Bila Semua Bebas Bicara

man holding hand over his mouthSUARA memiliki “kuasa”, sehingga berbicara terkadang senafas dengan kesombongan. Kemasyhuran dan banyaknya pengikut juga memiliki pesona yang tak tergambarkan dalam jiwa manusia.

Sebaliknya, untuk menjadi pendengar yang baik kita harus diam, rendah hati, dan tidak berprasangka buruk. Padahal, kita semua tahu, tidak pernah mudah untuk merelakan diri menjadi orang yang tidak dikenal apalagi yang diabaikan.

Sekarang, menjelang Ramadhan, menahan diri untuk tidak bicara semakin terasa beratnya. Hampir setiap tahun, penentuan kapan puasa dimulai tidak membuat kita tenang menyambut Bulan Suci.

Terlalu banyak orang yang bicara, padahal suara-suara yang bertumpang-tindih di telinga pasti menyesatkan. Nyaris semua orang menyatakan pendapat, entah ia berkompeten atau tidak, berwenang atau tidak, awam atau ulama’.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Semakin banyak orang yang bicara berarti semakin sedikit yang mendengarkan. Dan, bila semua orang bicara, sebenarnya sudah tidak ada lagi yang mendengarkan. Maka, musyawarah pasti menemui jalan buntu, dan kesepemahaman maupun kesepakatan hanyalah angan-angan kosong.

Oleh karenanya, kita diminta menyerahkan segala urusan kepada ahlinya. Kita diminta menahan diri dan tidak mengatakan sesuatu yang mana kita tidak memiliki ilmunya. Kita diminta berpegang kepada adab sebagai mustafti (orang yang meminta fatwa), bukannya berfatwa sendiri.

Kita diminta untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, tidak mendahului keduanya dalam memutuskan sesuatu. Kita diminta mematuhi pemimpin meski ia seorang budak negro berambut keriting sampai-sampai kepalanya mirip kismis. Kita diminta menjadi barisan ma’mum yang taat, dengan cukup satu imam saja yang memimpin di depan.

Kita juga diminta diam meresapi khutbah Jum’at, tidak bicara meski hanya sepatah kata, dengan cukup satu orang saja yang berdiri di atas mimbar.

Semoga Allah menyatukan hati kita, dan menahan gejolak nafsu menonjolkan diri yang kerapkali mengemuka. Amin.

Marhaban ya Ramadhan!!

Kami tidak berhenti berharap agar – suatu saat – bisa menyambutmu dengan hati penuh sukacita, tanpa terusik keprihatinan dan nestapa!

 

___________

[*] Alimin Mukhtar. Kamis, 28 Sya’ban 1435 H.

 

 

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.