Dakwah Pekerjaan Nomor Satu Bagi Orang Mengaku Beriman

Umat Islam berdakwah di mana saja untuk menyebarkan maslahat dan rahmat / NET

Umat Islam berdakwah di mana saja untuk menyebarkan maslahat dan rahmat / MUHAJIER

Hidayatullah.or.id — Bagi orang beriman, dakwah adalah pekerjaan nomor satu. Apapun profesi dan pekerjaan yang dilakoni oleh seorang Muslim, hendaknya spirit dakwah tersebut senantiasa ada dalam dirinya. Tak ada waktu dan kegiatan kecuali semuanya berorientasi dakwah.

Demikian penegasan yang mengemuka dalam acara Upgrading Da’i Hidayatullah yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) di Kota Pare-Pare, Sulsel, tengah April lalu.

Selain menyegarkan pentingnya dakwah sebagai lakon utama, kandidakt doktor di IIUM Malaysia, Nashirul Haq, mengingatkan pula agar setiap da’i agar bergerak dengan landasan “dakwah di atas bashirah”.

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini mengusung tema “Mengokohkan Dakwah Sebagai Mainstream Perjuangan”.

Nashirul Haq yang juga anggota Dewan Syura Hidayatullah, menjekaskan bahwa kata “bashirah” di sini mengandung makna yang sangat dalam. Terlebih kaitannya dengan pola gerakan dakwah umat Islam yang berbasis Manhaj Sitematika Nuzulnya Wahyu (SNW).

Pertama, terangnya, hendaknya bagi seorang dai memiliki ilmu dan keyakinan. Di sini, setiap dai dituntut agar selalu membekali diri dengan ilmu dan persiapan lainnya.

“Jangan cuma semangat saja, tapi dia sendiri tak mau belajar dan meningkatkan diri lagi,” ucap ustadz jebolan Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah ini.

Selain bekal ilmu, keberhasilan suatu dakwah juga ditentukan oleh keyakinan jiwa seorang dai. Dalam hal ini, para dai bisa meniru keyakinan para sahabat dan orang-orang shalih dalam berdakwah dahulu. Dengan keyakinan yang mantap seluruh sahabat tandang ke gelanggang untuk berdakwah. Tanpa peduli resiko dan benturan yang kelak mereka alami.

Menurut Nashirul, di masa awal pendirian Hidayatullah, dalam banyak kesempatan Allahu yarham Abdullah Said sangat gencar meniupkan ruh keyakinan dalam dakwah dan perjuangan ini.

“Jika kalian menolong agama Allah, Allah pasti menolong kalian pula. Pertolongan itu pasti datang, di manapun kalian berdakwah. Sebab Allah yang di Balikpapan sama dengan Allah yang di Papua,” ujar Nashirul meniru statement yang biasa disampaikan oleh pendiri Hidayatullah tersebut.

Bekal selanjutnya, lanjut beliau, adalah pola fikir dan pola gerak yang Qur’ani. Setiap dai juga dituntut menampilkan suri teladan yang baik. Hal itu terpancar dari tutur kata yang baik serta akhlak yang mulia. Boleh dikata, di antara faktor kegagalan dakwah hari ini adalah hilangnya keteladanan.

“Apa yang bisa diharap jika masyarakat hari ini lebih suka dengan dai-dai selebriti itu. Sama sekali tidak ada teladan yang bisa ditiru. Bahkan mungkin tidak ada ilmu kecuali guyonan semata,” terang salah satu Pembina Halaqah Tarbiyah Wilayah Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan ini.

Bagi pemilik iman yang benar, pantang orientasi dakwah mereka bergeser hanya gara-gara godaan materi dan dunia semata. Bagi mereka, cukuplah garansi yang dijanjikan oleh Allah dalam surah al-Qalam. “Tidaklah kalian itu gila disebabkan gara-gara menekuni dakwah dan perjuangan ini,” tegas Nashirul sambil mengutip ayat ke-3 dalam surah al-Qalam.

Seterusnya, seorang da’i tak bisa lepas dari penguatan jiwa dan ruhani. Kehidupan ini tak lain sebuah pertarungan abadi antara al-haq melawan al-bathil. Termasuk dalam urusan dakwah, hendaknya seorang dai selalu menyandarkan dan mengembalikan segala urusannya kepada Allah semata.
“Sesungguhnya kewajiban ini sangat berat bagi kita. Tapi apa boleh buat, inilah perintah dan jalan meraih kemuliaan tersebut,” papar Nashirul kembali.

Menurut pria murah senyum ini, dengan kesadaran seperti itu, seorang dai wajib menjaga asupan ruhaninya (I’dad Ruhiyah) sebagai kekuatan jiwa dalam berdakwah. Apa jadinya jika seseorang mengaku menyampaikan pencerahan kepada umat. Sedang ia sendiri jauh dari tilawah dan amalan al-Qur’an.

“Apa yang bisa diharap ketika orang itu mengaku sedang membina umat. Namun ia sendiri lalai menjaga ibadah dalam kesehariannya,” tegas Nashirul mewanti-wanti.

Dalam kesempatan tersebut tak lupa Nashirul mengingatkan kembali hakikat kemenangan dakwah. Ia bukanlah semata diukur dengan jumlah jamaah pengajian yang hadir. Bukan pula dilihat dari sorak sorai dan tepuk tangan jamaah, layaknya sedang menghadiri gelaran konser musik. Tapi kesuksesan dakwah itu diukur dari komitmen dan keistiqamahan dalam berdakwah.

“Apakah kita bersabar menjalani pekerjaan mulia ini atau tidak,” pungkas Nashirul yang diiringi oleh pekikan takbir dari peserta. */ Masykur Abu Jaulah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.