Teman yang Mahal

Ilustrasi tongkrongan anak muda (Foto: Joseph Redfield Nino/ Pixabay)

SEMUA orang membutuhkan nasehat. Sekaya apapun seseorang, meski memiliki emas satu gudang, uang milyaran yang tidak berseri. Biar pangkat dan kedudukan yang tinggi tetap memerlukan nesehat.

Manusia yang buruk adalah yang tidak mau menerima nasehat, semiskin-misnya orang adalah yang tidak punya teman memberikan nasehat. Biar miskin jika punya banyak teman maka banyak jalan untuk hidupnya.

Di akhir zaman ini yang sulit adalah mencari teman baik yang senantiasa memberikan nasehat kebaikan. Teman yang peduli dan membantu untuk mengingatkan kita bisa terus rajin ibadah dan tidak terjerumus dalam kemaksiatan.

Bukan teman yang mengajak main game, begadang malas-malasan, main foya-foya, jalan-jalan adventure, mager dan apalagi yang mengajak pergaulan yang tidak baik.

Teman itu seperti makanan yang tak bisa kita tinggalkan walau sehari pun. Seperti seseorang butuh makanan setiap hari maka kita pun butuh akan teman ini. Namun yang perlu diperhatikan adalah memilik teman-teman yang baik, sebagaimana mengkonsumsi makanan juga harus yang baik dan halal.

Teman yang sholeh, memberikan keteladanan dan mengajak kepada kebaikan dunia akherat. Teman juga seperti obat yang sangat dibutuhkan ketika terjadi permasalahan.

Kita membutuhkan teman untuk sharing, curhat dan partner membantu memecahkan suatu masalah hidup yang dialami. Teman bisa menjadi solutor terhadap permasalahan yang dialaminya. Pentingnya memilih teman tersirat dalam sebuah sabda Rasulullah Saw:

“Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasullulah Saw bersabda:

Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang mukmin yang bertaqwa”. Dalam hadits lain ditegaskan, “Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Ahmad).

Dari dua hadist di atas, maka ada kriteria utama yang menjadi prioritas pertama orang yang harus dijadikan teman yaitu orang beriman dan orang-orang saleh. Selain karena sesama mukmin memang bersaudara, juga karena orang beriman dengan benar melahirkan dalam dirinya perilaku yang baik (akhlaqul karimah) dan kita akan termotivasi melakukan hal yang sama.

Beberapa ulama generasi salaf menyarankan kepada kita untuk: ”Bersahabatlah dengan orang-orang yang keadaannya bisa menunjukkan kamu ke jalan Allah”. Bukan mengajak kepada jalan setan dan nafsu yang kelihatannya nikmat, bahagia dan santai tapi menjerumuskan dalam dosa dan neraka.

Jika punya teman baik, pegang erat tangannya, terus dekati dan jaga karena itu barang mahal yang bisa menjaga kita dalam kebaikan dengan nasehat-nasehatnya dan teladannya.

Teman baik hari ini mahal dan kita berharap mendapatkan keberkahan dari kebaikannya. Baik teman baik di dunia maya atau media sosial ataupun teman di dunia nyata.

Ust. Abdul Ghofar Hadi