Budaya Ilmu dan Menulis Senjata Ampuh Dai Melawan Barat

menulisHIDORID — Salah satu senjata melawan hegemoni Barat adalah ilmu. Ilmu diperoleh di antaranya dengan banyak membaca. Hasil dari membaca sebaiknya ditransformasi menjadi tulisan.

Demikian salah satu kesimpulan dari kajian pekanan Halaqah Peradaban di Masjid Ummul Quraa, Komplek Pesantren Hidayatullah, Jl Raya Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 18 Shafar 1435 H (21/12/2013) usai Shubuh.

Dalam acara yang diisi Ketua Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Drs Tasyrif Amin ini, menyerukan agar para dai diharapkan tak hanya cakap spiritual. Tapi juga cakap intelektual, termasuk menulis.

Tasyrif mengingatkan para dai untuk memahami Islam seutuhnya. Dari pemahaman inilah yang bisa dijadikan bahan tulisan.

“Pemahamannya dengan zikirnya bisa menjadi sebuah tulisan. Banyak (yang) bisa membaca, tapi tidak bisa menulis,” ujarnya di depan ratusan jamaah.

Menurut Tasyrif, saat ini sudah banyak dai yang telah berkarya lewat tulisan. Namun, kebanyakan masih dalam batas ‘ulumuddin (ilmu-ilmu agama). “Diharapkan ada yang menulis tentang sains,” imbuhnya.

Dikatakan dia, dalam kancah keilmuan, ada perbedaan mendasar antara Islam dengan non-Islam, yaitu sikap mental.

Dalam Islam, kata kunci berilmu adalah tawaddu atas hadirnya wahyu. Sedangkan kunci tegaknya peradaban ada di surat al-’Alaq.

Sehingga, jelas Tasyrif, untuk mencetak kader Islam, metodenya bisa dicontoh dari urut-urutan turunnya wahyu Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dijelaskan, “Iqra’” sebagai wahyu pertama merupakan perintah membaca kepada Muhammad. Inilah unsur keilmuan dalam Islam.

“Kita harus mencetak kader yang ahli baca. Karena tidak mungkin kita bersaing dengan Barat kalau referensi keilmuan kita ini kurang,” imbuh Tasyrif.

Dia mencontohkan, pendiri Hidayatullah Allahuyarham Ustadz Abdullah Said semasa hidupnya sangat aktif menulis. Tulisan di majalah bulanan Suara Hidayatullah saat itu dipenuhi banyak hasil karyanya, yang rata-rata dicetuskan usai shalat lail.

Selain itu, Tasyrif berpendapat, antara intelektual dan spiritual para dai harus berimbang. Sosok dai seperti ini terinspirasi surat al-Qalam sebagai wahyu kedua yang turun.

“Sosok mujahid yang lahir dari al-Qalam (menjadi) pemikir sekaligus ideolog. Apapun yang dipikirkan, dia harus mengantar orang untuk ber-Qur’an,” tandasnya. (Hidayatullah.com)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.