Membangun Kampus-kampus Informal Hidayatullah

Wahyu Rahman (batik merah) bersama Ketua MUI Kota Cirebon

Wahyu Rahman (batik merah) bersama Ketua MUI Kota Cirebon

HIDORID — Dinamika Hidayatullah sebagai sebuah organisasi massa senantiasa berbenah. Keniscyaan itu didorong salah satunya oleh terus bekembangnya kuantitas kader. Kondisi ini memungkinkan warga Hidayatullah di mana pun untuk membagun kampus-kampus informal.

“Kampus yang ada saat ini adalah kampus formal. Namun sesungguhnya kampus-kampus informal sangat mungkin kita wujudkan lewat kemampuan seorang dai,” kata Ketua PP Hidayatullah Wahyu Rahman ditemui media ini disela-sela acara Sidang Pleno PP dan Dewan Syura Hidayatullah di Depok, Jawa Barat, Kamis (21/11/2013).

Kampus informal ini disebut dia sebagai ejawantah dari spirit Piagam Gunung Tembak yang diluncurkan Juni 2013 lalu. Jadi, tegas Wahyu, kampus-kampus informal ini bisa dan memungkinkan dibangun di mana saja sesuai dengan kemampuan setiap warga dan dai Hidayatullah.

Kata Wahyu, di mana pun berada setiap kader harus memiliki halaqah taklim dan aktif membangun silaturrahim kepada siapa pun, jika tinggal dekat pondok agar mengusahakan untuk shalat berjamaah di pesantren serta membuat komunitas “hidup berkampus” di mana dia berada. Inilah, kata Wahyu, yang dinamakan kampus-kampus informal itu.

“Kader itu harus bisa memberikan pengaruh, membentuk arus bukan ikut arus. Kader Hidayatullah sebagai dai harus mampu membuat pengaruh terhadap lingkungannya sehingga di mana pun ia berada akan tercipta lingkungan dan kultur berkampus itu,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini kampus-kampus formal Pesantren Hidayatullah lebih menekankan untuk pengelolaan pendidikan sebagai layanan publik untuk umat. Sehingga orang orang yang hidup di kampus sejatinya berhubungan dengan pendidikan, apakah dia pengasuh, guru, kepala sekolah.

Selebihnya itu, karena memang tempanya terbatas, Wahyu mengusulkan agar warga tinggalnya di dekat dekat kampus yang tetap menjalankan pola kepesantrenan dan budaya hidup berkampus, di mana halaqah taklim salah satu arusnya.

“Solusi untuk menjaga kultur dakwah, kita harus membuat suatu lingkungan yang mana tata kehidupannya itu dikelola dengan ala kepesantrenan,” tandasnya. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.