Rindu itu Berat, Biar Allah Ta’ala Saja Tempat Bersandar

“Baru kali ini, saya merasakan rindu yang paling berat” kata seorang ustadz
“Rindu kepada siapa, ustadz?” tanya saya terlalu polos.
“Rindu kepada istri yang sudah pergi menghadap Allah,” jawabnya sambil pandangan matanya menerawang dan mengoyang-goyangkan kursi kerjanya.

“Afwan ustadz, saya baru sadar dan ingat.” Kata saya, agak menyesal karena baru ingat bahwa istri ustadz ini baru wafat belum genap satu bulan.

“Kalau rindu dengan seseorang di dunia ini, masih ada harapan untuk ketemu. Bisa juga tersambung rindunya dengan telepon, video call atau surat. Bisa juga tanya dengan teman atau saudaranya. Hanya masalah waktu saja ketemunya” kata beliau menerangkan.

“Betul ustadz, rindu untuk perasaan mau ketemu” tanya saya
“Bukan sekedar mau ketemu, tapi mau tahu kabarnya, kondisinya. Ada yang kita sampaikan dan banyak yang mau diceritakan kepadanya” katanya dengan semangat sambil berharap bisa ketemu.

Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah” dalam hati saya berdikir.
“Alhamdulillah, karena masih ada iman, sehingga ada cara yang Allah dan Rasulullah ajarkan untuk mengobati rindu dengan doa. Kalau tidak ada iman, bisa stress dengan namanya rindu ini”

“Sudah pernah bermimpi ketemu istri ustadz?”
“Saya sudah sering berdoa untuk bermimpi bisa bertemu dengannya, tapi Allah belum memperkenankan. Semoga Allah memberikan kesempatan saya bertemu dengannya dalam mimpi”
“Aaamin Yaa Rabbal Alamin”

Cerita nyata di atas, memberikan pelajaran dan nasehat kepada kita semua. Betapa pasangan suami istri yang dibangun karena Allah itu indah dan berkah. Meski sudah dipisahkan dengan kematian oleh salah satunya tapi masih ada rasa rindu yang luar biasa.

Bagi pasangan suami istri yang masih hidup, pegang erat tangan pasangannya jika disampingnya, banyaklah bercerita dan ngobrol, tukar pikiran dan informasi. Jangan diam-diaman, mager-mageran, sering ditinggal dan disia-siakan pasangannya.

Ketika ada rindu, segeralah pulang untuk bertemu pasangannya. Mumpung masih di dunia yang bisa saling ketemu. Sebelum dipisahkan dua alam berbeda yang tak mungkin bertemu lagi hingga hari kiamat datang.

Akan ada rindu yang sangat berat jika sudah dipisahkan oleh kematian salah satunya. Rindu yang tidak ada tepian dan kepastian waktu bisa bertemu kembali.

Hujjatul Islam Al-Ghazali (wafat 505 H) dalam kitabnya memberikan definisi bahwa rindu adalah konsekuensi dari adanya mahabbah (cinta) terhadap suatu objek. Dengan cinta, rindu akan datang dengan sendirinya. Rindu sendiri merupakan sesuatu yang sifatnya emosional tinggi untuk bisa bertemu dengan orang yang dirindukan.

Dalam Islam, rindu bukanlah hal yang tercela, tetapi tetap perlu disertai dengan kerendahan hati, kesucian, dan menjaga diri. Apalagi kepada istri atau sahabat dalam Islam. Rindu itu ingin bertemu dan ingin berbagi kebahagiaan dengan orang yang kita rindu.

Rindu yang paling berat adalah ingin bertemu dengan orang yang kita cintai dan dia sudah dipanggil oleh Sang Pemilik Rindu yaitu Allah subhanahu wa Ta’ala.

Ust Abdul Ghofar Hadi