Ditunggu Hadirnya Sosok Sahabat Abu Bakar untuk Merdekakan Palestina

Sebuah rumah di Kota Gaza, Palestina, yang dibom oleh pesawat tempur Israel pada bulan Mei tahun 2021 lalu (Foto: Samar Abu Elouf/ The New York Times)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Selama bertahun tahun Gaza Palestina diblokade oleh Israel yang mengakibatkan negeri itu mengalami krisis. Bahkan blokade ketat itu telah mengakibatkan sumber air penduduk Palestina tercemar. PBB mencatat, 97% air yang tersedia di kawasan tersebut sudah tidak layak untuk dikonsumsi.

Kendatipun demikian, blokade itu tak menyurutkan langkah perjuangan bagi kemerdekaan Palestina dan Masjidil Aqsha. Diantara upaya menembus blokade tersebut adalah konvoi kapal Gaza Freedom Flotilla Mavi Marmara yang sedang mengantarkan barang bantuan untuk rakyat Palestina.

Namun, ketika dalam perjalanan, konvoi kapal kemanusiaan itu diserang oleh gerombolan tentara zionis Israel pada tanggal 31 Mei 2010 Subuh sekitar 4.30 waktu Laut Mediterania. Serangan brutal itu menewaskan 9 aktifiis kemanusiaan dan sedikitnya 60 korban terluka.

Hingga kini blokade masih terjadi dan sepanjang itu pula berbagai upaya untuk menembus blokade tersebut akan terus dilakukan sebagaimana Mavi Marmara.

“Mavi Marmara bukan perjuangan yang sia sia dalam proses perjalanannya itu,” kata pendiri Sahabat Al Aqsha, Dzikrullah W. Pramudya, kepada wartawan dalam acara Peringatan 12 Tahun Mavi Marmara: Arwah Syuhada Ilhami Para Pemuda di Gedung Pusat Dakwah Hdayatullah Jakarta, Selasa (31/5/2022).

Menurut aktifis kemanusian dan wartawan senior yang biasa disapa Babeh Dzikru ini usaha pembebasan Palestina dan Masjidil Aqsha tidak boleh berhenti. Ia pun mengumpamakan kondisi Palestina yang dijajah seperti sahabat Bilal bin Rabah.

“Kalau saya boleh mengibaratkan, Gaza itu kondisinya seperti Bilal bin Rabah yang ditindis batu oleh penjajahnya. Sekarang kita sedang menunggu Abu Bakar untuk menebus membebaskan Gaza Palestina,” Babeh Dzikru.

Dia menjelaskan, sosok Abu Bakar masa kini itu adalah umat Islam dan semua bangsa bangsa yang peduli dengan kemerdekaan. “Karena yang dipedulilan oleh Abu Bakar adalah kemerdekaan yang ditebus dengan harga berapapun,” imbuhnya.

Babeh yang saat ini juga mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah ini mengatakan peringatan 12 tahun Mavi Marmara ini bukan untuk nostalgia, namun untuk merawat api perjuangan, semangat membangun keadilan dan menghapuskan penjajahan.

“Itulah yang ingin tetap hidupkan semangatnya bahwa rakyat Palestina sedang dalam keadaan ditindas dan dizalimi. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan meskipun cuma sedikit karena suatu saat nanti Palestina akan merdeka. Kita pengen sesedikit apapun peran kita, nama kita tercatat, kita punya saham, untuk membebaskan Palsetina,” tandasnya.

Sekedar mengingatkan, konvoi kapal Freedom Flotilla Mavi Marmara diikuti oleh 600 orang lebih relawan dari sebanyak 32 negara negara asal relawan. Ada 9 orang syahid ditembak serdadu penjajah Zionis Israel, 1 orang syahid setelah koma 3,5 tahun, dan 50an luka parah dan ringan.

Adapun 9 orang syahid itu adalah Ibrahim Bilgen (61 tahun), Ali Haydar Bengi (39 tahun), Cevdet Kiliçlar (38 tahun), Çetin Topçuoglu, (54 tahun), Necdet Yildirim (32 tahun), Fahri Yaldiz (43 tahun), Cengiz Songür (47 tahun), Cengiz Akyüz (41 tahun), dan Furkan Dogan (19 tahun).

Ada sebanyak 12 Warga Negara Indonesia (WNI) yang ikut dalam kafilah kemanusiaan itu yaitu dari Sahabat Al Aqsha bekerja sama dengan Hidayatullah ada Dzikrullah W. Pramudya, Surya Fahrizal dan Santi Soekanto.

Dari relawan MER-C ada Nur Fitri Moeslim Taher, dr Arief Rachman, Abdillah Onim, Nur Ikhwan Abadi, dan Muhammad Yasin (Jurnalis TV One). Kemudoan dari Kispa ada Ust H Ferry Nur (Ketua Kispa), Muhendri Muchtar, Okvianto Baharudin, dan Hardjito Warno.

Acara Peringatan 12 Tahun Mavi Marmara ini juga dihadiri tokoh lainnya diantaranya Ketua Mavi Marmara Foundation Ismail Songur, Peneliti Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA) Santi Soekanto, Duta Besar Zainulbahar Noor, Dubes Palestina Zuhair Al-Shun, anggota DPR RI Fadli Zon, Ketum DPP Hidayatullah Dr. Nashirul Haq, Ketua Wantim Hidayatullah, KH Hamim Thohari, wartawan dan korban serangan ‘Israel’ Surya Fachrizal, budayawan Neno Warisman dan Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi.*/Ain