Masyarakat Tobadak Sulbar Rasakan Manfaat Grand MBA

Acara yang digelar 2 hari dianggap tidak cukup, akhirnya acara ditambah lagi usai Zuhur meski acara sudah ditutup.

Acara yang digelar 2 hari dianggap tidak cukup, akhirnya acara ditambah lagi usai Zuhur meski acara sudah ditutup.

Hidayatullah.or.id — Masyarakat di Topoyo, Tobadak, dan sekitarnya di Sulawesi Barat, mengaku merasakan kemudahan mempelajari Al Qur’an dengan metode Grand MBA. Metode ini sendiri merupakan program dakwah unggulan yang terus digulirkan Departemen Dakwah PP Hidayatullah untuk dimanfaatkan masyarakat secara luas.

Pengurus Hidayatullah Kabupaten Mamuju Tengah dengan program unggulannya Gerakan Dasar Mengajar Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) berkolaborasi dengan Gerakan Bebas Buta Aksara A-Qur’an (GBBAQ) dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tobadak menyeleneggarakan Pelatihan Cara Cepat Membaca Al-Qur’an Sistem 8 Jam.

Sebagaimana direncanakannya awal Januari lalu, pelatihan yang dilakukan selama tiga hari itu dimulai Jumat tanggal 31 Januari hingga tanggal 2 Februari bertempat di Masjid Markabul Jannah di desa Mahahe.

Peserta yang rata-rata pengurus masjid yang tersebar di 8 desa dalam wilayah kecamatan Tobadak hadir dalam pelatihan tersebut.

“Kegiatan ini dilakukan semata-mata karena keprihatinan kami KUA dan teman-teman di Hidayatullah melihat kondisi masjid dan kepengurusannya yang membutuhkan sedikit sentuhan metode yang menarik,” kata Fakhruddin, M.Ag, ketua KUA kecamatan Tobadak saat memberikan sambutan.

Kepanitiaannyapun sederhana, jamaah masjid Markabul Jannah menalangi makanan ringan dan air mineral gelas. Publikasi dilakukan oleh staf KUA dan dai-dai serta simpatisan Hidayatullah yang berada di 8 desa, mulai dari desa Tobadak yang berada di poros provinsi hingga desa Sejati yang berbatasan dengan hutan lindung.

Sebanyak 40 peserta yang hadir juga mendapatkan materi Up-grading (pembekalan) Pengurus Masjid yang dibawakan oleh Ustadz Muhammad Bashori, ketua Dewan Pimpinan Hidayatullah daerah Kabupaten Mamuju Tengah terkait dengan kondisi pengelolaan masjid yang belum maksimal.

Dikatakan Bashori, salah satu faktor enggannya masyarakat shalat berjamaah di masjid selain belum memahami keutamaannya juga kondisi (pengurus) masjid yang belum menjamin kenyamanan dan keamanan jamaahnya.

“Coba kalau tamannya asri, tempat wudhu dan toiletnya bersih, ruangannya bersih dan sejuk ditambah lagi ada diskusi-diskusi ringan tentang ilmu agama setiap selesai waktu sholat. Jamaah akan merasa betah sholat berjamaah di masjid,” imbuh Bashori.

Selain pembekalan pengurus masjid, materi inti Grand MBA dalam program bebas buta aksara KUA Tobadak ini mengundang ustadz Habibi Nursalam pembina Hidayatullah Mamuju Utara yang membawakan materi qiraah (bacaan).

Adapun untuk metode pembelajaran dengan sesi khas micro teching-nya Ustadz Anwar Baits, S.Pd. yang juga sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Barat itu menempati hari ketiga atau terakhir.

Namun karena merasa belum puas, peserta meminta perpanjangan waktu hingga 2 jam setelah shalat dhuhur untuk melanjutkan materi agar lebih tuntas.

“Menarik sekali, materi Grand MBA sangat mudah dan terbuka untuk kita berinprofisasi metode,” tukas Ahmad Fadli, S.Pd. peserta yang berprofesi guru di Pesantren Al-Ikhwan kecamatan Topoyo ini. (hio.ybh)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.