Pengajian Islam Pertama di Pulau Eksotis Kambunong

Muhammad Bashori, wartawan gaek yang juga dai Hidayatullah di Sulbar

Muhammad Bashori, wartawan yang juga dai Hidayatullah di Sulbar

Dermaga utama menuju pulau yang berpenduduk Muslim 100% namun masih kurang pengajaran agama / BASHORI

Dermaga utama menuju pulau yang berpenduduk Muslim 100% namun masih kurang pengajaran agama / BASHORI

Salah satu sudut eksotis pemandangan Pulau Kambunong / BASHORI

Salah satu sudut eksotis pemandangan Pulau Kambunong / BASHORI

Sejumlah warga berbincang-bincang dengan di masjid / BASHORI

Sejumlah warga berbincang-bincang dengan di masjid usai acara penyerahan  walkaf Al Qur’an / BASHORI

Penyerahan wakaf Al Qur'an kepada masyarakat Pulau Kambunong / BASHORI

Penyerahan wakaf Al Qur’an kepada masyarakat Pulau Kambunong / BASHORI

Hidayatullah.or.id — Seorang ibu dengan bayi di gendongannya tiba-tiba berbisik kepada rekannya, “Bagus sekali caleg ini, tidak cuma janji tapi langsung membagi-bagikan al-Qur’an”.

Wanita yang dibisik spontan menyanggah lalu menjelaskan bahwa yang datang ini bukan orang yang sedang mencari simpatik untuk dipilih menjadi anggota dewan kehormatan.

Percakapan itu singkat sebelum Muhammad Syawal, imam di dusun Pulau Kambunong yang juga merupakan dai dari Hidayatullah akan membagikan al-Qur’an kerjasama Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) di Jakarta.

Begitulah, maklum H-8 menuju pesta demokrasi tepatnya tanggal 9 April nanti blusukan calon anggota dewan kehormatan di legislatif daerah berusaha meraup suara ke daerah-daerah termasuk ke Pulau Kambunong ini.

Tak terlalu berat medan untuk menjangkau pulau ini. Bergerak dari kota kabupaten Mamuju Tengah, Tobadak, cukup menghabiskan waktu sekitar 30 menit dan berhenti di pelabuhan lama Tobinta dan terlihat jelas hijaunya bukit di Pulau Kambunong.

Untuk menuju ke pulau ini hanya perlu menumpang perahu nelayan yang akan melaut. Transportasi utama ini jadi alternatif penyeberangan ke pulau yang berpenduduk 100% muslim ini.

Ditemani seorang jamaah asal dusun Muhajir, Mansaeni, kami memutuskan menumpang perahu seorang pemuda yang sedang mengantar keluarganya ke Tobinta. Setiba di dermaga Pulau Kambunong remaja itu dengan senyum tulusnya menolak untuk kami berikan upah.

Belakangan diketahui penduduk pulau yang didominasi suku Mandar-Mamuju ini Alhamdulillah belum banyak terkontaminasi oleh tradisi negatif dari luar.

Bangunan sederhana berkubah itu akan menyuguhi pandangan mata kita saat berjalan di atas dermaga. Sebanyak 80 kepala keluarga di sini hampir semuanya berprofesi sebagai nelayan, guru dan peternak kambing. Sebagian lagi petani rumput laut.

Mendapatkan al-Qur’an dan dibukanya pengajian bulanan di pulau yang dihuni sejak tahun 70-an ini adalah pertama kalinya terjadi. Wajar saja dalam waktu sekejap saja sudah terkumpul sekitar tiga puluhan warga.

“Pertama kalinya ada dai yang datang ke pulau ini, maklum dari beberapa dusun di desa Kambunong hanya di sini yang belum pernah ada pengajiannya,” papar Uwak, sapaan familiar pak imam pulau ini.

Sehingga disepekati setiap Jumat akhir bulannya akan diadakan pengajian rutin dengan fokus pada seputar aqidah dengan refrensi al-Qur’an yang didistribusikan YAWASH.

Kegembiraan juga dirasakan Hasbiana yang terpilih sebagai ketua Majelis Taklim Ar-Ridho, “Bagus (pengajian) ini kita biar makin tahu dan bisa mengamalkan agama kita sendiri,” kata Hasbiana diamani warga lainnya.

Pulau Kambunong yang elok itu dihuni warganya hampir di semua sisinya, namun yang terpadat adalah sisi timur yang menghadap ke jalur trans Sulawesi.

Beberapa kali sempat ada investor akan membeli sisi pulau ini untuk dijadikan resort karena memiliki view yang sangat menawan baik pada momen terbenamnya matahari (sunrise) dan juga eksotisme alamnya secara umum.

Sikap prevenif masyarakat pulai ini cukup bagus, pernah juga ada yang siap membeli dengan harga tinggi untuk pembangunan rumah ibadah agama lain tetapi dengan prinsip aqidah yang mereka tetap menolak tawaran yang menggiurkan itu.

Disadari akan dampak buruknya rencana itu terhadap generasi setelahnya, sang Imam di pulau dan dusun serta sesepuh pulau Kambunong menolak dengan tegas.

“Membangun saja susah kenapa justeru kami merusak (akhlak) anak-anak kami,” tegas Aldi warga pulau saat mengantar kami kembali ke Tobinta dengan perahunya.

________________________
Laporan Muhammad Bashori, wartawan Buletin Hidayatullah (Hidayatullah.or.id) di Sulawesi Barat

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.