Nikah dan Bersibak Jalan untuk Mandiri

Ust Abdullah Sa'idUstadz Abdullah Said ingin lebih mengeratkan hubungannya dengan Pak Haji, panggilan Haji Muhammad Rasyid, sehingga menikahi putrinya  yang masih belia, Nuraini Rasyid.  Diadakan pada hari Ahad 26 Agustus 1973 dengan pembawa nasihat pernikahan K.H.Ahmad Marzuki Hasan, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros Sulawesi Selatan yang sengaja diterbangkan dari Makassar. Pernikahan itu merupakan langkah terobosan di Balikpapan karena pengantinnya tidak bersanding dan tamu laki-laki dipisah dengan tamu wanita.

Namun diluar dugaan pasca pernikahan. terjadi hubungan yang kurang harmonis antara sang Ustadz dengan Pak Haji yang sudah berstatus mertua mengakibatkan anaknya juga  tidak berani mendekat. Diantara penyebab ketidak harmonisan itu , Pak Haji menginginkan santri-santri yang semakin hari semakin banyak itu  dipungut pembayaran untuk tinggal dan belajar,  karena memerlukan biaya konsumsi yang tidak sedikit. “Jangan digratiskan terus, karena kalau kamu menggunakan cara gratis untuk seterusnya itu namanya sama dengan bunuh diri”.

Disini letak perbedaan pandangan antara H. Muhammad Rasyid dengan Ustadz Abdullah Said. Menurut pendapat Ustadz Abdullah Said yang disampaikan kepada H. Muh. Rasyid, “Kalau menurut saya, calon-calon kader pejuang yang ditampung ini kalau kita menampung dengan penuh ketulusan dan keikhlasan akan mendatangkan berkah sekaligus rezeki yang banyak, yakin saja Pak Haji !”.  Pendpat seperti ini tidak dapat diterima  oleh Pak Haji Muhammad Rasyid.  Jadi dialog yang terjadi saat itu tidak seperti sebelumnya dimana Pak Haji mudah menerima saran-saran yang diajukan Ustadz. Kini dialog yang terjadi bukan lagi pembicaraan antara  pengurus dengan Ustadznya, tapi antara mertua dan menantunya.

Ditambah lagi dengan ulah sang menantu  yang sering memberi jawaban yang bernada nakal seperti kalau ditanya, “Bagaimana memberi makan kepada anak-anak sebanyak itu?” dijawab bahwa, “Kita masakkan saja Pak Haji, kemudian  ditaruh di piring dan dipersilahkan makan”.  Itu adalah jawaban yang penuh kedongkolan yang sepertinya memang mencari gara-gara. Karena sang Ustadz memang dari semula  tidak menginginkan anak-anak santri itu dipungut bayaran, karena yakin sekali bahwa rezekinya pasti didatangkan oleh Allah SWT.

Dan memang sudah sering terbukti, hanya Pak Haji sangat sulit mengakui.  Lain halnya dengan Ibu Haji, yakin sekali tentang keberkahan yang dirasakan selama menampung santri-santri. Ustadz Abdullah Said juga sudah pernah mengingatkan bahwa, “Rahasia  kemajuan perusahaan  Pak Haji ini, salahsatunya adalah karena adanya anak-anak santri yang ditampung”. Yang memang terbukti usaha itu semakin hari semakin melejit sampai mencapai puncak. Tapi rupanya Pak Haji sulit memahami kalau kemajuan usahanya itu ada hubungannya dengan anak-anak yang ditampung.

Rupanya memang sulit dipertemukan pandangan sosial dengan pandangan bisnis yang selalu berhitung untung rugi secara materi. Ujung dari ketidaksepahaman itu yang semakin hari semakin menajam yang sepertinya tidak dapat lagi ditumpulkan, adalah perceraian. Ustadz Abdullah Said mengambil keputusan untuk bercerai dengan Haji Muhammad Rasyid yang  tidak dapat disangkal jasa-jasanya didalam menopang langkah awal berdirinya sebuah lembaga pendidian Islam yang bernama pesantren yang pertama di Balikpapan.

Juga terpaksa bercerai dengan istrinya, Nuraini Rasyid tanpa dukhul. Karena menurut Ustadz Abdullah Said sang anak dilarang disentuh sebelum mengikuti keinginan Pak Haji. Ustadz Abdullah Said berusaha untuk mampu menahan diri untuk tidak meyentuhnya selama hampir satu tahun lamanya.  Akhirnya sampailah pada puncak ketegangan  dimana perpisahan sulit dihindari. Dari mulut Pak Haji keluar kata-kata sinis, “ Tinggalkanlah tempat ini tapi yakinlah bahwa pekerjaanmu itu tidak dapat berlanjut. Potong jari tangan saya kalau dapat berlanjut, dimana kamu ambil uang untuk melanjutkannya”.  Ucapan ini dijadikan cemeti oleh Sang Ustadz untuk dapat lebih mempercepat  perjalanannya menuju  cita-cita.

Sebenarnya di balik rasa benci Haji Muhammad Rasyid kepada Ustadz Abdullah Said ada juga terselip rasa kagumnya. Karena sebelum Uastadz Abdullah Said nikah dengan anaknya pada waktu istri Pak Haji kena sakit, ada gangguan pada otaknya  yang sulit disembuhkan sehingga harus dibawa ke Jogjakarta dan dokter-dokter di Jogja menyarankan agar berobat di Amerika,  pada waktu itu Pak Haji sudah kebingungan.

Tapi demi kesembuhan istri apa boleh buat, kalau memang harus diberangkatkan ke Amerika. Pak Haji tidak persoalkan berapapun biaya yang harus dikeluarkan.  Namun ada saran dari Ustadz Abdullah Said agar sebelum diberangkatkan ke Amerika kita shalat lail bersama dulu tiga malam berturut-turut untuk meminta pertolongan dari Allah SWT. Karena bagi Allah tidak ada yang sulit. Setelah hal itu dilakukan ternyata ada keajaiban, penyakit istrinya yang sulit disembuhkan itu dan harus dibawa ke Amerika untuk disembuhkan, dapat sembuh total.

Pada waktu Pak Haji melihat keajaiban itu, dengan tidak berfikir panjang lagi seluruh tempat dan bangunan yang ada diatasnya di Gunung Sari yang sekarang bernilai milyaran rupiah, diserahkan kepada Ustadz Abdullah Said didepan notaris. Tetapi sang Ustadz tidak pernah menuntut. Menyinggung-nyinggungpun dengan maksud ingin mengupayakan menjadi miliknya tidak pernah. Padahal rumah dan tempat yang diserahkan itu bernilai milyaran rupiah. Kalau dia ingin menuntut pemilikan harta itu sangat wajar ditinjau dari sudut hukum. Karena penyerahannya dilakukan di depan notaris.

Namun setelah muncul kebencian, keajaiban yang disaksikan secara langsung itu tidaklah membuatnya lunak untuk kembali menjalin hubungan baik dengan Ustadz yang telah menjadi menantunya itu. Sang istrilah yang menderita batin. Setelah mengalami kesembuhan dari gangguan yang ada pada otaknya timbul lagi penyakit baru berupa tumor pada tangannya. Menurut pengakuan Ibu Haji , “Ini adalah akibat tekanan bathin melihat ketidak harmonisan antara Pak Haji dengan menantunya”. Demikian disampaikan kepada Manandring AG, kemanakannya.

Karena Ibu Haji sendiri sangat mencintai menantunya yang Ustadz itu. Dia tidak tega melihat menantu yang disayanginya itu diperlakukan seperti itu. Apalagi dia merasakan sekali jasa-jasanya pada waktu kena penyakit yang sulit disembuhkan dan Ustadz berhasil menyembuhkan lewat do’ dan munajat.

Lebih meyakinkan lagi adanya keberkahan itu karena sejak Ustadz Abdullah Said meninggalkan tempat itu,  perusahaan yang dikelolanya merosot terus menerus. Setelah lama menderita sakit Ibu Haji akhirnya meninggal dunia.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.