“Sangat Terasa Semangat Pengorbanan dan Ukhuwah”

Ormas Islam Hidayatullah baru saja menutup secara resmi helat Silaturrahim Nasional (Silatnas) dan Milad ke-40 tahunnya di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat, Gunung Tembak, Balikpapan.

Hadir pada Silatnas yang dibuka mantan Mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Sabtu (22/6) itu lebih dari lima ribu peserta yang terdiri dari para kader Hidayatullah dari 33 provinsi di Indonesia.

Jusuf Kalla mengapresiasi peran Hidayatullah dalam kiprah dakwah dan pembangunan ummat. Bahkan Ketua Dewan Masjid Indonesia itu menilai, meskipun ormas tersebut dari sisi usia termasuk yang termuda di banding ormas Islam lainnya, namun dari sisi kiprah dan perkembangannya merupakan  ormas tiga terbesar setelah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Cepatnya perkembangan dan peran Hidayatullah tidak terlepas dari pola pengkaderannya diantaranya menempatkan kader di berbagai pelosok tanah air dengan bekal keyakinan Allah pasti membantu tugas dakwah mereka.

Ormas ini juga membuka diri untuk bagi siapapun yang ingin berpartisipasi, asal memiliki niat ikhlas dan tekad memberi sumbangsih bagi dakwah Islam.

Dai Nasional Hidayatullah Ustadz Anwari Hambali kepada Riau Pos Senin (24/6) mengemukakan potensi apapun bisa diterima di Hidayatullah. Ia menunjukkan seorang warga yang memiliki kemampuan bela diri yang ingin bergabung dengan Hidayatullah. Karena kemampuannya itu ditempatkan sebagai tenaga keamanan di Kampus Hidayatullah.

“Siapapun dengan potensi apapun bisa bergabung dengan Hidayatullah. Syaratnya mau melaksanakan salat jamaah lima waktu,” ujarnya.

Selain itu, Hidayatullah menjadikan Salat Tahajjud sebagai “penolong” dalam dakwah. Riau Pos merasakan sendiri, setiap malam ribuan peserta silatnas memenuhi masjid melaksanakan Salat Tahujjud mulai pukul tiga dinihari hingga menjelang subuh.

Satu lagi, mayoritas kegiatan silatnas dipusatkan di masjid dan setiap kegiatan dimulai dengan membaca ayat-ayat suci Al-Quran.

Suasana silaturrahmi, sangat terasa dalam Silatnas tersebut, bukan sekadar reuni, tapi mereka saling mencerita pengalaman dakwah masing-masing dari seluruh pelosok di negeri. Tidak sedikit  kader sengaja mengumpulkan bekal sejak bertahun-tahun untuk hadir dalam Silatnas tersebut.

Pembina Tafaqquh Study Club Riau Ustad Dr Musthafa Umar yang juga turut hadir dalam Silatnas tersebut  mengemukakan berdasarkan pengamatan dan diskusi dengan peserta Silatnas, ia mendapat   beberapa pelajaran dan kesan dari helat tersebut, pertama, para dai Hidayatullah hadir dari seluruh Indonesia dengan nilai pengorbanan.

Kedua, suasana silaturrahim sangat terasa karena masing-masing memiliki kerohanian yang kuat dalam ukhuwah. ”Ini mesti dicemburui,” ujarnya.

Ketiga, dari tema Silatnas ”Transformasi Peradaban Menuju Indonesia Maju Bermartabat”, organisasi yang didirikan almarhum Ustad Abdullah Said itu sudah berorientasi kepada cita-cita besar yakni peradaban.

”Dari pengamatan saya selama Silatnas ini, cita-cita itu tidak jauh dari kenyataan, ini sangat realistis. Kader Hidayatullah sudah membuat ”titik-titik” di seluruh Indonesia, nanti tinggal menyambungkan ”titik-titik” tersebut ,” ujarnya.

Terakhir, pakar tafsir Riau itu mengemukakan, ajang Silatnas tersebut terbukti  menambah kekuatan spiritual bagi kader untuk meningkatkan kualitas pengabdian ketika kembali ke daerah masing-masing. (Idris/RP)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.