Kader Harus Optimal Sebagai Dai dan Penggerak Organisasi

Bincang-bincang santai sejumlah peserta rakor usai acara / FOTO: Bashori

Bincang-bincang santai sejumlah peserta rakor usai acara / FOTO: Bashori

Hidayatullah.or.id — Seluruh kader-kader Hidayatullah di lapangan dituntut harus mahir memerankan dirinya sebagai dai tauladan yang baik di masyarakat sekaligus menjadi motor penggerak organisasi. Setiap dai setidaknya harus memiliki agenda dan program dakwah harian sebagai cemeti untuk perbaikan diri dan lingkungan sosialnya.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat (PW Hidayatullah Sulbar) Drs. Abu Bakar Muis, dalam temu koordinasi dan silaturrahim awal tahun seluruh Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah Sulbar di balai-balai Rumah Adat Mandar tepian pantai Kota Mamuju, Kamis (10/01/2014) kemarin.

Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulbar sengaja mengundang seluruh pengurus daerah pada Kamis (9/1) kemarin untuk mengkordinasikan program dan agenda kerja dalam rangka upaya cerdas dalam memberikan layanan keummatan di masyarakat Sulbar.

“Tugas pokok kita dan prioritasnya di sini adalah perjuangan membangun peradaban Islam baik tingkat pribadi maupun kolektif melalui wadah bernama Hidayatullah. Adapun tugas di unit-unit usaha (milik organisasi-red), itu nilai kehidupan pribadi kita,” terang Abu Bakar Muis mengawali arahannya di depan ketua-ketua penegurus daerah dan wilayah.

Abu Bakar menambahkan, organisasi Hidayatullah adalah sebagai wadah kita dalam mensosialisasikan dan mempraktikkan ajaran agama ke kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat luas menuju kehidupan mulia yang diridhai Allah subhanahu wa taala.

“Bukan justeru sebaliknya, merasa telah berbuat banyak ketika memiliki indikator keberhasilan menjalankan amanah di unit-unit usaha. Lembaga kita ini ibaratnya rumah besar, tidak memperhatikan atapnya saja ketika kita diamanahkan memelihara lantai. Jadi jangan timpang, unit usaha harus berbanding lurus dengan maksimalisasi kerja kerja dakwah dan keummatan,” jelasnya.

Kader harus bisa memetakan perkerjaan secara proporsional dan memprioritaskan dakwah. Sebab, kata Abu Bakar, dikhawatirkan kader-kader yang memiliki tugas ganda di unit-unit usaha yang diharap dengan lancarnya sumber ekonomi itu bisa menopang tugas pokok dalam dakwah justeru lupa pada tujuan awalnya.

Untuk itu, Abu Bakar Muis mengatakan pihaknya akan berkomitmen secara bertahap dan berkelanjutan untuk melakukan mapping job deskripsi sesuai potensi agar kader Hidayatullah di wilayah kepemimpinannya dapat berperan maksimal di bidang-bidang masing masing tanpa geran ganda.

“Sehingga agenda dakwah, amal usaha, dan layanan-layanan keummatan yang kita selenggarakan dapat berjalan sinergis, terpadu, dan semata-mata bararus utama kepada penegakan peradaban Islam yang mengistimewakan semua potensi yang ada,” kata Muis.

Bertempat di salah satu balai-balai Rumah Adat Mandar di tepian pantai kota Mamuju, ketua PW Hidayatullah Sulbar juga mengingatkan bahwa keberadaan unit usaha Hidayatullah Sulbar kelak bentukan organisasi agar bisa memudahkan untuk menjalankan misi organisasi.

Mendiami wilayah propinsi Sulawesi Barat yang penduduknya beragama Islam sebesar 83,1% dari total 1.158.336 jiwa adalah tantangan tersendiri bagi Hidayatullah di wilayah ini.
Sebab, dari angka jies tadi tidak otomatis menjadi jumlah muslim yang paham dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya secara utuh. Salah satu faktornya luasnya bentangan wilayah yang terbagi di enam kabupaten, dari kabupaten Polman, Majene, Mamuju, Mamasa, Mamuju Tengah dan Mamuju Utara.

Di enam kabupaten itu hanya tinggal kabupaten Mamasa yang belum terbentuk pengurus daerah Hidayatullah.
Adapun Mamuju Tengah pengurus daerahnya mulai beroperasi sejak awal Oktober tahun 2013 lalu dan memiliki bergainning cukup bagus karena bisa bersinergi dengan pemerintah setempat dan langsung mengembangkan dakwah ke kecamatan-kecamatan.

Secara spesifik kondisi Sulbar menjadi tantangan dakwah bagi kader Hidayatullah. Kader dituntut untuk lebih cermat dan terus membekali diri dengan ilmu-ilmu agama, sembari menguatkan niat untuk tetap terus istiqamah di jalan dakwah ini.

“Karena sambil memberikan pencerahan kepada ummat, dai juga dituntut piawai mengembangkan organisasi Hidayatullah, wadah tempat mengaplikasikan konsep keislaman di setiap kampus-kampus sebagai miniatur peradaban yang dibangun,” tandas Abu Bakar Muis.

_____________
Laporan Muhammad Bashori, kontributor tetap Hidayatullah.or.id wilayah Sulawesi Barat

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.