Tak Ada Televisi, Koran Jadi Pusat Informasi

SEHARI semalam “nyantri” di Ponpes Hidayatullah, Kaltim Post merasakan suasana kekeluargaan yang Islami kental terasa. Apalagi dengan intensitas ibadah yang lebih tinggi dari hari biasa.

Ditambah lingkungan pesantren yang asri dengan rimbun pepohonan serta danau yang tenang, menjadikan suasana lebih nyaman. Diakui media yang terbesar di Kalimantan Timur ini, keberadaan mereka sehari semalam di Kampus Hidayatullah Balikpapan bagai sedang melakukan kunjungan wisata religi.

Hal itu diulas panjang lebar media ini beberapa waktu lalu dalam sebuah tulisan berseri bertajuk “Ramadhan di Kota Santri”.

Bendahara Ponpes Hidayatullah Balikpapan, Achmad Sujaib, mengatakan di rumah warga di kompleks pesantren, tak ada televisi. Bagi warga pesantren, televisi termasuk barang yang banyak mudaratnya. Agar tak ketinggalan informasi, warga dan santri di ponpes selalu mengikuti pemberitaan di media massa. Biasa didapatkan dari koran atau majalah.

Di luar kegiatan akademisi, satu yang identik dari ponpes ini adalah rutin menggelar nikah massal bagi santri yang sudah memasuki usia dewasa dan ingin segera berkeluarga. Prosedur nikah massal ini sangat ketat. Kedua calon pasangan tidak boleh bertemu sebelum akad nikah.

Pemilihan jodoh dilakukan dengan mengisi formulir kesediaan untuk menikah, kemudian berkonsultasi dengan pihak panitia untuk mencari kecocokan kriteria calon pasangan hidup.

Peserta cukup menyerahkan Rp 2 juta. Jumlah itu sudah termasuk mahar, pakaian masing-masing kedua mempelai, pengurusan surat-surat administrasi ke Kantor Urusan Agama (KUA), dan konsumsi pembinaan pranikah peserta selama 15 hari.

Ada 800-an santri putra dan putri di Ponpes yang terletak di bilangan Gunung Tembak, Balikpapan, ini. Jumlah  terbanyak santri putri sekira 450 orang, sisanya santri putra. Mereka terpisah asrama dan tidak pernah ketemu satu sama lain. Kecuali ada acara besar yang diadakan ponpes, itupun mereka dipisahkan dengan hijab yang menjadi pembatas.

Masih dalam ulasan media tersebut, Pesantren yang bernaung di bawah Yayasan Hidayatullah ini juga punya gerai Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Santri yang ditunjuk, biasanya aliyah dan mahasiswa, turun ke kota untuk menggalang dana dari masyarakat yang peduli, baik secara door to door maupun dengan membuka gerai pelayanan. (kp/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.