Antara Suami dan Istri Harus Bersinergi, Bukan Berkompetisi

HIDORID — Permisivisme dilatarbelakangi oleh masssifnya teknologi informasi yang mudah diakses kapan dan di mana saja, tidak dapat dinafikkan telah memunculkan sikap individualistik di masyarakat. Tak terkecuali juga telah menjangkiti pasangan suami istri.

Dampaknya kemudian adalah tidak sedikit dari masyarakat muslim yang berubah menjadi egois dan berusaha mendominasi yang lain. Terlebih, ini dipandang sangat berbahaya apabila menjangkiti salah satu dari pasangan suami istri.

Demikian benang merah taushiah pernikahan yang disampaikan anggota Dewan Syura PP Hidayatullah, Ustadz Abdul Aziz Kahar Muzakkar, dalam acara pernikahan salah satu warga Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, akhir Oktober (26/10/2013) lalu.

Dalam pada itu, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sulawesi Selatan ini menegaskan ketidaksetujuannya terhadap ide kesetaraan gender (feminisme) yang digagas kelompok sekuler-liberal.

Pasalnya, jelas dia, jika perempuan menjadi pemimpin dalam rumah tangga maka akan terjadi kekacauan. Secara tersirat ia mengimbuhkan bahwa dalam ide feminisme sejatinya mengejawantah nilai-nilai absurd yang mendorong wanita harus sama diposisikan layaknya laki-laki yang pada akhirnya ini nampak sebagai sebuah kompetisi.

Padahal dalam kajian Islam dan literatur ilmiah telah disebutkan bahwa tak sama secara fisik antara laki-laki dan perempuan, sehingga tak semestinya itu kemudian dipaksakan harus setara porsinya. Dalam Islam, kata dia, telah jelas bahwa muslim laki-laki dan muslim perempuan setara kedudukannya di sisi Allah. Yang membedakan adalah taqwanya.

“Amanah dari al-Qur’an, adalah ‘arrijalu qowwamuna alan nisa….’ Ini yang harus diletakkan dalam rumah tangga, bahwa lelaki atau suami adalah pemimpin bagi istri,” ujarnya berpesan sembari mengutip al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 34.

“Bagaimana kita benar-benar menempatkan suami sebagai pemimpin. Secara singkat, bahwa salah satu sumber kekacauan rumah tangga menurut Islam ketika justru istri menjadi dominan mengatur rumah tangga, dominan mengambil keputusan,” lanjutnya.

Aziz Kahar menjelaskan, dalam lanjutan ayat yang dibacanya, ada dua sebab mengapa laki-laki dipilih sebagai pemimpin bagi istri. Pertama, Allah memberikan karunia kepada laki-laki dengan fisik dan mental yang lebih kuat dibanding perempuan.

“Kedua, karena laki-laki itu menafkahi istrinya. Itu sebabnya dalam Islam, suami wajib hukumnya mencari nafkah untuk menafkahi keluarganya. Barangsiapa suami tidak bekerja, tidak mendatangkan uang, maka dia berdosa. Karena tidak menjalankan syariat Islam mencari nafkah,” papar Ustadz Aziz.

Aziz menegaskan, seorang istri tidak dibebankan kewajiban mencari nafkah. Kalau toh ada istri yang bekerja dan berpenghasilan, pada hakikatnya suaminya tidak berhak mengetahui berapa penghasilan istrinya. Diantara suami dan istri pun tidak boleh saling berkompetisi karena ingin dianggap paling hebat dalam rumah tangga, namun yang dibangun adalah sinergi untuk saling berpadu dalam kebersamaan dan kasih sayang.

Aziz berpesan kepada tiap pengantin, agar dalam perjalanan rumah tangga mereka tidak melihat kekurangan masing-masing pasangan. Meski setiap orang memiliki kekurangan, di baliknya banyak kelebihan.

“Pergaulilah istrimu itu dengan baik, seandainya ada sesuatu yang kamu tidak suka pada istrimu, maka insya Allah, Allah menyimpan banyak kebaikan pada setiap satu kekurangan pasangan kita,” pesannya.

Banyak Anak
Di kesempatan yang sama, Ustadz Nursyamsa Hadis yang berbicara mewakili kedua mempelai, mengatakan pasangan suami istri jangan takut punya anak. Bahkan, jika bisa, “cetaklah” anak sebanyak-banyaknya. Hal itu kata dia senada dengan imbaun Rasulullah yang bangga melihat umatnya banyak anak.

“Salah satu ciri orang yang bertauhidnya bagus, tidak takut memiliki anak yang banyak,” ujar Ustadz Nursyamsa dalam sambutannya sebagai ruan rumah. Tampak undangan tersenyum lebar mendengarnya.

Pria yang pernah menjadi guru di Madrasah Aliyah Hidayatullah Gunung Tembak ini merupakan anak ketiga dari 8 bersaudara.

“Di antara saya bersaudara, masih saya yang paling banyak anaknya, ada tujuh orang. Semoga mempelai bisa lebih banyak dari saya anaknya,” harapnya bernada guyon. (skr/ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.