Belajar Lewat Bacaan (Memburu Pengetahuan)

Ust Abdullah Sa'idKegemaran membaca buku sudah terlihat sejak duduk di bangku Sekolah Lanjutan, PGA Neg. 6 tahun Makassar. Dia tertolong dengan tunjangan ID yang diterima setiap bulan. Dia manfaatkan tunjangan itu untuk membeli buku. Sehingga tempat yang paling sering dikunjunginya setiap menerima tunjangan ID dari sekolahnya  adalah toko buku. Demikian pula pada Hari Ahad tempat wisatanya adalah toko buku, kalau tidak ada acara rapat organisasi. Beberapa buah toko buku di Makassar kala itu menjadi langganannya seperti Hidayat Book Store, Toko Buku Rakyat, Taufik Book Store, Toko Buku Assagaf, Toko Buku Aloha, Toko Buku/Percetakan Manokwari. Sebelum saat penerimaan  tunjangan ID tiba buku-buku yang akan dibeli sudah dilirik-lirik.
Sedih sekali perasaannya manakala ada buku yang ingin sekali dimiliki sementara uang di kantong tidak mencukupi. Pada saat seperti itulah sering meminta dengan sangat kepada penjaga toko buku agar buku yang ingin dibelinya itu disisihkan sebuah sambil berusaha mencari duit untuk dapat menebusnya. Karena karyawan-karyawan toko buku pada umumnya telah mengenalnya sebagi si kutu buku maka tidak keberatan menyisihkan buku yang dimaksud.

Demikianlah halnya setelah tampil menjadi muballigh muda yang cukup favorit, setiap saat nampak di toko buku. Sebagian besar honorarium da’wahnya habis untuk buku.

Satu peristiwa di tahun 1967, ketika bangsa ini baru saja lepas dari kekuasaan tirani Orde Lama. Waktu itu  terbit sebuah buku dari seorang tokoh yang selama ini diidolakannya, K.H.M. Isa Anshary. Dalam buku itu sang tokoh itu membahas tentang orde baru: Ciri-ciri orde baru dan orde lama – siapa yang berhak diakatakan orde baru dan siapa pula yang masuk dalam katagori orde lama. Dia ingin sekali membeli buku itu tapi apa daya uang tidak cukup. Tidak henti-hentinya menatap sampul buku itu. Ibarat seorang jejaka yang jatuh cinta kepada seorang gadis. Ingin sekali memilikinya namun apa daya gadisnya tidak mau menyerahkan diri.

Dia memohon dengan sangat kepada penjaga toko buku agar buku Isa Anshary yang stoknya tidak banyak itu disisakan sebuah untuknya sambil diberi kesempatan mencari duit. Dia meninggalkan toko buku itu dengan perasaan yang sangat kesal karena tidak dapat memboyong pulang buku yang sangat diinginkannya. Sambil berjalan dia berfikir dari mana mendapatkan uang untuk membeli buku itu. Disamping itu terbayang kalau penjaga toko buku itu menjual habis. Cover buku yang berwarna kemerah-merahan itu tetap terbayang dipelupuk matanya.

Solusi yang ditemukannya dia segera  menemui temannya yang mengatur jadwal ceramah muballigh-muballigh Muhammadiyah. Dimintanya agar diberi kesempatan ceramah hari ini kalau ada jadwal yang lowong.  Rekannya yang sangat mengerti siapa Muhsin Kahar, segera menunjukkan tempat ceramah yang semestinya diisi oleh rekannya yang mengatur jadwal itu. Pada hari itu juga seusai ceramah langsung menuju toko buku untuk mengambil buku yang sangat diinginkannya itu dan membayarnya dengan uang hasil cermah yang baru diperolehnya.

Ketika memimpin pesantren di Balikpapan, salah satu yang sangat disyukurinya karena obsesinya untuk membeli semua buku-buku yang diinginkan sudah dapat tersalur. Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah sudah mengalokasikan dana khusus untuk itu. Satu-satunya toko buku yang ada di Balikpapan yakni Toko Buku Pembimbing yang terletak di Kampung Karang Jati, tidak jauh dari Sekretariat Pondok Pesantren Hidayatullah, Karang Bugis, menjadi langganan tetapnya. Pemilik toko buku kecil itu sangat diuntungkan karena disamping rajin membeli buku juga mempromosikan kepada jama’ahnya  untuk membeli buku yang baru dibelinya. Sehingga jenis buku yang dibelinya itu sebentar saja ludes. Juga sangat tertolong dengan jama’ah-jama’ahnya yang ada di Pertamina dan di perusahaan-perusahaan asing yang kalau balik ke Jakarta, Bandung, Yogya atau Surabaya menawarkan jasa kepadanya untuk mencatatkan buku-buku yang diperlukan.

Penulis sering diajak menjadi pendamping kalau berkunjung ke Jawa atau ke Sulawesi. Setelah selesai melaksanakan tugas sebagai pimpinan pesantren memberi pengarahan, melakukan peninjauan lokasi, mengadakan dialog – biasanya mencari toko buku untuk membeli buku-buku yang belum dimilikinya. Untuk membeli sekian banyak buku dia rela mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah. Itu di tahun 1980-an, pada saat buku yang tebal-tebal masih seharga belasan ribu rupiah. Sehingga pada waktu kembali ke Balikpapan yang biasanya menumpang kapal PELNI, jarang menggunakan pesawat udara,  berkardus-kardus buku diboyongnya. Toko buku langganannya bila berada di Jakarta adalah Wali Songo, Gunung Agung dan Tintamas. Di Surabaya ke Toko Buku Sari Agung dan toko buku yang ada di Pumpungan dan toko buku lain.

Sering pihak toko buku seperti Toko Buku Sari Agung bertanya, “Apa buku-buku ini untuk perpustakaan, Pak?”, dijawab, “Apa maksudmu ?”. Pemilik toko buku menjelaskan bahwa, “Kalau untuk perpustakaan diberi korting, Pak”.  “O, iya ini memang untuk perpustakaan”. Diskon yang didapatkan dari pembelian ini dimanfaatkan untuk membeli lagi buku-buku. Di atas kapalpun seperti KM. Kambuna dulu ada Toko Buku Sinar Harapan yang terdapat di dek 8 juga tidak luput dari perhatiannya untuk  membeli buku-buku yang menarik.

Penulis memperhatikan yang dibeli bukan melulu buku-buku agama tapi termasuk buku-buku manajemen dan yang berbau manajemen. Buku manajemen tulisan Sondang P. Siagian yang tebal itu juga dibeli. Apalagi buku-buku untuk pengembangan diri seperti buku-buku karangan Dale Carnegie, Napoleon Hill, Norman Vincent Peale, Dr David J.Schwartz, Herbert N.Casson, Stephen R.Covey, Gloria Steinem, John Naisbitt, Alvin Toffler, dll. Buku-buku menyangkut jurnalistik dan kewartawanan, ilmu pernapasan dan pijit refleksi  juga dibelinya. Buku-buku yang tersusun rapi pada ruang perpustakaannya, bukan hanya sekedar hiasan yang memenuhi rak buku tapi memang dibaca habis.

Setiap hari dia juga membaca tiga buah surat kabar ibu kota: Harian Merdeka ketika masih dipimpin B.M. Diah, Harian KOMPAS, Sinar Harapan yang akhirnya berganti nama menjadi Suara Pembaruan[11]. Ditambah dengan surat kabar lokal, Manuntung  kemudian berubah menjadi Kaltim Post dan Suara Kaltim. Majalah mingguan seperti TEMPO,  GATRA,  EDITOR, FORUM Keadilan,  TOPIK, majalah tengah bulanan PANJI MASYARAKAT, Majalah Wanita KARTINI. Termasuk majalah TRUBUS yang banyak  berbicara tentang pertanian dan majalah ASRI, yang khusus memuat model-model rumah dan pertamanan, juga tidak luput dari perhatiannya.

Apalagi pada waktu aktif menulis naskah kajian utama di majalah Suara Hidayatullah, gairah membacanya semakin besar. Karena beliau ingin majalah yang diterbitkan oleh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah itu digandrungi pembaca terutama kalangan generasi muda. Dia membuat tulisan tentang rahasia kehebatan Islam dengan mengambil referensi dari berbagai sumber untuk lebih memudahkan  daya tangkap dan pemahaman.

Ini juga yang membuat ceramah-ceramah yang disampaikan selalu aktual dan menyentuh jiwa. Karena disamping dukungan shalat tahajjud, zikir, baca Qur’an, renungan  yang sangat aktif dilakukannya juga didukung  oleh kuatnya membaca berbagai jenis buku, surat kabar dan majalah. Ditambah dengan mengikuti siaran radio siaran luar negeri yang berbahasa Indonesia seperti BBC London, Voice Of America (Suara Amerika), RASI (Radio Australia Seksi Indonesia) dan RRI sendiri.
Dia sangat terkesan dengan singgungan salah seorang gurunya yang sering dikunjuginya di Pekalongan; yang banyak memberi bimbingan bagaimana cara berceramah yang baik dan menarik, Professor K.H. Abdul Ghaffar Ismail, pendiri dan pengisi tetap Pengajian Malam Selasa (Pemasa) bahwa, “Muballigh yang malas membaca adalah muballigh tai kucing”, artinya muballigh yang kurang bermutu.

[11] Waktu itu baru koran-koran tersebut sebagai koran terbitan ibukota yang masuk ke Balikpapan setiap hari.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.