Mengaku Beriman, Berarti Siap Sabar Berjuang

Ahkam Sumadiana (jas hitam) dalam sebuah forum dialog / FOTO: HTI

Ahkam Sumadiana (jas hitam) dalam sebuah forum dialog / FOTO: HTI

Hidayatullah.or.id — Risiko utama ketika seseorang mengaku beriman kepada Allah Ta’ala adalah dia harus selalu siap diuji atas keyakinannya tersebut. Sebab iman bukanlah lipstik penghias bibir semata, yang dilisankan tanpa tahu apa yang ia ucapkan itu.

Iman bukan pula sebatas keyakinan hati belaka. Pokoknya aku benar-benar yakin, misalnya. Tetapi iman adalah ilmu yang menggerakkan. Ia adalah kumpulan amalan-amalan terbaik dalam setiap aspek kehidupan sebagai wujud adanya keyakinan yang kokoh dalam diri seoorang Muslim.

Mutiara-mutiara penggugah ini disampaikan oleh Ketua Departemen Perkaderan Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Ir. Ahkam Sumadiana, dalam kesempatan acara Training Marhalah Wustha yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Kalimantan Timur, beberapa waktu lalu (10/01/2014).

Kegiatan training berlangsung di Gedung Unit Pelaksana Teknis Bersama (UPTB) Balai Penelitian Pertanian (Bapeltan) Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), serta dihadiri oleh puluhan dai Hidayatullah yang tersebar di beberapa titik dakwah di Kaltim.

“Jangan pernah ada yang sudah merasa ‘beragama’ atau berjuang sedang iman yang dimiliki itu belum pernah mendapat ujian dan benturan dalam kehidupannya,” ucap Ahkam membakar semangat para peserta training Marhalah Wustha.

Akham menegaskan, benturan itu akan selalu ada selama kita berada di pihak al-Haq sebagai konsekuensi logis dari keimanan yang mengakar. Sebab di dunia ini, hanya ada dua barisan. Barisan pertama bernama al-Haq sedang yang kedua disebut al-Bathil.

“Tak ada kompromi di antara keduanya, kecuali saling berbenturan dan saling berusaha memenangkan pertarungan abadi ini,” lanjut ustadz yang juga dikenal sebagai mantan aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Makassar.

Menurut Ahkam, defenisi dari barisan al-Haq adalah orang-orang yang takut kepada Allah. Mereka inilah yang mengusung peradaban al-Qur’an dalam kehidupan manusia. Sedang kelompok bathil disesaki oleh kumpulan manusia yang melampaui batas dalam kehidupannya. Mereka mewakili golongan orang-orang yang mengusung peradaban Barat.

“Ciri-cirinya tak lain, ketika mereka mendustai nikmat Allah, menolak penghambaan kepada-Nya, serta lebih mementingkan kehidupan dunia daripada hari Akhirat,” papar Ahkam sambil mengutip surah an-Nazi’at [79]: 37-41].

Sudah saatnya umat Islam bersatu dalam memenangkan perseteruan abadi ini. Sebab umat Islam akan berhadapan dengan seluruh manusia yang menolak ajaran Tauhid, imbuh beliau.
Peradaban Barat ini, jelas Ahkam, menyerang massif dengan sekian ragam simbolnya, mulai dari materialisme, liberalisme, kapitalisme, hedonisme, paganisme, hingga seluruh doktrin sesat lainnya. Tidak hanya bentrok soal ajaran, bahkan kedua kekuatan ini senantiasa saling bergumul dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari persoalan materi, ekonomi, hukum, sains, politik hingga urusan budaya sekalipun.

Analogi sederhananya, masih menurut Ahkam, bisa dilihat dari sikap sebagian masyarakat. Terkadang mereka minder untuk mengakui jika anak-anaknya sekolah di pesantren dan belajar agama. Sedang orangtua itu begitu bangga bercerita, jika anak-anaknya menempuh pendidikan di Amerika atau di Eropa.

“Hal semacam inilah yang hendaknya menjadi kerisauan umat Islam sendiri. Sebab umat Islam juga menyadari bahwa peradaban al-Qur’an adalah peradaban terbaik yang pernah dinikmati oleh manusia. Literatur sejarah menjadi saksi bisu, betapa dunia Barat pernah bertekuk lutut di bawah superioritas ajaran Isl,” ungkap beliau.

Ketika wilayah-wilayah Islam terang benderang dengan cahaya keilmuan yang bersumber dari al-Qur’an, dunia Barat ketika itu justru masih terbenam dalam lumpur kegelapan dan kehinaan.

Ustadz Ahkam menuturkan bahwa tak ada cara lain dalam memenangkan benturan peradaban ini kecuali mengembalikan umat Islam kepada al-Qur’an dan sunnah. Umat Islam harus meyakini bahwa Islam adalah peradaban unggul. Namun patut disayangkan, kemuliaan Islam seringkali ternoda justru oleh praktik kotor umat Islam sendiri.

“Mari, kita awali tegaknya syariat Islam pada setiap pribadi Muslim. Setelah itu kita ajarkan kepada keluarga dan lingkungan sekitar kita masing-masing,” tandas Ahkam semangat di hadapan peserta Training Marhalah Wustha.

________________
Laporan Masykur Suyuthi, wartawan Hidayatullah Media langsung dari arena acara

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.