Kader Hidayatullah Sebagai Perekat Ukhuwah Umat

Indahnya ukhuwah Islamiyah / IST

Indahnya ukhuwah Islamiyah / IST

Hidayatullah.or.id — Hari ini umat Islam butuh sosok kader pembangun bukan kader perusak. Umat Islam merindukan sosok santun yang bisa merekatkan umat, bukan sebaliknya malah memecah belah umat.

Apalah arti ilmu yang banyak jika tidak disertai dengan akhlak mulia. Ilmu itu melahirkan akhlak mulia layaknya buah ranum yang muncul dari pohon yang subur.

Demikian untaian nasihat disampaikan kader senior Hidayatullah, Yusuf Suraji (56), di hadapan warga dan santri Hidayatullah, di Balikpapan, Kaltim, beberapa waktu lalu (14/03/2014).

Menurut Ustadz Yusuf, demikian sapaan akrabnya, cita-cita di atas sejak awal telah ditancapkan oleh Allahuyarham Abdullah Said, pendiri Pesantren Hidayatullah. Dengan semangat yang menggelora, para santri Hidayatullah lalu disebar untuk tugas dakwah, memberi pencerahan kepada umat di seluruh pelosok nusantara.

“Saya sendiri baru tiga bulan nyantri, langsung dapat tugas dakwah juga ketika itu,” ujar pria yang termasuk santri awal Hidayatullah ini mengenang.

Dengan kultur bermasyarakat yang menyatu dalam sebuah kampus, memungkinkan para santri berinteraksi setiap saat dengan para guru dan ustadz. Hal ini, masih menurut Yusuf, adalah kekayaan tersendiri bagi Hidayatullah.

“Santri bisa belajar apa saja dari guru-gurunya. Sebab mereka saban waktu dan tempat bisa bertemu dan berinteraksi langsung satu sama lain,” imbuh Yusuf.

Selain menimba ilmu di kelas, santri Hidayatullah bisa menggali nilai-nilai yang lain dari ustadz-ustadz yang ada. Mulai dari kemuliaan akhlak, etos kerja di lapangan hingga keteladanan dalam perkara ibadah serta spiritual lainnya.

“Ustadz atau guru itu ibarat sekuntum bunga, sedang santri itu seperti lebah,” ucap Yusuf Suraji bertamsil.

Ibarat seekor lebah, tugas seorang santri menyedot sari bunga sebanyak-banyaknya. Sebagai lebah, tentunya ia tidak boleh puas dengan sekuntum bunga saja. Biasanya lebah itu memilih terbang lagi dan mengisap dari kuntum bunga lainnya.

“Jangan sampai ada seorang santri Hidayatullah yang malas belajar atau malas ibadah. Karena itu tidak mencerminkan kader Muslim yang tangguh,” terang Yusuf mengingatkan.

Dalam kesempatan yang sama, Yusuf Suraji juga menceritakan pengalamannya bersilaturahim di beberapa titik dakwah di daerah Papua beberapa waktu lalu. Yusuf mengaku, meski kunjungannya hanya beberapa hari, tapi hal itu sudah cukup untuk melecut kembali ghirah dakwah yang dimilikinya.

“Umat Islam di seluruh penjuru Papua siap menyambut kedatangan kader-kader muda yang militan. Jangan sampai kita yang berada di Kampus Pusat Gunung Tembak ini justru bermalas-malasan seolah tidak ada tantangan dan masalah,” imbuh Yusuf memberi semangat.

Setelah dianggap punya bekal yang cukup, hendaknya santri Hidayatullah bersiap menerima amanah selanjutnya, yaitu tugas berdakwah ke daerah. Layaknya seekor lebah, ia tidak mungkin tinggal di taman bunga saja. Namun ia harus terbang dan pergi ke tempat lain. Menurut Yusuf, inilah ciri kader Hidayatullah, ia pantang menolak tugas dakwah kemanapun itu.

“Sebagai kader, pilihannya cuma satu, sami’na wa atha’na saja. Bukan sami’na wa fikir-fikir dulu,” imbuhnya.

Lewat mimbar podium Masjid Agung ar-Riyadh, Gunung Tembak, Yusuf pun mengingatkan para santri tentang pentingnya mengedepankan akhlak mulia. Seorang da’i bertugas membangun dan mencerahkan umat. Bukan menghakimi atau membuat lari saudaranya. Yusuf bahkan mengungkapkan penyesalannya dalam cara ia berdakwah dahulu.

Ustadz yang tak lain adik kandung dari Allahuyarham Ustadz Hasan Suraji ini mengaku sempat berpaham esktrim dalam berdakwah. “Pokoknya semua orang sesat, semua kafir, dan semua salah,” katanya mengenang.

Namun seiring waktu, Yusuf lalu tersadar. Umat yang didakwahi justru menjauh darinya. Bahkan keluarga sendiri juga ikut memusuhi dirinya ketika itu.

“Puncaknya, saya dibawakan parang oleh saudara saya sendiri. Saya sampai diancam hendak dibunuh. Akhirnya, ibu saya sampai menangis sedih melihat kelakuan saya,” tutur Yusuf mengenang masa mudanya.

Kini, dalam berdakwah Yusuf berusaha mengedepankan ta`lif al-qulub (menjalin hati) terlebih dahulu. Yusuf menyatakan inilah dakwah yang benar sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya ketika itu. Dakwah yang dibangun di atas ilmu dan kesabaran. Dakwah yang memudahkan bukan justru mempersulit.

Terakhir, Yusuf mengingatkan dengan sebuah hadits Nabi, Yassiru wa la tu’assiru, basysyiru wa la tunaffiru. Permudahlah dan jangan mempersulit. Berikanlah kabar gembira dan jangan membuat lari orang lain.*

_________________
Laporan Masykur Suyuthi, kontributor Hidayatullah Media di Balikpapan

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.