Hidayatullah Malang Akomodir Siswi Muslim Bali Berhijab

Santri siswi putri SMP Ar Rohmah Hidayatullah Malang / IST

Santri siswi putri SMP Ar Rohmah Hidayatullah Malang / IST

Hidayatullah.or.id — Orang tua dan siswi Muslim di Provinsi Bali dilanda kekhawatiran menjelang tahun ajaran baru 2014/2015. Sebab, mereka belum memperoleh kepastian boleh tidaknya anak-anaknya berjilbab saat berada di sekolah.

SK Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 100 tahun 1991 tentang seragam yang juga membolehkan pemakaian jilbab, tak membuat mereka nyaman. Masih terjadi kasus pelarangan jilbab di puluhan sekolah.

Menurut Kepala SD Muhammadiyah 3 Denpasar, Mastulin banyak orang tua yang anaknya kini kelas enam, meminta saran kepadanya ke SMP mana mereka menyekolah anaknya. Mereka berharap agar kebebasan beragama anaknya tetap terjamin.

“Para wali murid itu menginginkan agar anak-anak mereka bisa tetap mengenakan jilbab, seperti saat bersekolah di SD Muhammadiyah,” kata Mastulin, kepada Republika, Ahad (6/4). Ia hanya bisa menyarankan agar siswi-siswi SD Muhammadiyah melanjutkan ke sekolah yang mengizinkan jilbab.

Sangat disayangkan kalau anak-anak yang sudah terpupuk akidah agamanya, harus membuka jilbabnya. Namun, ungkap Mastulin, sampai sekarang belum ada kepastian SMP dan SMA negeri mana saja yang membolehkan jilbab.

Mastulin mendorong para orang tua, menanyakan hal itu langsung ke sekolah-sekolah yang akan menjadi tempat belajar anaknya. Siswi SD Muhamadiyah 3 Denpasar, Fitratun Nisa kepada teman-temannya, mengaku bingung ke mana akan melanjutkan setelah tamat SD nanti.

Nisa bercita-cita meneruskan pendidikan ke pondok pesantren agar tetap berjilbab. Namun orang tuanya memintanya belajar di SMP negeri. Ia menegaskan keberatannya bila harus membuka jilbabnya saat bersekolah.

Siswi lainnya, Iman Hurun Ain, menyatakan bersyukur karena sudah diterima di SMP Islam Terpadu Ar-Rohmah Malang, Jawa Timur. Ia dan beberapa siswi SD Muhammadiyah 3 Denpasar lainnya yang diterima di sekolah milik Hidayatullah itu, tak lagi berpikir soal izin berjilbab. “SMP Ar-Rohmah memang mewajibkan santrinya mengenakan pakaian yang menutup aurat,” ujar Ain.

Meski putrinya, Manik Madini sudah belajar di SMAN 4 Denpasar, Asmudi juga tetap belum tenang. Sebab, hingga sekarang belum ada kejelasan dari sekolah itu mengenai jilbab. ‘’Sampai saat ini keinginan berjilbab belum kesampaian,’’ katanya.

Tak ada aturan yang menoleransi agar Manik dapat berjilbab. Padahal, Manik menjadi wakil SMAN 4 Denpasar dan meraih juara tiga dalam Olimpiade Biologi Nasional. Asmudi mengatakan hanya saat Ramadhan, yaitu acara buka puasa bersama dan tarawih, jilbab boleh dipakai.

Sekretaris Umum Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia, Bali Fatimah Azzahra terus mendorong siswi SMP dan SMA mengenakan jilbab ke sekolah. Untuk itu, PII melakukan pembinaan dan berdialog dengan sekolah dan dinas pendidikan di Bali. (rep/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.