Al Qur’an Tidak Bisa Dipelajari Secara Otodidak

Anak-anak mengaji al Qur'an / Skr

Anak-anak mengaji al Qur’an / Skr

Hidayatullah.or.id — Al Qur’an adalah mukjizat yang didalamnya terkandung hukum, sejarah, dan firman Allah Subhanahu Wata’ala yang harus diimani. Sehingga Al Qur’an adalah himpunan ilmu yang tak bisa dipelajari dengan cara otodidak atau belajar sendiri.

Koordinator Grand MBA Pusat, Ustadz Agung Tranajaya, Lc, M.Psi, mengatakan bahwa Al Qur’an sarat dengan banyak hal ihwal yang mendalam dan terkesan rumit tapi sesungguhnya sangat mudah jika kita ingin mempelajarinya. Namun sebagaimana bahasa, Al Qur’an tidak bisa dipelajari tanpa ada guru yang mengajarkan.

“Belajar Al Qur’an itu seperti belajar bahasa. Mempelajari suatu bahasa itu harus ada yang mencontohkan, harus ada guru, dan ada yang kompeten mempraktikkan,” kata Agung Tranajaya ditemui hidayatullah.or.id di kantornya, (20/02/2013).

Dalam bahasa Jawa misalnya, menurut Agung, tidak bisa orang belajar bahasa Jawa secara otodidak. Diperlukan guru yang bisa bahasa Jawa. Karena di dalam bahasa itu ada hal hal yang memang harus dicontohkan baru dapat diketahui cara mengucapkannya.

Agung mencontohkan, dalam bahasa Jawa misalkan, ada kata “loro” yang artinya dua dan “loro” yang artinya sakit, keduanya jelas memiliki cara dan bunyi pengucapan yang berbeda walau sama secara teks. Ada Juga kata mendem (mengubur) dan mendem (mabuk), serupa tapi tak sama.

“Sama tulisan, beda penyebutan, dan itu beda artinya. Jadi untuk mengetahuinya tidak bisa otodidak, harus mendengar melihat bagaimana sih caranya. Begitulah Al Qur’an,” katanya.

Dalam bahasa apapun, kesalahan mengucapkan bisa menyebabkan salah dimaknai. Kondisi serupa akan berakibat fatal apabila terjadi dalam melafazkan Al Qur’an.

“Ini menjadi lebih penting ketika kita belajar bahasa Al Qur’an yang di dalamnya ada hal hal yang harus diimani, ada hukum, ada sejarah, dan Al Qur’an itu adalah firman Allah Subhahanu Wata’ala yang diturunkan untuk membimbing manusia ke jalan yang benar,” imbuh Agung.

“Di sinilah mengapa belajar Al Qur’an, tajwid, dan tahsin itu menjadi sangat penting,” tambahnya.

Menurut Agung banyaknya lembaga atau pribadi yang menawarkan metode atau sistem membaca Al Qur’an dengan cepat hanyalah sebagai pintu masuk saja untuk menggugah kesadaran bahwa ternyata Al Qur’an itu memang mudah dipelajari sehingga orang tertarik belajar.

Ketika seseorang sudah tertarik belajar, maka dia tidak akan berhenti belajar karena sudah timbul rasa suka dan cinta. Setelah itu, belajar Al Qur’an tidak bisa secara instan. Terutama yang tidak bisa instan itu adalah sifat dan makhraj huruf.

“Harus berlatih, apalagi yang notabene di Indonesia, sukunya beragam, bahasa beragam, itu tidak bisa instan. Karena karakter bahasa Arab itu berbeda dengan bahasa lainnya,” tandasnya. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.