Hidayatullah Yogyakarta Raih 19 Piala dari POSPEDA Sleman

Para juara dengan tropi kebanggaannya

Para juara dengan tropi kebanggaannya

HIDORID — Haris Sunandar tersenyum bahagia. Kalimat tahmid beberapa kali terapal dari mulutnya.

Kebahagiaan itu membuncah sesaat setelah santri asal Banyuwangi, Jawa Timur itu mengalahkan lawanya dalam lomba Pencak Silat tingkat Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren (POSPEDA) Kabupaten, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama 6-7 November.

Santri Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah Yogyakarta yang berbadan tinggi besar ini berhasil meraup poin cukup telak setelah beberapa tinjunya mengenai tepat di dada lawan.

“Alhamdulillah, akhirnya juara satu juga,” tuturnya semringah.

Senada yang dirasakan  Muhammad Rizki. Santri kelas dua Madrasah Tsanawiyah (MTs) Hidayatullah itu juga melenggang mulus ke tingkat final setelah memukul mundur beberapa lawan dari pesantren lain.

Di tingkat final itu, santri asal Lampung yang baru pertama kali ikut lomba itu bisa menggondol juara satu di cabang Pencak Silat.

Tidak hanya di cabang olah raga bela diri yang diadakan selama dua hari di daerah komplek Bupati Sleman. Para santri pesantren yang terletak di dusun Balong, Donoharjo, Sleman itu juga berhasil memborong sekitar 19 piala dari berbagai cabang olah raga dan seni. Seperti: bola voli, bulu tangkis, tolak peluru, lari, cipta puisi, dan pidato bahasa Inggris. Rata-rata santri merebut juara satu, dua, dan tiga.

Kejuaaran paling seru diraih saat mengikuti lomba bulu tangkis. Maklum, para lawan dari pesantren lain memiliki kemampuan yang tidak bisa dianggap enteng.

Bahkan, salah satu musuh di lini single, Fikri, harus berhadapan dengan lawan dari Muhammad Boarding School (MBS) yang pernah masuk tingkat provinsi.

Kendati begitu tidak membuat santri asal kota Gudek ini keder. Dia tampil maksimal dengan smash–smash menukik. Dia bahkan bertahan main hingga tiga set.

Namun akhirnya dia harus mengakui kemampuan lawannya yang berada satu tingkat di atasnya.

“Meski kecil, tapi kemampuan lawan saya tadi luar biasa. Dia pantas jadi juara satu,” ujarnya.

Sedangkan di jalur perseorangan ganda putra yang diwakili Fiqi Setiadi dan Ahmad Fuadi berhasil merebut juara satu.

Untuk merebut peringkat ini, mereka harus menyisihkan lawan dari pesantren lain.

Untung saja, kemampuan dua pebulu tangkis Hidayatullah ini bisa mengalahkan mereka. Dengan tidak mendapat perlawanan cukup sengit, mereka dengan mudah bisa menggondol medali juara satu.

Sementara, untuk kompetisi cipta puisi juara satu diraih Aziz. Dia mengangkat tema masalah korupsi. Tema itu sengaja diambilnya sebagai kritik dan ekspresi kebencian pada korupsi yang seperti lingkaran setan yang tak pernah berakhir di negeri ini.

“Semoga bisa menjadi otokritik bangsa ini,” terangnya.

Mengkritisi terorisme, pidato bahasa Inggris (English speech contest) juara ketiga diraih oleh Faza Auliya Rabbi.

Faza mengangkat tema peran pesantren dalam menanggulangi terorisme. Tema ini adalah salah satu dari empat pilihan panitia.

Dalam materi ceramahnya, santri asal Jawa Timur ini melihat terorisme dalam skala global.

Katanya, isu terorisme yang terjadi di dalam negeri tidak serta merta terjadi begitu saja, melainkan efek dari politik global.

“The terrorism issue happened because of the clash of civilization between west and Islam as Samul P Huntington said in his book,” katanya.

Dia merujuk pada tesis ilmuan politik dari Harvard University, Samuel P Huntington dalam bukunya, “The Clash of Civilization and the Remarking of World Order”.

Dalam buku yang pernah menggoncang perpolitikan Barat itu disebut bahwa satu-satunya ancaman peradaban Barat adalah Islam.

Adapaun konflik kapitalis-Barat versus Marxis-Komunis hanya konflik sesaat. Berbeda dengan Islam yang memiliki konsep dan nilai peradaban yang jelas dan mengakar.

Buktinya, pasca tragedi September 2001 runtuhnya World Trade Center (WTC), Amerika Serikat melakukan kebijakan politik luar negeri apa yang disebut ‘war on terrorism.’

Materi pidato Faza bernuansa analisa-kritis dan boleh dibilang cukup berbeda dari mainstream sudut pandang peserta lainnya.

Karena itu, santri yang akrab disapa Faza ini tidak begitu yakin jika masuk tiga besar.

“Alhamdulillah, ternyata bisa masuk tiga besar juga. Nggak nyangka,” ujarnya.

Setelah usai lomba, para santri dan juga supporter yang sengaja dibawa dari Pesantren untuk memeriahkan jalanya lomba pulang bareng naik mobil pick up.

Selama di perjalanan mereka tampak gembira sambil mengangkat tropi mereka.*/kiriman Syaiful Anshor (Yogjakarta)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.