“Pemuda Tidak Bergerak Percepat Saja Umurnya Jadi 75 Tahun”

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pemuda adalah energi perubahan, karena itu, setiap sosok yang disebut pemuda adalah mereka yang terus bergerak melakukan perbaikan untuk perubahan ke arah yang lebih baik.

Demikian dikatakan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Quro Balikpapan Ust H Hamzah Akbar saat menjadi narasumber dalam salah satu sesi acara Training for Trainers Leadership Training Center (TOT LTC) & Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ) ke-I Pemuda Hidayatullah di Balikpapan, Kamis (18/2/2021).

Hamzah menyebutkan, kalau ada pemuda namun lamban bahkan menjadi pribadi layaknya orangtua renta yang sukar bergerak, maka ia telah menjadi tua sesungguhnya.

“Kalau pemuda tidak bergerak, lebih baik percepat saja umurnya menjadi 75 tahun,” tegas Hamzah.

Sebagai pemuda, lanjut Hamzah, ia harus aktif menjadi solusi dan demikianlah yang telah diteladankan oleh Nabi SAW yang di masa mudanya menjadi penyelesai masalah berbagai masalah masyarakat dan komunitasnya.

“Saya tidak percaya pemuda itu diam, karena pemuda itu bergerak. Dan, ketika pemuda itu bergerak, dia pasti berpikir. Ketika dia berpikir, dia akan memberi dampak pada lingkungan sekitarnya. Karena itulah, disinilah pentingnya paradigma,” kata Hamzah.

Lebih jauh, Hamzah mengungkapkan, Sistematika Wahyu yang menjadi metode gerakan Hidayatullah adalah narasi yang secara paradigmatik melahirkan aksi. Ia lantas kemudian menjadi gerakan transformatif dalam rangka me-landing-kan Islam di muka bumi.

Dia menjelaskan, pemahaman yang konfrehensif terhadap metode Sistematika Wahyu akan menumbuhkan kegigihan untuk menginternalisasi dan mentransformasikannya kepada khalayak luas karena sejatinya inilah pemuas dahaga kerontangnya hati manusia dari siraman rohani.

Keringnya rohani manusia itu, menurut Hamzah, karena sejak dibangku sekolah hingga perguruan tinggi, mereka telah dijejali dengan berbagai teori kapitalisme dan worldview materalisme yang justru tidak semakin memanusiakan manusia. Tetapi, kian mengungkung mereka jauh dari kemerdekaan hakiki.

“Kemerdekaan hakiki itu adalah meng-Esa-kan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan, kita hanya tunduk patuh kepada-Nya dan menegasikan semua hal material sebagai tuhan-tuhan,” katanya.

Oleh sebab itu, dia menjelaskan, Sistematika Wahyu merupakan sistem penjelas agar manusia menemukan Tuhan yang menurunkan ajaran Islam untuk manusia agar manusia menjadi manusia. Dengan kata lain, Islam adalah agama yang memanusiakan manusia.

“Sismematika Wahyu ini memang materi berat karena membahas manhaj. Selain itu, ia juga menuntut adanya narasi, aksi dan transformasi,” kata Hamzah.

Namun meskipun materi yang berat, dia melanjutkan, setelah direnungkan, Sistemarika Wahyu sebagai manhaj gerakan Hidayatullah harus terus ditransformasikan sehingga selalu dalam kesamaan persepsi. Tersebab itu pulalah, kegiatan TOT ini penting dilakukan dalam rangka menjaga mata rantai sejarah itu.

“Karena kalau tidak dilakukan transformasi seperti ini maka dapat memutuskan mata rantai sejarah,” katanya memungkasi. (ybh/hio)