Gelora Sambut Ramadhan di Kampus Hidayatullah Balikpapan

Menyempatkan foto "selfie" bareng di daerah pengerjaan / MASYKUR

Dimulai pagi-pagi, tuntas sebelum masuk shalat Zuhur / MASYKUR

Dua mahasiswa STIS Hidayatullah berjibaku dengan gilingan molen yang tak berhenti berputar / MASYKUR

Dua mahasiswa STIS Hidayatullah berjibaku dengan gilingan molen yang tak berhenti berputar / MASYKUR

"Pasukan" nampak memusatkan pekerjaan di bagian belakang masjid / MASYKUR

“Pasukan” nampak memusatkan pekerjaan di bagian belakang masjid / MASYKUR

Kerja bakti mengecor lantai 2 masjid Ar Riyadh Hidayatullah Balikpapan / MASYKUR

Kerja bakti mengecor lantai 2 masjid Ar Riyadh Hidayatullah Balikpapan / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Meski bulan Ramadhan masih bersisa beberapa bulan lagi, warga dan santri Hidayatullah Balikpapan sudah bersiap menyambutnya kembali. Setidaknya hal itu nampak dalam suasana kerja bakti massal yang melibatkan seluruh warga dan santri kampus Gunung Tembak, belum lama ini (02/03/2014).

Berbeda dengan kerja bakti yang biasa digelar rutin pekanan, kali ini para warga fokus pada pengecoran beranda belakang Masjid Agung ar-Riyadh.

“Saat ini kita sedang berpacu dengan proyek renovasi pembangunan masjid. Sedianya, masjid ini akan kita maksimalkan sebagai pusat sarana ibadah di tengah kampus Hidayatullah. Khususnya pada bulan Ramadhan, sebab jamaah kian membludak saat itu,” ungkap Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (MKD) Ar-Riyadh Hidayatullah Balikpapan, Muhammad Arfan Abdau.

Laiknya proyek pengecoran sebelumnya, kali ini lantai atas bangunan masjid dicor dengan mengerahkan seluruh warga dan santri Hidayatullah. Tepat pukul 07.15 Wita sebanyak empat buah mesin molen mulai menyalak. Sebelumnya warga dan santri sudah berbagi formasi. Sebanyak 16 halaqah warga yang ada lalu disebar, masing-masing mesin molen menjadi tanggung jawab 4 halaqah tersebut.

Sedang santri dan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) turut melebur dalam halaqah tadi.

“Inilah salah satu wujud kebersamaan warga Hidayatullah. Tak ada yang tidak hadir, semua lebur dalam suasana ukhuwah sekaligus membantu menyelesaikan proyek pekerjaan yang ada,” imbuh sang koordinator, H. Sugiono seraya tersenyum.

Menurut pria yang diamanahi sebagai Kepala Pembangunan dan Penataan Kampus ini, proyek pengecoran tersebut sengaja dimulai sejak pagi. Bahkan para santri dan mahasiswa dihimbau agar langsung berkemas usai Shalat Subuh dengan ‘seragam pakaian kerja’. Sebab “Pesta Akbar Santri” kali ini diperkirakan menghabiskan semen sebanyak 200 sak (karung semen).

“Selain menghindari cuaca panas, proyek ini juga terhitung lumayan besar. Lantai yang dicor seluas 18 x 6,5 persegi. Semua itu kira-kira butuh campuran hingga 4 ret/ mobil batu koral dan pasir,” terang Sugiono lebih mendetail.

Bukan rahasia lagi, jika hampir seluruh bangunan di kampus Gunung Tembak dan di berbagai daerah lainnya adalah hasil karya tangan para santri Hidayatullah sendiri. Sejak dini mereka diajari mengasah skill dalam berbagai aspek.

Tentunya skill yang dimaksud di sini tak sebatas sisi akademik saja sebagaimana umumnya pemahaman itu. Utamanya bagi mahasiswa STIS. Turut membantu proyek di lapangan adalah bagian dari ilmu yang wajib diserap selama perkuliahan. Sejak awal, mereka telah dikenalkan dengan berbagai proyek fisik di kampus Gunung Tembak.

Sudah menjadi karakter di lingkup Hidayatullah, khususnya di Gunung Tembak, bahwa pembelajaran itu tak melulu diraih lewat bangku kuliah formal. Namun mahasiswa STIS juga ditempa dengan penguatan spritual di masjid, sebagaimana mental dan skill mereka mereka digodok dengan kerasnya tantangan kerja di lapangan.

Seperti yang sudah diduga, matahari yang kian meninggi juga mulai menampakkan sengatannya. Sebagian warga terlihat mulai melengkapi seragam asesorisnya. Mulai dari mengenakan safety helm (topi pelindung), kacamata berlensa rayban, kaos tangan, hingga ikat kepala serta tak lupa sepatu boot berwana kuning.

Bahkan seorang warga menjadi hiburan tersendiri dengan tampilan topi ala American Coboy di tengah kerumunan orang bekerja. Semua itu tentunya menjadi nutrisi penyemangat di tengah suara mesin molen yang kian menderu. Sedang di ujung sana, ibarat kawanan semut, santri dan mahasiswa STIS hilir mudik mengangkat karung dan ember berisikan koral dan pasir.

Memasuki pukul 09.00, atas arahan dari Zainuddin Musaddad, Ketua Yayasan Hidayatullah Balikpapan, proyek pengecoran dihentikan sementara. Seluruh warga dan santri dipersilakan istirahat sejenak sembari menikmati sarapan pagi.

“Pengumuman. Disampaikan kepada seluruh peserta amal shaleh pengecoran masjid untuk break dahulu. Saatnya menikmati sarapan pagi,” terang Zanuddin melalui pengeras suara Masjid ar-Riyadh. Iya, inilah sepenggal daya tarik, mengapa kerja bakti itu selalu menarik di mata santri dan mahasiswa. Sebab mereka menikmati sajian berbeda yang disediakan khusus oleh ibu-ibu warga.

“Lauknya beda dan biasanya lebih banyak dari yang Dapur Umum,” polos Doddy (20), seorang santri mewakili suara hati teman-temannya.

Alhasil, usai menghabiskan ratusan sak semen, tepat pukul 11.30 proyek pengecoran lantai beranda belakang masjid ar-Riyadh Balikpapan dinyatakan selesai. Para warga dan mahasiswa hanya bisa bersyukur, mereka telah menyelesaikan sebuah proyek dunia yang berbuah akhirat. Setidaknya itu yang dirasakan oleh warga Hidayatullah Balikpapan dan mahasiswa STIS Hidayatullah.

“Rasanya rugi jika tak sempat ambil bagian dalam proyek akhirat ini,” ujar Doddy yang mengaku baru pertama kali ikut mengecor massal seperti ini.

Meski lelah, namun mahasiswa baru (maba) STIS Hidayatullah Balikpapan kelahiran Cilacap tersebut merasa beruntung bisa turut serta dalam proyek tersebut. Insya Allah, untung dunia akhirat!.

_________________
Laporan Masykur Suyuthi, kontributor Hidayatullah Media di Balikpapan

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.