Bintang Kelas (Kelahiran dan Masa Remaja)

Ust Abdullah Sa'idSetelah pindah ke Makassar, Muhsin Kahar meneruskan sekolahnya di kota itu. Ia diterima duduk di Kelas IV Sekolah Rakyat  No 30. Dijalaninya hingga tahun 1958. Di SR ini dia selalu menjadi bintang kelas karena menguasai seluruh mata pelajaran termasuk pelajaran menggambar. Padahal semestinya murid-murid yang berada di kota lebih unggul dibanding murid-murid  dari pedalaman karena pelajarannya lebih teratur dan lebih tinggi materinya. Tapi kenyataannya tidak demikian. Murid-murid yang lahir dan besar di kota dikalahkannya semua. Dia pernah mengangkat nama sekolahnya karena ketika diadakan pertandingan menggambar antar sekolah dasar se Kota Besar Makassar (KBM), hasil coretannya dinilai terbaik. Dia juga sering di tugaskan oleh gurunya menyalin pelajaran di papan tulis karena tulisannya sangat bagus.
Ketika mengikuti ujian akhir Sekolah Rakyat dia mendapatkan nilai tertinggi. Sehingga sangat memungkinkan memilih sekolah favorit. Dia tidak memilih sekolah umum tapi mengincer sekolah agama yakni Pendidikan Guru Agama Negeri 6 Tahun (PGAN 6 tahun).  Dia memilih sekolah ini untuk melanjutkan pendidikannya karena disamping mempelajari agama juga termasuk sekolah yang sangat didambakan waktu itu. Karena tamatan sekolah ini tidak perlu lagi melamar kerja, langsung ditempatkan. Sekolah ini satu-satunya Pendidikan Guru Agama milik pemerintah di kawasan Indonesia Timur.

Satu kebanggaan tersendiri kalau dapat lolos masuk ke sekolah ini karena yang diterima hanya murid-murid yang berprestasi dan lulus test dilengkapi surat keterangan dokter. Disektor lain  sangat menguntungkan terutama bagi orang-orang yang tidak mampu dari segi pembiayaan seperti dia.  Karena siswa-siswa di sekolah ini setiap bulannya menerima tunjangan ikatan dinas (siswa-siswa menyingkatkannya dengan sebutan ID). Dia sangat senang karena dengan diterimanya di sekolah ini, sedikit dapat meringankan beban orang tua untuk pembiayaan sekolah.

Di sekolah ini dia juga selalu menjadi bintang kelas dan terkenal sebagai siswa yang pandai pidato. Disamping itu dia juga selalu menjadi ketua kelas hingga kelas VI. Dalam pertemuan-pertemuan selalu dia dipercayakan memimpin.  Memang sejak duduk di bangku PGAN 6 tahun itu dia sudah dikenal sebagai siswa yang berpengetahuan luas. Mungkin karena kerajinannnya membaca. Tunjangan ID-nya setiap bulan memang hampir tidak ada yang tersisa, semua dibelikan buku-buku. Tidak seperti teman-temannya  yang menjadi prioritas  adalah pakaian untuk penampilan. Maklum di sekolah itu bercampur antara cowok dengan cewek.

Ceweknya rata-rata cantik-cantik dan manis-manis. Muhsin Kahar sangat kurang perhatiannya kepada pakaian. Sehingga sering dia dengan tidak malu-malu menggunakan sarung ke sekolah kalau celananya sedang dicuci dan belum sempat kering. Dia juga akrab dengan kopiah hitam di kepalanya. Teman-temannya sering ketawa sinis melihatnya, karena tidak lazim, tapi dia cuek saja termasuk terhadap cewek-cewek manis. Karena tidak ada juga teman wanitanya yang akrab. Dia tidak pusing dengan kesinisan teman-temannya. Soalnya gurunya diam-diam saja menyaksikan keanehan itu. Mungkin karena dia termasuk siswa yang sangat berprestasi dari segi pelajaran dan sektor-sektor lain. Lagi pula peraturan tentang pakaian waktu itu belum seketat sekarang.

Hal lain yang menyenangkan dia belajar di sekolah ini karena dapat berkenalan dengan siswa-siswa yang berasal dari beberapa daerah seperti Ternate, Manado, Gorontalo, Sangir Talaud, Sulawesi Tenggara dan siswa-siswa yang berasal dari Sulawesi Selatan sendiri.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.