Tetap “Hidup Berkampus” Meski Tinggal di Luar Kampus

shalat berjamaah

Umat Islam shalat di masjid

HIDORID — Visi Allaahuyarham Ustadz Abdullah Said mendirikan Pesantren Hidayatullah, kini ormas, adalah agar terbangun komunitas masyarakat yang menjalankan nilai nilai agung ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai agung itu seperti terjaganya hijab, mendirikan shalat berjamaah di masjid, alam yang nyaman, aman, dan islami, fastabiqul khairat, silaturrahim erat terjalin, dan kasih sayang antar sesama, dan sebagainya .

Namun kini Hidayatullah bukan lagi semata pesantren, yayasan sosial penyantunan anak terlantar, atau lembaga pendidikan. Hidayatullah seperti diketahui telah dideklarasi pada tahun 2000 silam sebagai organisasi masyarakat yang terbuka untuk umum. Sehingga kaum Muslimin yang mengidamkan suasana mulia itu berbondong-bondong untuk bergabung ke Hidayatullah.

Dengan perkembangan kuantitas organisasi yang begitu dinamis, kampus-kampus Hidayatullah di seluruh Indonesia pun bergeliat. Sejumlah kampus Hidayatullah pun tidak lagi mampu menampung warga seluruhnya dengan keterbatasan komplek yang ada.

Praktis, dalam kondisi demikian, mau tidak mau, ada warga atau jamaah yang memilih tinggal di sekitar kampus baik dengan mengontrak atau membangun rumah sendiri. Hal itu dilakukan agar mereka tetap dapat merasakan suasana hidup berkampus.

Perubahan adalah keniscayaan. Dengan statusnya sebagai ormas, tentu saja warga Hidayatullah terus berkembang dan tersebar di mana-mana. Kader tidak lagi dibatasi komplek atau daerah tertentu. Dengan demikian tentu saja tradisi hidup berkampus yang menjadi visi besar pendiri Hidayatullah memerlukan elaborasi agar kader tetap dapat merasakan suasana “berkampus” meskipun tidak tinggal di lingkungan kampus.

Pengusaha yang juga politisi BM Wibowo Hadiwardojo, kepada media ini mengatakan tradisi hidup berkampus ala Hidayatullah merupakan khazanah islam yang diwariskan anak bangsa sendiri yang perlu terus dijaga dan dilestarikan.

Ia pun mengakui tradisi hidup berkampus dalam rangka menjaga kontinuitas ibadah kepada Allah dan menjaga nilai-nilai adab Islami ini teramat penting di tengah “hura-hura” materialis dan permisivisme dunia saat ini.

“Setiap kader mengidamkan kehidupan berkampus. Tapi tentu setiap kampus Hidayatullah dibatasi luas dan infrastrukturnya. Sehingga kader harus mentradisikan diri hidup berkampus meskipun tidak tinggal di kampus,” kata BM Wibowo dalam perbincangan dengan Hidorid, Kamis (14/11/2013).

Pria yang kini aktif di salah satu partai politik ini menjelaskan, tradisi “hidup berkampus” tetap dapat dijalankan dan dijaga di mana pun kader berada dengan di waktu yang sama selalu meniatkan setiap pekerjaan dalam rangka untuk memberikan manfaat kepada umat.

“Merupakan tantangan berat ketika kita tinggal di sebuah komunitas masyarakat yang jauh dari nilai-nilai agung ajaran Islam. Inilah medan dakwah, jangan menghindar. Kita berusaha menciptakan suasana hidup berkampus di sana,” terangnya.

Kendati demikian, Wibowo menegaskan, tidak mudah untuk berkecimpung di komunitas sosial apabila seseorang tidak punya kecakapan interaksi dan emosional yang baik. Sebab pada kenyataannya semua orang memiliki karakter yang berbeda-beda.

Untuk itu ia memandang perlunya warga Hidayatullah yang tinggal di kampus-kampus Pesantren Hidayatullah agar tak hanya sibuk beraktifitas di dalam saja, tetapi juga aktif menjalin komunikasi keluar dan silaturrahim kepada siapa saja.

“Agar ketika sewaktu-waktu dipindah dan harus tinggal di luar kampus biasa saja, dan tradisi hidup berkampus pun tetap terjaga,” tandasnya. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.