Muslimat Sebagai Pembina Tegaknya Peradaban Islam

Peserta dari Muslimat Hidayatullah dalam sebuah kegiatan Focus Group Discussion (FGD) d sela-sela acara Marhalah / MASYKUR

Peserta dari Muslimat Hidayatullah dalam sebuah kegiatan Focus Group Discussion (FGD) d sela-sela acara Marhalah / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Ibarat sebuah terminal pompa bensin (pom bensin), acara Training Marhalah hanyalah serpihan dari rutinitas dakwah yang ada. Bukan hendak menepi santai dari kewajiban dakwah. Justru hendaknya setiap da’iyah kian menyadari posisi strategis mereka dalam membina generasi dan umat menuju tegaknya peradaban Islam.

Diharapkan, para da’iyah mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal. Bekal itu bisa berupa ilmu, pengalaman, dan semangat dakwah. Tak kalah penting tentunya bekal ruhiyah dan spiritual, sebagai pondasi awal menegakkan amar makruf dan nahyu munkar terutama di lingkungan keluarga serta masyarakat.

Demikian harapan besar dari Perhelatan Training Marhalah yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kalimantan Timur (Kaltim). Acara yang berlangsung selama tiga hari ini (18-20 April 2014) ini diadakan di Aula Asrama Haji Batakan, Batakan.

Oleh panitia, kegiatan training lalu dibagi menjadi dua bagian, Training Marhalah Ula (Tingkatan Awal) dan Training Marhalah Wustha (Tingkatan Menengah).

Acara Training Marhalah secara resmi dibuka oleh Hj. Aida Chered, istri dari pendiri Pesantren Hidayatullah, Allahuyarham Abdullah Said. Dalam catatan panitia, Marhalah Ula diikuti oleh 29 daiyah.

Sedang untuk Marhalah Wustha diikuti oleh 26 orang da’iyah yang tersebar di beberapa titik dakwah di Kaltim. Mulai dari Balikpapan, Samarinda, Bontang, hingga pelosok Batu Kajang Penajam Paser Utara (PPU). Turut hadir pula beberapa da’iyah dari Melak, Kutai Barat. Sebuah titik dakwah yang hingga kini masih banyak didiami oleh penduduk asli Suku Dayak.

Untuk penguatan materi, Training Marhalah yang bertajuk “Membangun Profil Keluarga Qur’ani Menuju Peradaban Islam” ini juga menghadirkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pimpinan Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) Ir. Amalia Husna Bahar dan beberapa instruktur nasional seperti Hani Akbar, Sulmiati Shaleh, Anshor Amiruddin, dan Anwari Hambali.

Dalam materi “Islam dan Benturan Peradaban”, Sulmiati Shaleh secara lugas menerangkan akan konsekuensi iman di tengah pergumulan budaya hari ini. Iman itu ada jika terasa dalam seluruh aspek kehidupan orang beriman.

Dikatakan Sulmiati, bagi setiap Muslim, iman itu menjadi standar pembeda dengan yang lain.

“Tak usah ada yang merasa berjuang jika orang itu tak pernah merasakan benturan keimanan dalam hidupnya,” ucap Sulmiati membakar semangat para peserta training.

Sumiati menegaskan, benturan itu pasti ada. Ia bahkan mempertanyakan jika iman seseorang tidak pernah diuji dan bergolak.

“Hakikat kehidupan manusia adalah benturan dan pertarungan abadi. Antara al-haq melawan al-bathil,” terang da’iyah yang juga dikenal sebagai pakar parenting tersebut.

Menurut Sulmi, demikian panggilan akrabnya, untuk itu setiap diri hendaknya selalu mengoreksi diri. Benarkah ia termasuk dalam barisan penegak kebenaran. Sebab pilihan itu hanya menyisakan dua opsi. Berdakwah menegakkan kebenaran atau sebaliknya, bergabung dalam orang-orang yang mengusung keburukan dan kemaksiatan.

Training Marhalah ini ditutup secara terpisah. Untuk Marhalah Ula, ditutup oleh Hani Akbar, Pembina Muslimah Hidayatullah Kampus Gunung Tembak. Selanjutnya dalam kesempatan berbeda, Sekjen PP Mushida, Amalia Husna berkenan menutup rangkaian kegiatan Marhalah Wustha.

“Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkan dan mendakwahkan ilmu yang kami dapatkan ini,” ucap Syarifa Annisa, da’iyah dari PPU mewakili harapan peserta yang lain. */ Masykur Abu Jaulah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.