiri. Ia perlu menggabungkan lidi-lidi itu untuk menjadi kekuatan. Nah, pemimpin bertugas menggabungkan lidi tersebut. Konsekwensinya adalah, seorang pemimpin lebih banyak berbicara tentang kita bukan saya.

Salah satu strategi penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dengan skala apapun juga adalah kemampuannya untuk melakukan eksekusi dengan tepat dan cepat. Ketepatan dan kecepatan dalam melakukan eksekusi dari seorang pemimpin akan mewujudkan hasil yang efektif dan memiliki kejelasan dalam bertindak. Keefektifan tersebut sangat diperlukan pemimpin agar organisasi yang dipimpinnya dapat selaras dengan visi dan misi organisasi dan dikorelasikan dengan pola pikir orang-orang yang dipimpinnya, terutama saat pengambilan keputusan yang strategis.

Pemimpin yang mampu secara tepat mengeksekusi hal yang dianggap urgent dan membutuhkan eksekusi yang cepat, memang tidak mudah. Terutama pada situasi-situasi ‘sulit’, pemimpin terkadang dihadapkan pada keraguan untuk melakukannya. Pemimpin benar-benar dituntut untuk melakukan pertimbangan yang matang dan bertindak cepat agar eksekusi yang dilakukannya efektitf.

Namun, tidak semua pemimpin memiliki kemampuan eksekusi yang efektif. Realitas diberbagai organisasi dijumpai, banyak dari pemimpin saat ini dirundung ‘kegalauan’, ‘keraguan’, dan ‘ketidakpastian’ untuk melakukan eksekusi dalam menjalankan kepemimpinannya.

Gagalnya seorang pemimpin dalam mengeksekusi strategi di suatu organisasi dan juga perusahaan biasanya disebabkan kurangnya sistem manajemen yang utuh guna mengintegrasikan dan menyelaraskan proses dan program tersebut. Suatu studi menyebutkan bahwa 90% perusahaan di Amerika dan Eropa tidak bisa mengimplementasikan formulasi strategi yang telah dibuat dengan tepat waktu (Bigler, 2003).

Disisi lain sebagaimana kita pahami bahwa, dalam suatu proses manajemen strategi, setelah memformulasikan strategi yang dianggap tepat dan sesuai dengan kondisi eksternal dan internal, maka tahapan selanjutnya adalah mengimplementasikan strategi tersebut.

Pada tahun 1999, Majalah Fortune menyebutkan bahwa kegagalan 70% chief executive officer, bukan sebagai hasil strategi yang buruk, akan tetapi pada eksekusi yang buruk (Niven, 2002). Niven menjelaskan sejumlah hambatan dalam implementasi strategi, yaitu hambatan visi; hambatan sumber daya manusia; hambatan sumber daya; serta hambatan manajemen.

Setidaknya ada 5 alasan mengapa pemimpin gagal melakukan eksekusi strategi dan program kerja. Hal pertama adalah pemimpin tidak mengikut rencananya dengan disiplin. Sering kali, pemimpin merubah rencananya sendiri di pertengahan eksekusi mengakibatkan hasil yang terjadi tidak sesuai harapan.

Kedua, adalah pemimpin gagal menilai prioritas kepentingan. Banyak pemimpin yang salah membuat penilaian untuk pekerjaan dan hal apa yang sebaiknya dijadikan prioritas terlebih dahulu. Ketiga, yakni pemimpin tidak menempatkan yang dipimpin sesuai dengan kemampuan bidang kerjanya. Sehingga Ketidakmampuan pemimpin menganalisa potensi timnya ini yang menjadikan pekerjaan terhambat atau lama diselesaikan.

Keempat, pemimpin terlalu percaya diri sehingga tidak melibatkan dan mendengarkan tim dalam mengeksekusi strategi. Padahal dengan melibatkan timnya maka keputusan strategis itu akan bisa diambil, ingat pemimpin itu hakekatnya juga penggerak bagi yang dipimpin.

Kelima, pemimpin dalam mengambil keputusan tidak berbasis data kuantitatif maupun kualitatif. Sehingga seringkali unsur subyektifitas lebih mengemuka dibanding aspek obyektifitas.

Dengan memperhatikan realitas di atas maka, “Rencana tidak mengubah apa-apa, yang mengubah adalah eksekusi.” Oleh karena itu, seorang pemimpin perlu memastikan agar eksekusi berjalan dengan baik di tim yang dipimpinnya.

Memang, tugas pemimpin tidaklah sampai pada detil eksekusi tetapi ia perlu meminta komitmen kepada timnya, yaitu komitmen eksekusi. Betapa banyak pimpinan gagal karena ia meminta komitmen yang salah kepada anggota timnya, komitmen yang bersifat “akan”. Seyogyanya komitmennya terhadap eksekusi memastikan bahwa apabila hal-hal yang menjadi komitmen tersebut dilakukan maka sesuatu yang “akan” dicapai menjadi nyata.

Problem eksekusi ini nyata terjadi dan dialami oleh organisasi. Eksekusi ini memang menjadi tugas seorang pemimpin, dengan menggerakkan seluruh timnya. Dan, salah satu ujian kepemimpinan ini adalah mengambil keputusan.

Maka dalam konteks Islam, selain beberapa kendala di atas, juga aspek ruhiyah seorang pemimpin akan berpengaruh terhadap eksekusinya. Sehingga seorang pemimpin memang dituntut untuk memiliki ruhiyah yang tajam, sehingga menghasilkan qaulan sadida, qaulan tsaqila dan qaulan layyina, ketika melakukan eksekusi. Wallahu a’lam.

Asih Subagyo│Senior Researcher Hidayatullah Institute