Pimpinan Umum Rekomendasikan PKL Berbasis Masjid

Sejumlah mahasiswa STIE Hidayatullah di runga kuliah / IST

Sejumlah mahasiswa STIE Hidayatullah di runga kuliah / IST

HIDORID — Hasil kajian Biro Litbang PP Hidayatullah terhadap pelaksanaan Praktik Kuliah Lapangan (PKL) atau umumnya disebut KKN yang diselenggarakan STIE Hidayatullah Kota Depok selama ini menunjukan fakta yang menggembirakan.

“Respon masyarakat dan jamaah masjid sangat positif terhadap pelaksanaan PKL STIE Hidayatullah baik dari segi waktu, tempat, maupun program yang selama ini dijalankan,” kata Ketua Biro Litbang PP Hidayatullah, Dr Abdullah, kepada Hidorid, Rabu (04/12/2013).

Dari serangkaian pantauan lapangan yang dilakukan pihaknya, Abdullah menyebutkan masyarakat dan jamaah menilai bahwa profil mahasiswa STIE Hidayatullah yang melakukan PKL berbeda dengan mahasiswa KKN yang selama ini ada di tengah masyarakat. Masyarakat menilai, mahaisswa STIE HIdayatullah yang KKN/PKL di masjid-masjid tidak hanya memiliki ketajaman intelektual, tapi juga memiliki keunggulan spiritual.

Abdullah menjelaskan, PKL atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah salah satu kegiatan akademik pada tingkat Perguruan Tinggi secara regular biasa dilakukan dengan melepas mahasiswa ke tengah masyarakat dengan waktu tertentu. Selama satu bulan sampai empat puluh hari, mahasiswa berinteraksi langsung ditengah masyarakat.

“Dalam pelaksanaannya, disamping belajar kehidupan bermasyarakat secara langsung, mahasiswa juga dituntut menjadikan masyarakat sebagai media aplikasi keilmuan yang didapatkan di bangku kuliah,” terang Ketua Ikatan Doktor UIKA Bogor ini.

Bagi STIE Hidayatullah, jelas Abdullah, program KKN tidak hanya sebagai rutinitas akademik yang harus dilakukan mahasiswa. Program ini adalah media menyiapkan dai sarjana sebelum mereka diutus sebagai dai pembangunan selepas lulus. Sehingga program ini menjadi sebuah laboratorium bagi mahasiswa sekaligus inkubator tenaga dai Pembangun Peradaban Islam.

Mengingat KKN menempati posisi yang strategis, maka kegiatan yang dilakukan oleh STIE Hidayatullah berbeda dengan yang biasa dilakukan di kampus lain. Abdullah menyebutkan, setidaknya ada tiga hal yang membedakan program KKN STIE Hidayatullah dengan kampus lain.

Pertama, masjid sebagai sentral Kegiatan. Dimana mahasiswa ditempatkan di masjid-masjid yang ada di wilayah Kota Depok. Dalam hal ini mahasiswa dituntut untuk menghidupkan masjid dan menjadikannya sebagai sentral kegiatan KKN.

Kedua, lamanya pelaksanaan kegiatan KKN yang berlangsung selama delapan bulan. Rentang waktu yang lama tersebut memberi kesempatan mahasiswa untuk berkiprah dan belajar di tengah masyarakat.

Ketiga, variasi kegiatan yang dilakukan, dimana mahasiswa melakukan berbagai kegiatan guna pemberdayaan masyarakat, tidak hanya dalam bidang ekonomi sebagaimana basis keilmuan STIE Hidayatullah, namun juga bidang Sosial kemasyarakatan dan pendidikan keagamaan.

Dari hasil kajian dan temuan yang dirangkum dari pendapat masyarakat secara umum itu, Pimpinan Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad, merekomendasikan agar pola KKN yang dilakukan oleh STIE Hidayatullah menjadi pola KKN yang juga dilakukan oleh Perguruan Tinggi milik Hidayatullah lainnya (STAIL, STIS, STIKMA dan STIKIP).

Hal tersebut disampaikan Pimpinan Umum saat penutupan Rapat Pleno DPP Hidayatullah di Komplek Pesantren Hidayatullah Depok beberapa waktu lalu. Pimpinan Umum memandang bahwa KKN berbasis masjid adalah program yang tepat untuk membangun peradaban Islam melalui masjid sebagaimana visi besar Hidayatullah.

“Menyebarkan mahasiswa di tengah masyarakat dengan menempatkannya di mesjid-mesjid merupakan realisasi Piagam Gunung Tembak dalam Silatnas yang lalu,” tandas Abdullah. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.