Sarana Sederhana Tak Surutkan Semangat Belajar Santri Hidayatullah Kendari

Meski masih serba sederhana, santri buktikan diri bisa berprestasi / Thamrin

Meski masih serba sederhana, santri buktikan diri bisa berprestasi / Thamrin

Hidayatullah.or.id — Keterbatasan sarana dan prasarana tidak menjadikan para guru dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari untuk berhenti melakukan aktfitas belajar mengajar. Mereka tetap semangat meskipun dengan sarana belajar yang sangat sederhana.

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang dirintis oleh Ustadz Khairil Baits ini sejak tahun 1993 hingga sekarang masih terus eksis di kota Kendari ini.

Semenjak kehadirannya, menurut Ketua pengurus harian Pesantren Hidayatullah Kendari, Ghiroh Amrullah, Pesantren Hidayatullah telah banyak membantu pendidikan masyarakat dan meringankan beban pemerintah.

“Alhamdulillah santri yang kami bina setiap tahunnya meningkat, saat ini berjumlah 130 santri. Yang terdiri dari 50 santri putra dan 70 santri putri. Mereka tinggal di dalam pondok dan tidak dipungut biaya,” ujar Ghiroh kepada media Sultra di ruang kerjanya kemarin (29/1/2014).

Saat dikonfirmasi mengenai sumber pendanaan pesantren, ia menjelaskan bahwa, sampai saat ini sumber pendanaan Pesantren Hidayatullah masih dari swadaya masyarakat Muslim yang di kumpulkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH). Selain itu juga ada amal usaha pesantren seperti peternakan dan koperasi.

Meski dalam kondisi yang masih sangat terbatas, para guru dan santri masih tetap senang dan semangat tinggal dan belajar, karena di pesantren ini selain pelajaran agama yang di ajarkan tapi juga pelajaran Umum.

Menurut ayah 7 anak yang biasa disapa Aba Ipul ini, santrinya pernah meraih juara satu dan dua dalam lomba Bahasa Inggris dan Bahasa Arab tigkat kota yang diselenggarakan oleh Departemen Agama Kendari.

Dengan capaian prestasi itu membuat para guru dan santri semakin sungguh-sungguh dalam belajar, sekalipun tempat belajarnya di gode-gode yang hanya melantai dan cuma pakai meja kecil tanpa kursi. Tidak sebagaimana sekolah pada umumnya.

Kebanyakan para santri, kata suami Irmayani ini, datang dari kalangan menengah ke bawah dan sebagian orangtuanya bekerja sebagai nelayan dan petani, serta ada juga yang sudah yatim piatu.

Mereka datang dari berbagai daerah khususnya wilayah Sultra. Harapannya, kelak anak-anak itu akan menjadi contoh minimal dilingkungan kelurganya dan memiliki Ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama.

Oleh karena itu, para pengurus bertekad akan membebaskan lahan di sekitar pesantren yang belum dibebaskan dan membuat tempat belajar yang lebih permanen. Sehingga dengan adanya sarana yang bagus para santri semakin semangat lagi dalam menuntut ilmu di pesantren ini.

Kini, pengurus sedang menggagas pembangunana gedung pesantren tahfidz atau pesantren penghafal Al-Quran di Nanga-Nanga, sebagai pengembangan Pesantren Hidayatullah Kendari ke depan dan rencananya pesantren yang di bangun tersebut, untuk para santri yang ingin menghafal Al-Quran dan tidak di pungut biaya bagi kalangan yang tidak mampu.

Ghiroh sangat berharap semoga ada di antara umat Islam yang ikut andil dalam pembebasan lahan dan pembangunan gedung pesantren penghafal quran tersebut, yang saat ini telah selesai pemancangan tiang.

“Mari berlomba–lomba dalam kebaikan, semoga Allah SWT menggantinya dengan pahala surga, Aamiin,” harapnya.(knc/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.