Mari Menjaga Aqidah Islam Masyarakat Owu

Di Desa Owu, suatu malam. Kami tidak mendapati ada lampu pelita yang menyala. Bangunan masjid juga tampak sepi di gelap yang sudah tua itu. Tak ada riuh rendah masjid itu beraktifitas di awal pagi.

Kondisi masjid berukuran 10 x 10 meter yang terbuat dari kayu itu lengang. Hanya kami bertiga. Suasana ini seperti waktu-waktu shalat di lima waktu dalam seharinya. Nanti di hari Jumat barulah terlihat memenuhi shaf terdepannya, karena anak kecil berada di shaf ke dua itupun hanya berkisar 10 sampai 15 anak dengan pakaian sekedarnya.

Pagi yang sunyi di Desa Owu, suara kicauan burung lebih riuh dari yang saya gambarkan. Jam analog di ponsel menunjukkan jam 5.30 saat saya beranjak meninggalkan masjid bersama teman dari Mamuju Utara.

Salah satu desa di Kecamatan Riopakava, Kabupaten Donggala ini sebenarnya adalah lokasi transmigrasi yang dikhususkan bagi warga suku Kaili yang mendiami hutan di sini belasan tahun sebelum ada program transmigrasi pemerintah Sulawesi Tengah.

Berjarak sekitar 200 kilometer arah selatan kota Donggala, dengan medan tempuh belum beraspal sekitar 60 kilometer setelah lepas dari jalan poros Pasangkayu di provinsi yang berbeda, Sulawesi Barat. Itulah kecamatan Riopakava, lebih dekat jaraknya dengan Kabupaten Mamuju Utara meski beda propinsi dari pada Donggala yang menjadi ibu kota kabupatennya.

Dari pantauan kami, bahasa di sini sangat kental dialek Kaili daripada Pasangkayu meski sudah ada pembauran masyarakatnya.

Tercatat ada 51 rumah penduduk tertata rapi. Awalnya tidak terdapat fasilitas umum seperti sarana Mandi Cuci Kakus (MCK), sarana pendidikan maupun kesehatan. Mungkin karena tempatnya yang bersebelahan dengan unit pemukiman transmigrasi umum sehingga sekarang  terlihat beberapa fasilitas tadi sengaja dibangun di perbatasan dengan tujuan memudahkan jangkauan.

Yang menarik bagi saya adalah, suasana mesjid dan kegiatannya. Saya tidak melihat ada al-Quran maupun buku-buku pelajaran lain di mimbar masjid yang biasa dibuat sekaligus berfungsi sebagai rak buku khutbah dan al-Quran.

Kegiatan dakwah mulai terlihat ketika Ustadz Abdy Roziqin, dai utusan Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) yang berdomisili di Desa Pantolobete, sekitar 20 kilometer dari desa itu mulai mengalihkan kegiatannya ke Desa Owu.

Beratnya medan serta tantangan cuaca yang membutuhkan niat dakwah kuat membuat Abdi Roziqin memilih untuk bertahan dengan beradaptasi semampunya. Terpeleset dan akhirnya jatuh dengan istri dan 4 anaknya saat naik motor di jalan yang terjal, mendorong sepeda motor karena ban bocor, tidak ada jaringan seluler, kebiasaan ini menjadikannya nikmat dengan pilihannya.

Saya sendiri saat dengan keluarga menuju ke tempat itu menggunakan sepeda motor di beberapa pendakian dan jalan rusak harus menurunkan semua penumpang dan barang.

Memang menarik bagi saya untuk lebih dekat dengan masayarakat di sini. Karena pola hidup yang sebelumnya cenderung nomaden itu sangat mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir masyarakat Owu umumnya meski semuanya muslim.

Meski ada ruang pertemuan desa yang digunakan sebagai ruang belajar murid sekolah dasar di pagi hari, masih ada saja anak-anak yang berkeliaran, ada yang asyik bergerombol mencari ikan di pinggir sungai dan sebagian lain disibukkan dengan anak burung yang baru menetas di sarangnya yang sudah berhari-hari mereka intai.

“Malaska’ sekolah, apa ditumpuk (digabung-red) kita di satu ruangan,” kata Rijal menjelaskan alasannya dengan logatnya yang khas.

Memang saya melihat kondisi ruangan yang jauh di bawah standar pendidikan kita. Di ruangan 6 x 10 itu berjejal 20 murid dengan berbeda kelas di jenjang sekolah dasar, sesekali terlihat ibu guru menyeka keringat yang muncul di keningnya.

Tidak terdapat taman pendidikan qur’an atau rumah-rumah yang biasanya didatangi anak-anak di sore hari yang berbondong-bondong dengan Quran atau buku Iqra’ lusuhnya.

Tidak jua terlihat pula kerumunan ibu-ibu yang rutin di majelis taklim, bahkan melihat perempuan berjilbab mereka sedikit asing. “Tidak panaskah komiu (kamu) punya badan,” rupanya ada yang tertarik bertanya.

Di atas Mega Pro tua yang mengantarku pulang, sempat saya menghayal “Kalau saja kedatanganku bulan depan ada sesuatu yang bisa saya bawa untuk mereka, kotak kanan berisi jilbab dan kotak kiri berisi Qur’an lalu disambut senyum khas Owu yang bercampur air merah pinang disudut bibir”. Owu, jauh dari keramaian dan pikiran semua orang. (Laporan Muhammad Bashori, dai dan reporter Hidayatullah.or.id di  Mamuju Utara)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.