Jangan Sepelekan Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga

Sejumlah muslimah peserta workshop yang memadati ruangan / MASYKUR

Sejumlah muslimah peserta workshop yang memadati ruangan / MASYKUR

Ustadz Zainuddin Musaddad (koko putih) saat hadir di Kampus Pesantren Hidayatullah Luwu Utara, Sulsel / MASYKUR

Ustadz Zainuddin Musaddad (koko putih) saat hadir di Kampus Pesantren Hidayatullah Luwu Utara, Sulsel / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Salah satu faktor keberhasilan hidup seseorang adalah komunikasi yang baik. Dengannya orang itu bisa menjalin hubungan dengan siapa saja tanpa perlu menimbulkan masalah.

Terlebih ketika berbicara tentang urusan dakwah dan keluarga, sebagai sesuatu yang tak terpisahkan bagi orang-orang beriman. Dakwah itu akan “mengena” ketika apa yang disampaikan dan kebaikan yang ditawarkan mampu dipahami dan diikuti dengan baik oleh orang lain.

Demikian intisari acara Seminar dan Workshop Parenting yang diadakan oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Muslimat Hidayatullah (Mushida) Luwu Utara, Sulsel, belum lama ini (26-27 April).

“Termasuk dalam hubungan sesama anggota keluarga, sudah jadi rahasia umum jika beberapa keretakan keluarga itu bermula dari komunikasi yang buruk di antara mereka,” kata Zainuddin Musaddad, selaku pemateri dalam seminar yang bertajuk “Membangun Komunikasi Produktif dalam Keluarga” itu.

Zainuddin menerangkan tinta emas sejarah menoreh nyata, tak sedikit dakwah yang dilakoni oleh Nabi Muhammad justru memesona para sahabat dengan ucapan yang santun dan akhlak yang mulia. Bukan semata mengandalkan retorika dakwah layaknya seorang orator ulung dan muballigh kondang pada umumnya.

“Inilah soalan penting yang hendaknya selalu disegarkan oleh para juru dakwah,” jelas Zainuddin Musaddad.

Zainuddin menegaskan bahwa bagi seorang pendakwah tak cukup berbekal hanya materi ceramah yang bagus lalu seorang dai melalaikan metode penyampaian yang santun dan akhlak yang mulia.

Dalam acara yang berlangsung di Kampus Hidayatullah Bunga Didi, Luwu Utara itu, Ustadz Zain, demikian panggilan akrabnya, juga mengingatkan ajaran Nabi tersebut dalam hal interaksi dalam sebuah keluarga.

Menurut Zainuddin, komunikasi yang sehat dan produktif itu tidak hanya sebatas bertukar sapa dan saling bertanya kabar dalam sebuah keluarga. Sebab komunikasi itu juga bisa berfungsi untuk menguatkan jiwa-jiwa yang ada dalam keluarga tersebut.

Maka tak heran, lanjut dia, banyak ulama-ulama besar dan tokoh pemimpin yang lahir dari pola didikan komunikasi yang produktif dalam rumah. Uniknya, terkadang para juru dakwah pun tak luput dari kelalaian itu sendiri.

Menurut Zainuddin, hal itu biasa disebabkan oleh kesibukan dakwah dan mengajar yang begitu tinggi. Hingga akhirnya lupa atau lalai dengan diri dan keluarga sendiri.

“Ini sangat fatal, jika itu betul-betul terjadi,” tegas ustadz yang dikenal suka main badminton bersama menantunya tersebut.

Zain mengatakan, jangan sampai ada yang berdalih gara-gara sibuk mengajar atau berdakwah hingga anak sendiri tak pernah disapa atau buta terhadap perkembangan anak-anaknya.

Masih menurut Zainuddin, sebenarnya faktor inilah yang hilang di tengah keluarga Muslim saat sekarang. Komunikasi dalam keluarga berjalan apa adanya. Tanpa pernah ada rekayasa komunikasi yang didesain sebagai bentuk pembelajaran terhadap anak-anak.

Dalam kesempatan tersebut, Zainuddin memaparkan panjang lebar dampak dari buruknya sebuah komunikasi dalam keluarga Muslim. Selain bisa menjadikan hubungan renggang, hal itu juga menyebabkan anak-anak kehilangan figur yang bisa diteladani oleh mereka.

Akibatnya, alih-alih berbagi masalah dan persoalan kepada orangtuanya, anak-anak tersebut seringkali lebih memilih melampiaskan masalahnya kepada apa yang ia senangi. Tanpa peduli lagi baik atau buruk perbuatan tersebut.

“Lihatlah anak-anak pecandu narkoba tersebut. Sebenarnya semua itu hanyalah pelampiasan sesaat atas buruknya komunikasi dalam kelurga sebelumnya,” papar Zainuddin.

Selain menampilkan pemateri Ustadz Zain dari Balikpapan, kegiatan yang direncanakan digelar secara berkala itu juga menyajikan dua pembicara berikutnya. Yaitu Sulmiati Shaleh yang mengampu materi “Ibu adalah Madrasah Pertama” dan Hani Akbar yang tampil dengan tema “Character Building dengan nilai-nilai Sitematika Nuzul Wahyu (SNW)”.

Kedua pemateri terakhir tak lain adalah instruktur nasional Pimpinan Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) sekaligus Dewan Pembina ibu-ibu warga yang berdomisili di Hidayatullah Kampus Gunung Tembak, Balikpapan.

Acara Workshop Parenting ini ditutup oleh Kaisar, Ketua Departemen Pendidikan PW Hidayatullah Sulsel. Dalam sambutan penutupnya, Kaisar berharap semoga para peserta benar-benar menyerap seluruh ilmu yang disajikan oleh pemateri.

Rupanya, menurut Kaisar, masih terlalu banyak yang perlu kita benahi untuk sebuah cita-cita besar membangun peradaban Islam ini.

“Terkadang kita anggap sepele urusan-urusan itu, namun ternyata dampaknya sangat besar,” Ucap Kaisar mengakui. */ Masykur Abu Jaulah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.