Ulama Mangkat, Bencana Meningkat, Bagaimana Membacanya?

SEBAGAI insan beriman sudah barang tentu kita tidak boleh berhenti memaknai apa yang ada sekedar fenomena biasa.

Sekalipun tetap penting dipahami bahwa semua pemaknaan mesti dilakukan berdasarkan ajaran Islam.

Kemangkatan Ulama Besar Tanah Air, sekelas Syekh Ali Jaber tentu bukan hal biasa. Terlebih tuntunan mengenai hal ini dihadirkan oleh Rasulullah SAW.

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama.” (HR Al-Thabrani).

Hal ini berarti umat akan kehilangan cahaya yang selama ini bersinar dan menyinari kehidupan melalui beragam taushiyah, teladan dan tentu saja seruan-seruan kebaikan.

Allahuyarham Ustadz Abdullah Said pernah menyampaikan dalam satu taushiyahnya bahwa bukan urusan mudah memang menghadirkan cahaya (ulama) bagi umat. Masa itu, wafatnya A. Hasan, Daud Beurueh dan Buya Hamka sampai detik ini belum lagi muncul dalam kehidupan umat.

Maka, wajar jika seorang Tabi’in, perawi yang haditsnya tersebar di Kutubus Sittah, Imam Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah pernah berkata, “Sesungguhnya aku diberitakan mengenai wafatnya seorang ahlus sunnah (ulama), seakan-akan aku kehilangan sebagian anggota tubuhku.”

Musibah Alam di Tanah Air

Belum lama rasanya kita meninggalkan 2020 yang juga penuh dengan musibah kini musibah demi musibah berupa bencana alam kembali melanda.

Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang tahun 2020 telah terjadi 2.925 bencana alam. Banjir menjadi bencana alam dengan jumlah terbanyak tahun itu di Indonesia. Data ini dihitung sejak tanggal 1 Januari sampai 29 Desember 2020.

Kini di awal tahun 2021 bencana alam kembali terjadi. Mulai dari banjir besar di Kalimantan Selatan dan gempa bumi di Mamuju Sulawesi Barat yang mengakibatkan kerusakan cukup serius. Bahkan tim BMH di Mamuju sampai detik naskah ini disusun, belum bisa dihubungi dengan lancar.

Ternyata di awal tahun 2021 telah terjadi 76 kejadian bencana alam terhitung sejak 1 hingga 10 Januari 2021. Ini berdasarkan rilis dari katadata.co.id.

Memandang Bencana Alam

Lantas apa makna dari musibah ini? Penting bagi kita melihat kembali nilai-nilai Islam, agar semua ini dapat mendorong kebaikan dalam diri kita secara kolektif kembali tumbuh dan berkembang.

“Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (Al-Isra'[17]: 16).

Ayat ini jelas menerangkan bahwa ketika ada pengabaian terhadap perintah Allah sementara peringatan telah diberikan, malah semakin durhaka dan menjadi-jadi, alamat suatu negeri kian mendekat dengan masa kehancuran.

Ini berarti, semua pihak, terutama yang merasa dirinya kuat, punya pengaruh dan kekuasaan harus benar-benar mendengarkan seruan kebaikan dari orang-orang yang dekat dengan Allah, mulai dari ustadz hingga ulama, bahkan rakyat kecil sekalipun yang mereka lapar dan dahaga serta menjadi korban kezaliman.

Sejarah telah dikisahkan di dalam Alquran. Bagaimana terdahulu hujan batu melanda Kota Sodom. Kala itu masyarakat Sodom mengabaikan seruan Nabi Luth alayhissalam untuk menghentikan perilaku menyimpang (LGBT). Mereka malah kian durhaka, maka hujan batu pun melanda kehidupan mereka (QS. Hud [11]: 82).

Gempa bumi juga pernah terjadi di masa Nabi Syu’aib alayhissalam. Itu juga terjadi dengan kekuatan dahsyat hingga luluh lantak seluruh kota tempat Nabi Syu’aib berdakwah. Fakta itu dapat ditemui dalam Alquran Surah Hud ayat 94-95.

Pada akhirnya, langkah terbaik dalam membaca dan memaknai semua ini adalah kembali kepada Allah. Jangan pernah beranggapan bahwa dalam hidup di dunia ini tidak ada Tuhan, tidak ada Allah Yang Maha Kuasa. Sebab hal itu adalah kezaliman besar dan kebodohan nyata.

Allah telah mengingatkan dengan tegas. “Dan (ingatlah) bahwa Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya, secara main-main. (QS. Al Anbiya [21]: 16).

Ayat tersebut menerangkan bahwa adanya langit dan bumi dan di antara keduanya itu diciptakan melainkan dengan makna dan tujuan agar manusia mengenal Kemahakuasaan Allah SWT.

Dalam kata yang lain, ketika alam mengalami sebuah pergerakan yang kemudian menjadikan manusia terguncang kehidupannya dan disebutlah itu sebagai musibah, maka jelas di sana sedang ada peringatan. Siapa lagi yang memberi peringatan jika bukan Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, tidak ada jalan terbaik dari ini semua selain terus berupaya meningkatkan iman dan taqwa kepada-Nya dan mempertajam jiwa tauhid di dalam dada kita semua. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi (Ketua Umum Pemuda Hidayatullah)