Pesantren Harus Mendukung Santrinya Aktif Menulis

Kru Majalah Hidayatullah saat mengisi kegiatan Madrasa Jurnalistik di Brebes / SKR

Kru Majalah Hidayatullah saat mengisi kegiatan Madrasa Jurnalistik di Brebes / SKR

Hidayatullah.or.id — Banyak cara untuk jadi wartawan atau penulis, termasuk bagi para santri. Salah satunya seperti yang diungkapkan Pemimpin Redaksi (Pemred) Kelompok Media Hidayatullah (KMH) Mahladi. Mau tahu?

Mahladi mengungkap, setiap pesantren sebaiknya membuat situs internet (website) internal. Lalu menggalakkan tulis-menulis di kalangan santri dan ustadz. Tulisan mereka nantinya ditayangkan di website tersebut.

Pesan ini disampaikannya saat mengunjungi Yayasan An-Nasr Hidayatullah Brebes, Desa Kalibuntu, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kamis (22/05/2014).

Selain itu, ungkap Mahladi, pesantren juga perlu menerbitkan media cetak seperti buletin. Atau memanfaatkan jejaring sosial seperti Facebook.

“Kita perlu media untuk mempublikasikan tulisan kita. Kita kalau sudah menulis, kalau tidak ada media biasanya cepat bosan (menulis),” ujarnya, sebagai pengisi pelatihan jurnalistik yang diikuti puluhan santri se-Cirebon (Jawa Barat), Brebes, dan Tegal.

Kemudian, untuk semakin membuka peluang jadi wartawan, Mahladi berpesan, penulis harus rajin mengirim tulisannya ke media massa.

Semua itu harus dimulai dengan langkah awal, yaitu menumbuhkan minat menulis, kata Mahladi. Hal ini, menurutnya, perlu agak dipaksakan.

Lalu, langkah selanjutnya, “Adakan pelatihan jurnalistik untuk semua warga sekampus (pesantren),” ujarnya.

Jika rangkaian itu telah dilalui, dia meyakini akan lahir penulis-penulis pilihan. Orang pilihan itulah yang diyakininya kelak bisa dilirik media massa untuk dijadikan koresponden di daerah.

“Kalau sudah jadi koresponden, akan terkait reportase. Itulah jurnalistik,” ujarnya.

-Dakwah Bil Qalam-

Mahladi menjelaskan, tulis-menulis sangat berperan dalam dakwah pesantren. Sebab dakwah bisa lewat tulisan, disebut “dakwah bil qalam (dengan pena)”. Para dai pun disarankan agar pandai menulis.

“Selain berkomunikasi (kepada umat) secara lisan di atas mimbar, tapi juga berkomunikasi di atas kertas,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa pengaruh tulisan di media luar biasa.

“Dakwah itu mengajak, dakwah lewat tulisan juga begitu. Mengajak orang lewat tulisan. Sangat erat sebenarnya dakwah dengan tulisan,” lanjutnya.

Mahladi menjelaskan, dakwah bertujuan mempengaruhi orang lain. Maka tujuan dakwah dengan tulisan juga begitu.

Bagaimana cara mempengaruhi orang lewat tulisan? Menurut Mahladi, sebuah tulisan harus berbobot informasinya dan menarik susunan tata bahasanya.

Hal senada disampaikan Pembicara lainnya, Dadang Kusmayadi, Pemred majalah Suara Hidayatullah. Dia mengungkap, para ulama terdahulu banyak yang berdedikasi dengan “dakwah bil qalam”.

Bahkan, katanya, dalam penjara pun ada ulama yang tetap menulis. Disebutlah Sayyid Quthb, ahli tafsir dari Mesir sebagai contohnya.

“Dalam rangka apa (menulis)? Dalam rangka ‘amar ma’ruf nahi mungkar’,” ujarnya.

Contoh lainnya, sebut Dadang, adalah pendiri Persatuan Islam (Persis), A Hassan. Tokoh ini melawan tulisan Presiden Soekarno yang mengagumi pemikiran Mustafa Kemal Atatürk soal sekularisme di Turki. A Hasan, ujar Dadang, rajin membantah tulisan Soekarno juga dengan tulisan di media yang sama kala itu.

“Sekarang banyak komunitas penulis. Ada ibu-ibu doyan menulis, anggotanya dua ribuan yang aktif lewat email, Facebook,” pungkasnya.* (Skr Aljihad)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.