Grand MBA Tekankan Peserta Belajar Qur’an Sampai Mati

Pelatihan Grand MBA di Bantaeng / IRFAN JAHJA

Pelatihan Grand MBA di Bantaeng / IRFAN JAHJA

Kegiatan Grand MBA di Pangkep yang umumnya diikuti oleh muslimah / PWSLSL

Kegiatan Grand MBA di Pangkep yang umumnya diikuti oleh muslimah / PWSLSL

Peserta memadati ruang acara pelatihan Grand MBA di Soppeng / IRFAN JAHJA

Peserta memadati ruang acara pelatihan Grand MBA di Soppeng / IRFAN JAHJA

Hidayatullah.or.id — Besarnya pengaruh gaya hidup modern yang serba instan dan praktis, dinilai ikut membuat orang malas untuk berlama-lama dalam belajar Al-Qur’an. Fenomena ini misalnya dapat dilihat dengan maraknya metode baca Qur’an dalam bentuk digital yang tak lagi mengharuskan ada temu sekemuka antara guru dengan murid.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para dai dan guru mengaji yang bertugas di daerah perkotaan. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan tenaga-tenaga pengajar al-Qur’an yang kreatif, yang siap memberikan jawaban terhadap problematika umat Islam dewasa ini.

Untuk menunjang hal tersebut, Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan dibawah koordinasi Departemen Dakwah mengadakan upgrading kompetensi dengan menggelar acara pelatihan guru mengaji metode “GranD MBA -SISTEM 8 JAM”.

Acara yang mendaulat Kepala Departemen Dakwah PW Hidayatullah Sulawesi Selatan Ustadz Bachtiar Aras selaku “Master Traineer” ini diadakan di 3 kabupaten.

Pada Tanggal 02 Maret 2014, acara ini dihelat di Kabupaten Soppeng, bekerjasama dengan BKPRMI Kecamatan Lilirilau bertempat di wisata Water Boom Salaonro. Pelatihan ini dihadiri sedikitnya 200 guru ngaji dari 3 kecamatan berbeda.

Pelatihan yang juga dihadiri oleh Pembina Hidayatullah Sulawesi Selatan Ustadz Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar ini kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Pangkajene Kepulauan empat hari kemudian, tepatnya pada Tanggal 06 Maret 2014 di Wisma Terminal Baru Kabupaten Pangkep.

“Kegiatan ini dihadiri sekitar 300 orang peserta yang kemudian pulang dengan membawa sertifikat pelatihan yang langsung dibagikan setelah acara ditutup,” jelas Humas PW Hidayatullah SUlsel, Irfan Yahya, kepada media ini ditulis Jum’at, (28/03/2014).

Selanjutnya Tim PW Hidayatullah Sulawesi Selatan bergerak ke selatan menuju Kabupaten Bantaeng. Daerah yang bergelar “Butta Toa” yang dalam bahasa setempat berarti “Tanah Tua” ini kini mendapat giliran, tepatnya pada Tanggal 13 Maret 2014. “Pelatihan Guru Mengaji ; GranD MBA -SISTEM 8 JAM” kembali dihelat di Gedung Balai Kartini Bantaeng.

Asisten III Pemkab Bantaeng Maulana Akil yang hadir membuka acara tersebut menyampaikan ungkapan terima kasih di hadapan 150 guru mengaji mewakili pemerintah daerah kepada Hidayatullah yang bersedia menggelar kegiatan yang menurutnya sangat penting dan bermanfaat. Hal itu kemudian dibuktikan dengan kesiapan Akil menjadi peserta pelatihan dan sekaligus menutup acara.

Tentang Grand MBA
Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.

Koordinator Grand MBA Pusat, Ustadz Agung Tranajaya, Lc, M.Psi, mengatakan program pembelajaran Al Qur’an metode Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata-mata ingin memberikan support dan menemani masyarakat belajar Al Qur’an secara tuntas sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.

Itulah mengapa, kata dia, metode Grand MBA adalah metode yang mengharuskan peserta belajar, mengkaji, mentadabburi Al Qur’an sampai mati. Sebab sejatinya seorang Muslim mesti mengazzamkan selalu untuk hidup bersama Al Qur’an karena inilah hudan dan bayan.

“Secara sederhana, tahapan belajar Qur’an itu adalah memulai dengan terbata-bata atau mutata’ti’, mempelajari makhraj dan shifat, mengetahui kaidah tajwid, memahami tata bahasa, memahami dan merasakan balaghah, dan terakhir hakikat tartil,” kata Agung Tranajaya.

Setelah sampai pada tahapan terakhir yaitu tartil, peserta akan dibina dalam halaqah atau majelis-majelis taklim yang dibangun Grand MBA bekerjasama dengan masjid-masjid yang intinya mempelajari 5 T yaitu tilawah atau membaca dengan tartil, tahfidz (menghafal sebanyak mungkin), tafaqquh (memahami dengan benar), tathbiq (mempraktikkan dalam kehidupan), dan tabligh (menyampaikan kepada orang lain).

“Inilah yang ditawarkan Grand MBA kepada masyarakat,” kata Agung.

Dalam tahapan belajar metode Grand MBA, Agung menjelaskan, untuk tahap pertama yaitu mengenal makhrajul huruf dan shifat sampai kaidah tajwid menggunakan buku Grand MBA Jilid I dan II dalam paket Bimbingan Tajwid dan Tahsin Al Qur’an. Sementara untuk pelajaran tata bahasa dan maknanya di buku paket Terampil Menerjemah Al Qur’an dengan isi 6 jilid.

Grand MBA juga punya metode cepat belajar Al Qur’a dengan judul buku paket Grand MBA: Cara Cepat Belajar Membaca Al Qur’an dengan metode 8 jam dengan durasi 1 jam setiap pertemuan.

“Tapi harus dipahami, metode cepat ini hanya sekedar mengenal huruf dan membaca, selebihnya harus belajar dengan membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena dalam beberapa hal ada ilmu yang tidak bisa dipelajari secara instan atau otodidak seperti Al Qur’an,” jelas Ustaz Agung.

Menurut Agung, maraknya metode pembelajaran Qur’an dengan metode cepat salah satunya dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang mau serba cepat, terutama Ini akibat dari pola hidup atau pola pikir yang sebetulnya dipengaruhi oleh materialisme.

“Jadi, ketika orang menawarkan sesuatu, itu langsung, berapa kali pertemuan, berapa harganya, berapa lama, ditanya langsung bisa nggak. Begitu,” ujarnya.

Belajar dari fenomena tersebut, para dai dan guru ngaji juga ingin mensiasati kondisi masyarakat yang demikian tadi. Maka mereka juga ingin melakukan pendekatan bagaimana metode pembelajaran Al Qur’an itu mereka bisa diterima.

“Metode pembelajaran Al Quran cepat sebenarnya hanya sebagai tahap awal agar masyarakat bisa lebih mengenal Quran lebih dekat, bisa timbul rasa suka, rasa cinta, terhadap Qur’an. Sehingga mereka meneruskan pelajaran Al Qur’an sampai mencapai target yang ideal,” kata pria lulusan LIPIA Jakarta ini.

Ia menjelaskan bahwa metode cepat membaca Qur’an itu yang ditawarkan saat ini sepenuhnya masih parsial. Sebab Al Qur’an itu bukan hanya membaca, tapi ada tahapan-tahapan pembelajaran yang harus diikuti dengan baik.

Al Qur’an memang bahasa Arab tetapi memiliki cara membaca yang khusus yang berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya. Yang membedakan adalah kaidah tajwid. Yaitu tentang bagaimana cara mengucapkan huruf huruf hijaiyah dengan benar sesuai dengan makhraj dan shifatnya.

Kemudian selanjutnya, jelas Agung, mempelajari makna dan tata bahasa Al Qur’an dari setiap ayat dan bagaimana cara mengamalkannya.

Tidak cukup sampai di situ, kalau mau jadi ulama dan ingin memahami betul-betul Al Qur’an maka seseorang harus mempelajari apa yang disebut dengan ilmu keindahan bahasa atau dalam bahasa Arab disebut ilmu Balaghah. Balaghah adalah ilmu untuk merasakan keindahan bahasa dan kedalaman makna Al Qur’an.

“Jadi Al Qur’an itu sangat indah dan maknanya sangat dalam. Kemudian barulah dia akan sampai pada hakikat tartil. Hakikat tartil itu adalah keselaran antara lisan yang fasih, hati yang penuh iman dan akal yang mengambil pelajaran serta fisik yang ingin segera mengamalkan Al Qur’an,” tandasnya.(ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.